Berbakti pada orang tua adalah wasiat Al-quran. Allah Swt berfirman dalam surah Al-Isra ayat ke 17 yang berbunyi :

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka  perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah : ‘Wahai Tuhanku, kasihanilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”

Berbakti pada orang tua memanglah kewajiban setiap anak, tapi perlu juga diingat agar anak berbakti pada orang tua sang anak perlu dididik. Inilah salah satu tugas dari setiap orang tua mendidik anaknya agar berbakti padanya nanti.

Masih tentang berbakti pada orang tua Allah Swt juga mengingatkan kita dalam surah Al-Ankabut ayat 8 yang berbunyi :

“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapakna. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukannya Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”

Dalam surah Luqman ayat 14 hingga 15 Allah Swt juga mengingatkan kita agar berbakti pada orang tua.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Ku-lah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”

Rasulullah Saw juga mengajarkan kepada kita cara mendidik anak agar berbakti pada orang tuanya adalah dengan memberikan contoh berbakti kepada orang tua.

Diriwayatkan oleh al-Hakim dari Abu Hurairah ra :

Bahwasanya Rasulullah Saw bersabda, “Jagalah kehormatan istri orang lain, niscaya istri kalian terjaga kehormatannya. Berbaktilah kepada orang tua kalian, niscaya anak-anak kalian berbakti kepada kalian. Barang siapa yang didatangi oleh saudaranya untuk meminta maaf, hendaknya diterima, baik di benar maupun salah. Apabila tidak melakukannya, niscaya tidak akan mendatangiku di danauku.”

Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dengan sanad hasan dari Ibnu Umar Ra :

“Berbaktilah kepada orang tua kalian, niscaya anak-anak kalian berbakti kepada kalian. Jagalah kehormatan istri orang lain, niscaya istri kalian terjaga kehormatannya.”

Inilah kunci utama dari mendidik anak agar berbakti pada orang tuanya, anak akan selalu melakukan apa yang dilihatnya. Jika anak melihat orang tua sendiri durhaka pada kakek neneknya tentu anak-anaknya akan mengikuti itu. Begitu juga saat anak melihat orang tuanya berbakti pada kakek-neneknya tentu anak akan mencontohnya.

Ini adalah sunnatullah dari Allah Swt, bagaimana kita memperlakukan seperti itu juga kita akan diperlakukan. Rasulullah Saw bersabda akan hal ini :

“Berbuatlah sesukamu, karena sebagaimana engkau berprilaku demikian juga engkau diperlakukan”

Kebaikan berbakti pada orang tua dirasakan di dunia dan akhirat

Dampak dari berbakti pada orang tua begitu besar dalam kehidupan manusia baik di dunia dan akhirat. Oleh sebab itu, Rasulullah Saw menunjukkan perilaku dan sikap apa saja yang disbeut berbakti serta pengaruhnya dalam kehidupan seorang muslim.

Rasulullah Saw menegaskan bahwa berbakti merupakan kewjaiban atas setiap orang, bukan sekedar anjuran yang apabila ditinggalkan tidak berdosa. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Kulaib bin Manfa’ah, dari kakeknya :

Bahwasanya dia menghadap Rasulullah Saw dan bertanya, “Wahai Rasulullah, kepada siapa aku berbakti ?” Beliau menjawab, “Kepada ibumu, bapakmu, saudara perempuanmu, saudara laki-lakimu dan walimu yang mewakili semua itu, sebagai suatu hak yang wajib (dilaksanakan) dan tali silaturahmi yang tersambung.”

Diriwayatkan oleh al-Miqdam bin Ma’dikarib, bahwa Nabi Saw bersabda:

“Sesungguhnya Allah mewasiatkan agar kalian berbakti kepada ibu kalian…Sesungguhnya Allah mewasiatkan agar kalian berbakti kepada ibu kalian..Sesungguhnya Allah mewasiatkan agar kalian berbakti kepada ibu kalian…Sesungguhnya Allah mewasiatkan agar kalian berbakti pada bapak kalian….Sesungguhnya Allah mewasiatkan agar kalian berbakti kepada seluruh kerabat kalian dengan mendahulukan yang terdekat.”

