Parenting nabawiyah (mendidik anak dengan cara nabi) bisa diaplikasikan secara bertahap pada anak semenjak mulai dari memilih calon ibu, masa kehamilan, kelahiran, usia 0-3 tahun dan seterusnya. Pada tulisan kali ini kami hadirkan seputar mendidik anak cara Nabi saat anak berusia 0 – 3 tahun.

Mendidik Bayi pada hari pertama kelahiran

Pada hari pertama kelahiran banyak sunnah yang perlu dilakukan oleh orang tua pada anaknya seperti mendengarkan azan atau iqomah, mentahnik dengan kurma, aqiqah, mencukur rambut, dan khitan. Yang mana hal detail seputar ini telah kita bahas dalam tulisan menyambut kelahiran sang buah hati.

Berhak menerima harta waris

Abu Hurairah r.a dari Nabi Muhammad Saw, beliau bersabda :

“Apabila bayi telah dilahirkan, maka dia berhak menerima warisan.”

Diriwayatkan oleh Abu Dawud.

Dari Sa’id bin Musayyib dari Jabir bin Abdillah dan al-Miswar bin Makhramah :

Rasulullah Saw bersabda, “Seorang bayi tidak akan mendapat warisan sampai dia mengeluarkan suara, yaitu berteriak, bersendawa atau menangis.

Dalam kitab Syarhus sunnah disebutkan, “Apabila seseorang meninggal dunia, sementara salah seorang ahli warisnya dalam bentuk janin, maka warisannya harus menunggu untuk dibagi. Apabila dilahirkan dalam keadaan hidup , maka si bayi mendapat warisan. Apabila si bayi dilahirkan dalam keadaan mati, maka warisannya dibagikan untuk ahli waris yang lain. Apabila dilahirkan dalam keadaan hidup namun sesaat kemudian mati, maka si bayi mendapatkan warisan, baik sudah mengeluarkan suara atau belum, selama terdapat tanda-tanda kehidupan padanya seperti sendawa, napas, atau gerakan yang menjadi bukti bahwa bayi tersebut pernah hidup.”

Menyusui dan menyapih bayi

Salah satu kewajiban seorang istri dalam kehidupan rumah tangga adalah menyusui bayi yang dilahirkannya. Tidak hanya memberikan susu tetapi juga memastikan si bayi mendapatkan kehangatan dari tubuh ibunya, mendapatkan tatapan dan elusan penuh kasih sayang saat bayi mendekap di dada ibu. Dari aktivitas menyusui inilah bayi merasakan kebahagiaan serta mendapatkan asupan gizi dari air susu ibunya.

Menyusui adalah bagian dari syariat Islam, Allah Swt sendiri yang lansung memerintahkan untuk para ibu agar menyusui anaknya sebagaimana firman-Nya dalam surah Al-Baqarah ayat 233 :

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan”

Berbagai penelitian di bidang ilmu kedokteran dan ilmu kejiwaan di zaman sekarang menghasilkan kesimpulan bahwa masa dua tahun ini adalah masa yang sangat penting agar si bayi dapat tumbuh dengan sempurna dari segi kesehatan dan kejiwaannya. Kenikmatan Allah tidak pernah meninggalkan umat Islam sampai mereka mengetahuinya dari berbagai percobaan tersebut. Pengetahuan tentang dunia bayi tidak boleh ditinggalkan begitu saja dimakan kebodohan. Sepanjang masa, Allah selalu menyayangi para hamba-Nya terlebih lagi para bayi lemah yang membutuhkan kasih sayang dan penjagaan tersebut. (Tafsir fi zhilalil Qur’an)

Ibnu sina salah seorang tokoh kesehatan muslim pentingnya seorang bayi minum air susu ibu. Ibnu sina mengatakan, “Harus minum air susu ibu sebanyak mungkin. Sebab, dalam dalam mengulum puting susu ibu terdapat manfaat yang sangat besar sekali dalam mencegah apa yang membawa mudharat baginya.”

Dokter al-Baladi juga berpendapat tentang air susu ibu, “ASI lebih cocok untuk semua byi dibandingkan dengan susu yang lain selama sang ibu tidak sakit atau ada penyebab lain yang dapat merusak kualitas air susunya.”

Beliau juga menambahkan bahwa dalam ASI terdapat , “Keselamatan, manfaat dan menjaga kesehatan bagi ibu dan anak.”