Dalam riwayat lain yang disampaikan oleh Ibnu Majah dari Hadis Abdullah bin ‘Ayyasy. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abu Umamah Ra :

“Bahwasanya ada seseorang yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa hak kedua orangtua atas anaknya?” Beliau menjawab, “Mereka berdua adalah surga sekaligus neraka bagimu”

Begitu hadis Nabi yang mengingatkan kita berlaku baik dan memperlakukan orang tua kita dengan baik. Ini adalah kunci sukses dunia dan akhirat. Ridha Allah Swt ada pada ridho orang tua.

Tentu akan menjadi kebahagiaan tersendiri bagi setiap orang tua saat mendapati anaknya yang baik hati dan berbakti padanya. Untuk itu mari kita didik anak-anak kita berbakti pada orang tua dengan memberikan contoh serta keteladanan dalam berbakti pada orang tua kita.

Jika orang tua kita masih hidup perlakukanlah orang tua kita dengan sebaik-baiknya, berikan kasih sayang pada mereka di hari tuanya. Ajak anak-anak kita untuk hormat, berbakti dan memperlakukan kakek-neneknya dengan penuh kasih sayang.

Rasulullah Saw mengabarkan berbakti pada orang tua akan memperoleh kebaikan di dunia dan juga akhirat. Untuk kebaikan dunia Imam Ahmad dari Anas Ra meriwayatkan :

Rasulullah Saw bersabda, “Barang siapa yang suka untuk dipanjangkan usianya dan ditambahkan rezekinya, hendaknya berbakti kepada orang tuanya dan menyambung tali persaudaraan”

Sementara untuk akhirat kebaikan dari berbakti pada orang tua dapat menghapus dosa di dunia. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari Ibnu Umar ra:

“Bahwasanya ada seseorang yang menghadap Nabi Saw dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah melakukan dosa besar. Apakah ada tobat untukku?” Rasulullah Saw bertanya, “Apakah engkau masih memiliki ibu?” Dia menjawab, “Tidak” Beliau bertanya, “Apakah engkau masih memiliki bibi?” Dia menjawab, “Ya” Beliau bersabda, “Berbaktilah kepadanya.”

Dan selanjutnya Rasulullah juga mengabarkan berita gembira, orang yang berbakti pada orang tuanya akan masuk surga.

Diriwayatkan oleh an-Nasa’i dari Aisyah ra :

Nabi Saw bersabda, “Aku masuk surga dan aku dengar di sana bacaan (al-Qur’an).” Aku tanyakan : “(Bacaan) siapa ini?” Dijawab, “Haritsah bin Nu’man” Rasulullah Saw bersabda, “Demikianlah berbakti (kepada orang tua).” Dia Haritsah adalah orang yang berbakti kepada ibunya.

Dalam riwayat Ahmad disebutkan dengan lafal :

“Dia adalah orang yang berbakti pada ibunya.” Sanadnya Shahih.

Tidak ada kerugian dari berbakti pada orang tua, kebaikannya akan didapatkan dirasakan baik dunia maupun akhirat.

Mendahulukan berbakti pada Orangtua

Berbakti kepada orangtua adalah kewajiban atas setiap muslim, sama wajibnya dengan shalat fardhu, puasa Ramadhan, zakat, dan berjihad di jalan Allah dalam situasi wajib ‘ain. Imam al-Ghazali mengakatakan, “Mayoritas ulama berpendapat bahwa ketaatan kepada kedua orang tua hukumnya wajib ketika ada syubhat.”

Mendahulukan berbakti pada orang tua mesti didahulukan dibandingkan berjihad di jalan Allah. Sebagaimana dalam shahih Bukhari dan Shahih dari Abdullah bin Mas’ud ra ia berkata :

Aku bertanya kepada Nabi Saw, “Amalan apa yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Shalat tepat pada waktunya.” Aku bertanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Berbakti kepada kedua orangtua” Aku bertanya lagi, “Kemudian apa?” beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah.”

Selanjutnya adalah mendahulukan berbakti pada orang tua dibandingkan istri dan teman-teman. Sebagaimana diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari Ali, ia berkata :

Rasulullah Saw bersabda, “Apabila umatku melakukan lima belas perkara, maka mereka akan mendapatkan bencana…Seseorang taat kepada istrinya dan durhaka kepada ibunya, berbakti pada temannya dan jahat terhadap bapaknya….”

Dalam riwayat lain yang disampaikan oleh Imam Ahmad dan an-Nasa’i dari Aisyah ra bahwa ia berkata :

“Aku bertanya kepada Nabi Muhammad Saw, “Siapa orang yang memiliki hak paling besar terhadap seorang wanita?” Beliau menjawab, “Suaminya.” Aku bertanya lagi, “Kalau laki-laki?” Beliau menjawab “Ibunya.”

Mendahulukan berbakti kepada kedua orang tua dibandingkan beribadah haji. Dalam Shahih bukhari dan Shahih muslim dari Abu Hurairah ra :

Rasulullah Saw bersabda, “Untuk seorang budak sahaya yang saleh ada dua pahala.” Demi Dzat yang jiwa Abu Hurairah berada di tangan-Nya, kalau bukan karena jihad di jalan Allah, ibadah haji dan berbakti kepada ibuku, tentu aku ingin meninggal dalam keadaan budak sebagai budak sahaya.” Perawi mengatakan, “Kami dengar bahwa Abu Hurairah tidak melaksanakan ibadah haji karena mengurus ibunya sampai meninggal dunia.”

Mendahulukan berbakti dibandingkan mengunjungi Rasulullah Saw . Diriwayatkan oleh Muslim dari Usaid bin Jabir rahimahullah berkata bahwa kafilah dagang Yaman tiba, Umar bin Khaththab bertanya kepada mereka, “Di antara kalian ada orang yang bernama Uwais bin Amir?” Sampai ketika Umar berhadapan lansung dengannya, Umar bertanya, “apakah engkau Uwais?” Orang itu menjawab, “Benar” Dia bertanya lagi, “Dari Murad kemudian dari Qarn” Uwais menjawab, “Ya.” Dia bertanya lagi, “Dulunya engkau belang, kemudian engkau sembuh dan hanya tersisa sebesar satu keping dirham?” Uwais menjawab, “Benar” Dia bertanya lagi, “Engkau memiliki ibu?” Uwais menjawab, “Benar” Umar berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda :

“Akan datang kepada kalian Uwais bin Amir bersama kafilah dagang yaman, dari Murad kemudian dari Qarn. Dia pernah memiliki penyakit belang. Kemudian sembuh dan hanya tersisa sebesar satu keping dirham. Dia memiliki ibu. Dia sangat berbakti kepada ibunya. Apabila dia bersumpah atas nama Allah, pasti Allah mengabulkannya. Apabila engkau bisa meminta dia untuk memohonkan ampun untukmu, maka lakukanlah.”

“Oleh karena itu, mohonkanlah ampun untukku.” Maka, Uwais memohonkan ampun untuknya. Umar berkata kepadanya, “Ke mana engkau hendak pergi?” Dia menjawab, “Kufah.” Umar bertanya, “Maukah aku sertakan surat rekomendasi untukmu kepada gubernurnya (agar menjamumu)?” Dia menjawab, “Berada di tengah kafilah lebih aku sukai”

Pada tahun berikutnya, salah seorang pembesar mereka melakukan perjalanan haji. Di sana dia bertemu dengan Umar yang kemudian menanyainya tentang Uwais. Dia menjawab, “Aku tinggalkan karena rumahnya kumuh dan hartanya sedikit” Umar berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda : “Akan datang kepada kalian Uwais bin Amir bersama kafilah dagang Yaman, dari Murad kemudian dari Qarn. Dia pernah memiliki penyakit belang . Kemudian sembuh dan hanya tersisa sebesar satu keping dirham. Dia memiliki ibu. Dia sangat berbakti kepada ibunya. Apabila dia bersumpah atas nama Allah, pasti Allah mengabulkannya. Apabila engkau bisa meminta dia untuk memohonkan ampun untukmu, maka lakukanlah.”

Sepulangnya dari Ibadah Haji, dia lansung menemui Uwais dan berkata kepadanya, “Mohonkanlah ampun untukku.” Kemudian Uwais menjawab, “Engkau baru saja melakukan perjalanan kesalehan. Engkaulah yang seharusnya memohonkan ampun untukku.” Kemudian Uwais bertanya, “Apakah engkau bertemu Umar?” Dia menjawab, “Benar” Maka, Uwais memohonkan ampun untuknya. Orang-orang pun mengetahui peristiwa tersebut. Dia pun pergi meninggalkan mereka.