Kedokteran modern zaman sekarang juga menetapkan bahwa menyusui bermanfaat bagi si ibu agar terhindar dari berbagai macam penyakit diantaranya kanker payudara.

ASI adalah asupan terbaik untuk sang bayi sejak ia dilahirkan hingga disapih. Ada banyak sekali hikmah dan kebaikan di balik aktivitas menyusui ini sebagaimana disebutkan oleh para dokter antara lain :

  1. ASI adalah susu yang sangat bersih dan higienis
  2. ASI mampu menyempurnakan pertumbuhan sehingga bayi yang menerima ASI ekslusif akan minim dari penyakit dan cerdas.
  3. ASI memperindah kulit, gigi, dan bentuk rahang bayi.
  4. Apabila bayi diberikan ASI ekslusif dipercaya akan jarang terkena diare, sembelit, dan alergi.
  5. ASI ekslusif dipercayai sebagai sumber paling efektif untuk mencegah kematian bayi karena bayi yang di bawah usia 2 bulan apabila tidak disusui adalah enam kali lebih mungkin untuk meninggal yang diakibatkan oleh diare atau infeksi saluran pernapasan akut daripada bayi yang menerima ASI.
  6. ASI mengoptimalkan perkembangan fisik dan mental anak. Bayu dengan konsumsi ASI yang cukup menunjukkan perkembangan IQ yang lebih tinggi daripada anak-anak yang tidak menerima ASI ekslusif. Nutrisi yang cukup adalah kunci utama untuk kesehatan, pertumbuhan, dan perkembangan bayi.
  7. Tidak dingin juga tidak panas
  8. Selalu ada setiap hari
  9. Tidak rusak karena disimpan
  10. Sesuai dengan lambung bayi
  11. Memenuhi segala kebutuhan gizi bayi
  12. Membentuk sistem imun bagi bayi dalam melawan kuman penyakit
  13. Minum susu lansung dari payudara ibu mencegah obesitas bagi ibu dan anak
  14. Minum susu lansung dari payudara ibu menimbulkan kasih sayang dan memperkuat ikatan ibu dengan anaknya.
  15. ASI juga melindungi ibu dari jarak hamil yang terlalu cepat karena ASI merupakan sebuah bentuk kontrol kelahiran yang 98% lebih efektif dibandingkan menggunakan kontrasepsi.
  16. Untuk ibu, ASI juga bermanfaat mengurangi risiko osteoporosis. Manusia akan mengalami pproses pengeroposan tulang namun kepadatan mineral akan diisi kembali bahkan meningkat apabila seorang ibu memutuskan untuk menyusui.
  17. Menghemat pengeluaran, karena tidak perlu lagi untuk membeli susu formula

Selain dampak kebaikan yang begitu banyak dari ASI seperti di atas, aktivitas menyusui bagi seorang ibu akan bernilai ibadah bagi dirinya. Menyusui adalah salah satu peran seorang ibu dalam berumah tangga, jika dijalani dengan penuh keikhlasan dan niat yang benar tentu akan memberikan dampak yang optimal untuk kebaikan di dunia maupun akhirat.

Membentengi bayi dengan dzikir dan syukur

Rasulullah Saw bersabda :

“Allah tidak sekali-kali menganugerahkan suatu nikmat kepada hamba-Nya, baik berupa istri maupun anak, lalu ia mengucapkan, ‘Segala puji hanya milik Allah Rabb semesta alam’, melaikankan Dia akan memberikan yang lebih baik daripada yang diambil-Nya’.”

Dalam redaksi lain yang juga diriwayatkan dari Anas, ia berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Allah tidak sekali-kali menganugerahkan suatu nikmat kepada hamba-Nya, lalu ia mengucapkan, ‘Segala puji hanya milik Allah Rabb semesta alam’, melainkan apa yang diberikan lebih baik daripada yang diambil-Nya’.”

Bila ada bayi yang baru lahir di antara keluarganya, Aisyah tidak bertanya, “Laki-laki atau perempuan?” Tapi ia bertanya, “Apa organ tubuhnya sempurna (lengkap)?” Bila dijawab, ‘Iya’ ia berkata, “Segala puji hanya milik Allah Rabb semesta alam.” (Shahih Al-Adabul Mufrad, Al Albani.485)

Mu’awiyah bin Qurrah berkata, “Ketika anakku, Ayyas, baru lahir, aku mengundang beberapa sahabat Nabi, lalu menjamu mereka dengan makanan. Setelah itu mereka mendoakannya. Aku berkata, ‘Kalian telah berdoa dan semoga Allah memberkahi kalian dengan doa kalian itu. Aku sendiri juga akan berdoa dan aminilah.”

Mu’awiyah melanjutkan, “Aku berdoa untuk anakku dengan doa yang banyak berkaitan dengan agama, akal, dan seterusnya. Sungguh, sekarang ini aku mengakui pengaruh doa ketika itu.” (Shahih Al-Adabul Mufrad, Al Bani (485)

Tidak diragukan lagi bahwa doa dapat mendatangkan kebaikan dan mengandung ungkapan syukur kepada Allah. Apabila seorang hamba bersyukur, pasti Allah akan menambah nikmat-Nya. Karena itulah, Allah telah berfirman :

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.”
(Ibrahim:7)

Bermain dengan lidah dan mulut

Mendidik dengan penuh kasih sayang dan kelembutan adalah cara terbaik untuk mendidik anak usia 0 – 4 tahun. Rasulullah Saw sendiri mencotohkan kepada kita saat bersama dengan cucunya Al-Hasan. Sebagaimana Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah menjulurkan lihdahnya kepada Al-Hasan bin Ali. Ketika Al-Hasan yang saat itu masih kecil melihat lidah beliau yang merah, dia merasa tertarik sehingga segera mendekat kepada beliau.

Dalam riwayat lain, Abu Hurairah bercerita, “Rasulullah keluar ke pasar Bani Qainuqa’ sambil berpegangan pada tanganku. Beliau berjalan mengelilingi pasar kemudian pulang dan duduk di masjid dengan kedua tangan merangkul lutut. Beliau bertanya, ‘Mana si kecil yang lucu itu? Panggilkan dia agar datang kepadaku. ‘Al-Hasan pun datang dengan berlari, lalu lansung melompat ke pangkuannya. Rasulullah mencium mulutnya, kemudian berdo’a :

‘Ya Allah, aku sungguh mencintainya. Maka cintailah dia dan cintailah orang yang mencintainya (tiga kali)’.”

Abu Hurairah berkata,

“Setiap kali melihat Al-Hasan, aku menangis.
(HR. Al-Bukhari)

Tetap menyayangi bayi apapun keadaannya

Salah satu akhlak pada bayi  yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw adalah menerima dan menyayanginya bagaimana pun keadaanya. Apakah ia ngompol, dalam keadaan sakit atau mungkin anak yang dilahirkan dari perzinaan.

Anak yang lahir tetap dalam keadaan suci dan bersih, jika dia anak hasil perzinaan maka itu salah dan dosa orang tuanya.

Rasulullah Saw memberikan kasih sayang kepada semua bayi, tidak hanya untuk bayi keluarganya saja. Banyak kisah meriwayatkan bagaimana Rasulullah menunjukkan akhlak mulianya kepada bayi. Beberapa diantara kisah tersebut adalah

  1. Ummu Qais binti Mihshan berkata, “Aku pernah menemui Rasulullah dengan membawa bayiku yang masih belum makan makanan apa pun. Tiba-tiba ia kencing di pangkuan beliau. Beliau pun meminta air dan lansung menyipratkannya ke bagian yang terkena kencing.” (Muttafaq ‘Alaih)
  2. Ummu Kurz Al-Khunza’iyah berkata, “Seorang bayi laki-laki pernah didatangkan kepada Nabi Saw, lalu bayi itu kencing di atas pangkuan beliau. Maka Nabi meminta air dan menyipratkannya ke bekas kencing bayi itu. Pernah juga, seorang bayi perempuan yang ngompol saat berada di pangkuan beliau, lalu Nabi memerintahkan agar pakaian yang terkena kencing itu dicuci.” (H.R Ahmad)
  3. Usamah bin Zaid berkata, “Nabi Saw pernah mengambil dan mendudukkanku di atas satu paha beliau dan mendudukkan Al-Hasan bin Ali di atas paha beliau yang lain. Kemudian beliau memeluk kami berdua dan berdoa, ‘Ya Allah, sayangilah keduanya karena aku sungguh menyayangi keduanya’.” (HR.Bukhari)
  4. Yusuf bin Abdullah bin Salam berkata, “Rasulullah memberikan nama Yusuf untukku. Beliau mendudukkanku di pangkuan beliau dan mengusap kepalaku.” (Shahihul Adabul Mufrad)
  5. Ummu Qais binti Mihshan meriwayatkan bahwa ia datang kepada Rasulullah Saw dengan membawa anak laki-lakinya yang masih belum makan makanan. Ia menempelkan anaknya ke tubuhnya karena sedang menderita sakit tenggorokan. Melihat hal itu, Rasulullah bersabda, “Mengapa engkau menyakiti anak-anakmu dengan cara memijit seperti ini ? Gunakan saja kayu gaharu karena kayu itu memiliki tujuh macam pengobatan, di antaranya penyakit lambung.”