Usaid berkata, “Pakaiannya adalah Burdah. Setiap orang melihatnya, sellau bertanya, “Dari mana Uwais memiliki pakaian Burdah itu?”

Mendahulukan berbakti pada kepada kedua orangtua dibandingkan anak-anak .Rasulullah Saw mengingatkan kita agar mendahulukan berbakti kepada orangtua dibandingkan anak-anak.

Mendahulukan berbakti kepada ibu juga mesti didahulukan dibandingkan beribadah sunnah. Sebagaimana Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dengan lafal Muslim dari Abu Hurairah ra yang diriwayatkan secara marfu’:

Juraij adalah seorang yang banyak beribadah. Dia mendirikan kuil dan menetap di sana. Ibunya datang dan memanggilnya, “Hai Juraij.” Dia berkata, “Ya Allah, Ibuku dan shalatnya. Setelah tiga hari dan sang ibu sudah memanggilnya sebanyak tiga kali, sang ibu berdo’a, “Ya Allah, jangan engkau matikan dia sampai Engkau menghinakannya dengan wanita-wanita yang bejat.”

Bani Israil membicarakan Juraij dan ibadahnya. Ada seorang perempuan pelacur yang cukup cantik. Dia katakan, “Kalau kalian mau, aku bisa merusak nama baiknya.” Dia pun menemui dan menggoda Juraij, namun Juraij tidak menghiraukannya sedikit pun. Perempuan itu kemudian mendatangi seorang penggembala kambing di dekat kuil tersebut dan menggodanya. Si penggembala tergoda dan melakukan hubungan intim dengannya. Dari hubungan itu, si perempuan mengandung. Setelah anaknya lahir, dia katakan, “Ini dari Juraij”. Mereka pun mendatanginya, menyeretnya keluar dari kuil, kemudian menghancurkan kuil itu dan memukulinya.

Dia (Juraij) bertanya, “Ada apa dengan kalian ?” Mereka menjawab, “Engkau telah berzina dengan perempuan pelacur ini sehingga dia melahirkan anakmu!” Juraij lalu mendatangi bayi itu dan menekan perutnya dengan jari sambil bertanya, “Hai bayi, siapa bapakmu?” Si bayi menjawab, “Si fulan penggembala.” Mereka pun segera menghampiri Juraij, menciuminya dan memeluknya. Mereka katakan, “Akan kami bangun kembali kuilmu dari emas.” Juraij menjawab, “Tidak perlu. Bangunlah kembali dengan batu bata seperti sebelumnya.” Mereka pun melakukannya.

Dan yang terakhir adalah mendahulukan berbakti kepada orang tua dibandingkan berhijrah di jalan-Nya. Sebagaimana diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr ra :

“Seseorang menghadap Nabi Saw dan berkata, “Sesungguhnya aku datang berbai’at kepadamu untuk hijrah dan aku meninggalkan kedua orangtuaku dalam keadaan menangis.” Beliau bersabda, “Pulanglah dan buatlah mereka berdua tertawa seperti engkau telah membuat mereka menangis.”

Sejatinya menjadi anak yang berbakti pada orang tua adalah sebuah pilihan hidup yang InsyaAllah akan membahagiakan kita baik di dunia maupun akhirat. Tapi sayangnya banyak yang memilih hal ini. Banyak yang menelantarkan orang tuanya, mengabaikan orang tuanya dan juga melupakan kebaikan orang tuanya. Kewajiban berbakti pada orang tua berlaku bagi setiap anak meskipun dia tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya semenjak kecil. Berbakti pada orang tua bukan hanya tentang balas budi kebaikan orang tua saja, tapi adalah kewajiban bagi setiap muslim yang diperintahkan lansung oleh Allah Swt dan Rasulullah Saw.

Baca juga : 6 Cara membalas budi orang tua

Buku referensi :

  1. Buku Prophetic parenting
  2. Buku Islamic parenting

Artikel Menarik Lainnya







comments