Memperhatikan penampilan anak

Memperhatikan anak sejak kecil dalam berpenampilan adalah satu bagian penting dalam mendidik anak. Rasulullah Saw mengingatkan kita agar tidak membuat anak kita berpenampilan layaknya orang-orang kafir. Baik dari pakaian, gaya potongan rambut dan sebagainya. Selain itu hal penting yang perlu kita kenalkan pada anak sejak dini adalah tentang aurat. Anak harus kita biasakan untuk menjaga dirinya dengan tidak menampakkan aurat pada orang lain. Rasa malu dalam diri anak harus kita tanamkan sejak sedini mungkin.

Terkait hal ini Nafi’ meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Nabi Saw melihat seorang anak kecil telah dicukur di sebagian sisi kepalanya dan dibiarkan pada sisi lain. Beliau pun melarang hal itu dan bersabda, “Cukurlah semua atau biarkanlah semua.” (HR. Abu Dawud)

Terkait pakaian ada satu kisah menarik yang disampaikan oleh Abdullah bin Amr bin Al-Ash. Ia berkata,

“Nabi Saw pernah melihatku mengenakan sepasang pakaian yang dicelup warna kuning. Kemudian Nabi bersabda, ‘Apakah ibumu yang memerintahkan kamu mengenakan pakaian ini?’ Aku menjawab, ‘Apakah aku harus mencuci keduanya?’ Nabi Saw menjawab, ‘Tidak, tetapi keduanya harus dibakar’”
(HR.Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Nabi Saw bersabda,

“Sesungguhnya pakaian yang dicelup dengan warna kuning ini adalah pakaian orang-orang kafir maka janganlah kamu memakainya lagi”
(HR. Muslim)

Saat anak meninggal

Tidak ada yang tau tentang usia, ajal Allah yang menentukan. Usia seseorang tidak bisa ditebak, ada yang meninggal di usia tua, usia muda, remaja, anak-anak, baru lahir atau bahkan saat masih dalam kandungan ibunya.

Menerima kejadian ini dengan penuh keikhlasan adalah salah satu sikap yang mesti dimiliki oleh setiap umat muslim. Termasuk juga bagi setiap orang tua, jika saja Allah mengambil anaknya saat baru lahir ke dunia.

Menanggapi hal ini Rasulullah Saw mengingatkan kita sebagaimana diriwayatkan oleh Imam bukhari,.

Usamah bin Zaid berkata, “Salah seorang putri Nabi Saw mengirimkan pesuruhnya untuk menyampaikan kepada Nabi bahwa anakku sedang sekarat. Untuk itu, Nabi diharapkan segera datang. Nabi pun mengirim pesuruhnya agar menyampaikan salam dan menitip pesan dengan bersabda, ‘Sesungguhnya Allah memang berhak mengambil dan berhak untuk memberi. Tiap-tiap sesuatu itu memiliki batas usia tertentu di sisi-Nya. Oleh karena itu, bersabarlah kamu dan harapkanlah pahala-Nya.’

Putrinya pun mengirimkan kembali pesuruhnya seraya bersumpah bahwa Nabi harus datang kepadanya. Beliau pun bangkit untuk pergi dan ditemani oleh Sa’d bin Ubadah dan beberapa orang sahabat lainnya. Selanjutnya, anak itu diserahkan kepada Rasulullah sedang nafasnya terputus-putus dan suaranya mendengkur. Melihat pemandangan yang memelas itu, berlinanglah air mata Rasulullah hingga Sa’d bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau mengeluarkan air mata ?” Rasulullah Saw menjawab, ‘Ini adalah pertanda kasih sayang yang dianugerahkan oleh Allah dalam hati hamba-hamba-Nya. Sesungguhnya Allah hanya merahmati hamba-hamba-Nya yang berhati penyayang’.” (HR.Bukhari)

Anas berkata, “Kami masuk bersama rasulullah lalu beliau mengambil putranya, Ibrahim, dan lansung menciuminya. Setelah itu kami masuk lagi pada hari yang lain. Ibrahim, putra beliau, saat itu sedang meregang nyawa. Air mata Rasulullah berlinangan, sehingga Abdurrahman bin Auf berkata, “Wahai Rasulullah engkau juga menangis?” Beliau menjawab, “Wahai Abdurrahman –beliau menangis lagi- mata ini menangis dan hati ini bersedih tetapi kami tidak mengatakan kecuali yang diridhai oleh Rabb kami. Sesungguhnya kami, wahai Ibrahim, benar-benar sedih karena berpisah denganmu.” (HR. Al-Bukhari)

Sementara dalam kisah lain Asma binti Yazid mengatakan bahwa ketika putra Rasulullah, Ibrahim wafat, beliau menangis. Maka orang yang berbelasungkawa, entah Abu Bakar atau Umar, mengatakan, “Engkau adalah orang yang paling berhak dimuliakan oleh Allah.” Rasulullah bersabda, “Mata ini menangis dan hati ini bersedih, tetapi kami tidak mengatakan hal yang dimurkai oleh Allah. Seandainya kematian ini bukan merupakan janji yang benar, tidak menimpa semua orang, dan orang yang terakhir tidak mesti menyusul orang yang terdahulu, tentulah keadaan kami lebih sedih daripada sekarang. Hai Ibrahim, sesungguhnya kami semua benar-benar sedih karena berpisah denganmu.” (HR.Ibnu Majah)

Begitulah Rasulullah Saw menyikapi kematian anaknya, bersedih hingga menitikkan air mata karena hatinya yang dipenuhi oleh kasih sayang pada anaknya.

Memanggil anak dengan panggilan yang baik

Nama adalah do’a, apalagi jika itu disebut oleh orang tuanya. Memanggil anak dengan panggilan yang baik merupakan bagian dari proses pendidikan anak. Disini secara tak lansung orang tua mengajarkan tentang menghormati dan menghargai orang lain. Anak yang terbiasa dengan panggilan yang baik, InsyaAllah suatu saat nanti setelah dewasa dia akan memanggil orang lain dengan panggilan yang baik pula.

Begitu juga saat anak dibiasakan oleh orang tuanya dengan panggilan yang buruk maka suatu saat nanti setelah besar dia juga akan memanggil teman-temannya dengan panggilan yang buruk.

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Janganlah sekali-kali seseorang di antara kalian mengatakan, ‘Hai budak laki-lakiku! Hai budak perempuanku!’ karena kamu semua, baik laki-laki maupun perempuan, adalah hamba-hamba Allah. Akan tetapi, hendaknya ia mengatakan ‘Hai pelayan laki-lakiku! Hai pelayan perempuanku! Hai pesuruh laki-lakiku! Hai pesuruh perempuanku!’”

Mengajarkan kalimat tauhid

Satu kalimat mulia yang wajib diajarkan oleh setiap orang tua pada anaknya adalah kalimat tauhid. Proses mengajarkan dan menanamkan kalimat tauhid ini sebenarnya sudah bisa dilakukan semenjak anak masih di dalam kandungan ibunya, dengan cara melantunkan ayat-ayat suci Al-qur’an. Setelah dia lahir ke dunia proses mengajarkan kalimat tauhid di lanjutkan dengan mendengarkannya Adzan atau Iqamah.

Mengenalkan pada anak tentang keesaan Allah Swt, tentang Rasulullah Saw, tentang keimanan pada Allah dan Rasulnya adalah dasar utama dari pengajaran tauhid.

Jundub bin Junadah berkata, “Dahulu kami telah bersama nabi sejak kami masih remaja mendekati usia balig. Kami mempelajari iman sebelum mempelajari Al-Qur’an dan kemudian kami mempelajari Al-qur’an sehingga iman kami bertambah dengan mempelajari Al-Qur’an tersebut.” (HR.Ibnu Majah)

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Nabi Saw bersabda, “Ajarkanlah kepada anak-anak kalian pada permulaan bicaranya ucapan lailaha illallah dan ajarilah ia agar di akhir hayatnya mengucapkan lailahaillallah.”

Pengamalannya tentu dengan semakin sering serta semakin banyak mengenalkan kalimat tauhid ini pada anak maka akan semakin mengakar ketauhidan dalam dirinya.

Mengajak anak shalat berjamaah

Abdullah bin Syaddad berkata, “Rasulullah keluar dari rumahnya menemui kami yang sedang menunggu beliau untuk shalat Maghrib atau shalat Isya, sedangkan beliau menggendong Hasan dan Husein. Rasulullah maju dan meletakkan cucunya, kemudian melakukan takbir shalatnya itu, beliau lama sekali melakukannya.” Ayah perawi mengatakan, “Maka kuangkat kepalaku, ternyata kulihat anak itu berada di atas punggung Rasulullah yang sedang dalam sujudnya. Sesudah itu aku kembali ke sujudku. Setelah Rasulullah menyelesaikan shalatnya, orang-orang bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau telah melakukan sujud dalam shalatmu yang begitu lama, sehingga kami mengira terjadi sesuatu pada dirimu karena ada wahyu yang diturunkan kepadamu.”Rasulullah menjawab, “Semuanya itu tidak terjadi, melainkan anakku ini menunggangiku sehingga aku tidak suka bila menyegerakannya untuk turun sebelum dia merasa puas denganku.” (H.R.An-Nasa’i)

Dalam riwayat lain Abu Qatadah Al-Anshari meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah shalat sembari menggendong Umamah binti Zainab binti Rasulullah. Apabila sujud, beliau meletakkan cucunya itu ke tanah dan apabila bangun, beliau menggendongnya kembali.” (HR.Bukhari)

Mengajak anak ikut shalat bersama merupakan proses membiasakan anak untuk shalat semenjak dini. Sehingga setalah dia remaja dan dewasa kelak shalat menjadi satu hal yang biasa baginya, tidak ada lagi rasa berat dan malas untuk melakukannya.

Menggendong anak di pundak

Rasulullah Saw selalu punya cara yang unik dalam mewujudkan kasih sayangnya pada anak-anak. Seperti halnya Rasulullah Saw pernah menggendong anak di pundak dan mengajaknya naik kendaraan. Sebagaimana kisah ini terekam berbagai riwayat diantaranya,.

Abdullah bin Ja’far berkata, “Apabila Nabi Saw baru tiba dari perjalanan, beliau selalu disambut oleh anak-anak ahli baitnya. Suatu hari beliau baru datang dari perjalanan dan aku adalah anak yang paling terdepan menyambutnya. Maka beliau lansung menaikkanku di depannya, kemudian didatangkanlah salah seorang di antara kedua putra Fathimah, Al-Hasan atau Al-Husein lalu beliau memboncengkannya di belakang dan kami bertiga memasuki kota Madinah di atas kendaraannya.

Al-Barra berkata bahwa ia melihat Nabi Saw dan saat itu Husein berada di pundak beliau. Beliau bersabda, “Ya Allah, sungguh aku mencintainya karena itu cintailah ia”

Rasulullah melakukan itu semua sebagai bentuk kerendahan hati dan perhatiannya yang sangat besar kepada generasi muda untuk membina kepribadian mereka dan agar mempererat hubungan mereka dengan nabi sebagai pendidik. Keakraban dibangun sejak dini agar anak-anak itu suatu saat nanti dengan mudah mau meneladani Rasulullah Saw. Dalam halnya keluarga kita tentu saat keakraban dan kedekatan antara anak dan orang tua tercipta, maka orang tua akan lebih mudah untuk mendidik anak-anaknya.

Memberi hadiah, mendoakan dan mengusap kepala anak

Anas berkata, “Rasulullah adalah sosok manusia yang paling penyayang terhadap anak-anak dan keluarga.” Lihatlah bagaimana kasih sayang beliau terhadap anak-anak dalam hadits berikut :

Ibnu Abbas menceritakan bahwa apabila Nabi menerima buah yang pertama di masak, beliau meletakkannya di kedua mata beliau lalu di mulut dan bersabda, ‘Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperlihatkan kepada kami awalnya maka perlihatkanlah juga akhirnya kepada kami.’ Kemudian beliau memberikan buah itu kepada anak yang ada di dekat beliau” (Shahih Jami’)

Abu Hurairah mengatakan, “Dahulu bila orang-orang melihat buah kurma mereka sudah mulai masak, mereka memetiknya dan mengirimkannya kepada Rasulullah. Saat beliau menerimanya, beliau mengucapkan doa:

“Ya Allah, berkahilah buah-buahan kami, berkahilah kami di kota kami Madinah ini, dan berkahilah pula untuk kami takaran sha’ dan mudd kami.”

Beliau terus berdoa hingga sampai pada ujung doa’nya yang menyebutkan :

“Semoga menjadi keberkahan di atas keberkahan lainnya.”

Sesudah itu beliau memanggil seorang anak yang paling kecil yang dilihatnya, lalu menghadiahkan buah kurma itu kepadanya.
(HR.Muslim)

Salmah bin wirdan berkata,

“Aku pernah melihat Anas bin Malik menjabat tangan orang-orang dan pada saat giliranku ia bertanya kepadaku, ‘Siapa engkau?’ Aku menjawab, ‘Pemuka Bani Laits.’ Maka Anas mengusap kepalaku tiga kali dan berkata, ‘Semoga Allah memberkahimu’.” (Shahihul Adabul Mufrad)

Mengajarkan anak jujur

Jauh sebelum menjadi Rasul Nabi kita Muhammad Saw telah terkenal dengan sebutan Al-Amin (terpercaya) sebab kejujurannya. Jujur adalah permata berharga yang sangat langka untuk saat ini, genersi muda hari ini tumbuh dalam ketidak jujuran. Sehingga pada akhirnya setelah dewasa nanti menjadi manusia-manusia pembohong, penipu dan culas. Untuk itu kita sebagai orang tua perlu menanamkan kejujuran dalam diri anak semenjak kecil. Dan cara mengajarkan anak untuk jujur adalah dengan meneladankan kejujuran kepada anak-anak kita.

Abdullah bin Amir berkata, “Ibuku memanggilku dan pada saat itu Rasulullah sedang berada di rumah kami. Ibu berkata, ‘Kemarilah aku akan memberimu sesuatu.’ Ibuku menjawab, ‘Aku akan memberinya buah kurma.’ Nabi pun bersabda, ‘Ingatlah jika engkau tidak memberinya sesuatu, hal itu akan dicatatkan sebagai kedustaan bagimu’.” (HR.Ahmad)

Abu Thayyip berkata, “Hadits diatas bermakna bahwa apa yang diucapkan oleh orang tua terhadap anak-anak saat mereka menangis, misalnya meski hanya sekedar kata-kata gurauan dengan menjanjikan akan memberi sesuatu atau menakut-nakuti dari hal tertentu, maka ini adalah perbuatan haram yang masuk dalam kedustaan.” (Syarh ‘Aunul Ma’bud)

Terkadang kita menganggap kebohongan-kebohongan kecil dan sederhana itu biasa. Menjanjikan anak sesuatu agar dia tidak menangis lagi, membujuknya agar patuh dengan janji akan memberikan sesuatu adalah suatu keburukan jika hal itu tidak akan pernah diwujudkan. Untuk itulah para orang tua perlu berhati-hati agar anaknya

Memberi waktu untuk bermain bersama

Menyediakan waktu berkualitas untuk bermain bersama anak adalah keharusan bagi setiap orang tua. Bermain bersama anak memiliki banyak dampak kebaikan bagi perkembangan mental dan emosional anak. Anak di bawah usia 4 tahun sangat senang mengikuti orang tuanya, bermain dengan orang tuanya bahkan saat orang tua sedang bekerja sekalipun. Tak sedikit orang tua yang tidak bisa menerima prilaku anaknya seperti ini sehingga akhirnya membentak dan memarahi anaknya.

Untuk itu para orang tua diharapkan untuk memaklumi jika anaknya mengajak bermain, bermain bersama orang tua adalah satu kebutuhan bagi anak. Dengan bermain bersama orang tua akan menumbuhkan kepercayaan diri anak, membangun prilaku untuk mau belajar dan bersahabat dengan orang yang lebih tua darinya.

Sumber referensi :

  1. Manfaat.co.id
  2. Buku Kado untuk buah hati
  3. Buku Islamic parenting
  4. Buku prophetic parenting

 

Artikel Menarik Lainnya







comments