Memulai dengan do’a

Sebagaimana jodoh anak juga rezeki dari Allah Swt.Setiap rezeki tentu harus disyukuri dan cara mensyukuri rezeki berupa buah hati tentu dengan menyiapkan sebaik-baiknya persiapan untuk menyambut kehadirannya. Meniatkan dalam diri kalau suatu saat kelak akan melahirkan generasi shaleh dan shaleha yang memberikan kontribusi terbaik untuk umat ini.

Dan persiapan menghadirkan anak yang shaleh dan shaleha ini dimulai semenjak memilihkan calon ibu dan calon ayah untuk si anak. Maka bagi yang masih sendiri perlu diperhatikan parameter utama memilih pasangan bukan hanya sekedar suka atau cinta saja, tidak hanya tentang bahagia atau tidak saja. Tapi memastikan kalau calon suami atau istri tersebut adalah orang yang cocok menjadi ayah maupun ibu dari anak-anak anda kelak. Sebab, salah dalam memilih calon ayah dan ibu dampaknya tidak hanya pada pasangan yang menikah saja, tapi juga pada anak-anaknya dan cucu-cucunya nanti, berpotensi melahirkan generasi yang salah. So, berhati-hatilah.

Jika sudah menikah maka pendidikan anak pertama dimulai saat melakukan hubungan seks suami istri, inilah persiapan pertama untuk melahirkan generasi shaleh dan shaleha. Tak sedikit yang lupa dan mengabaikannya, membaca do’a sebelum melakukan ‘ijma’. Membaca do’a sebagaimana yang diwasiatkan oleh Rasulullah Saw.

Dari Ibnu Abbas, Rasulullah Saw. pernah bersabda,

“Bila salah seorang dari kalian akan mendatangi istrinya maka hendaklah membaca, “Bismillah Allahumma jannib nasy syaithana wa jannibisy syaithana ma rozaqtana.” Yang (artinya : Dengan nama-Mu ya Allah jauhkanlah setan dari rezeki yang telag engkau berikan. Apabila hubungan itu ditakdirkan lahirnya anak, tidak dicelakakan selamanya)

Meskipun singkat dan sederhana tapi sangat menentukan bagi janin yang akan terbentuk. Untuk itu pada setiap pasangan pasutri, agar menyadari pentingnya do’a ini, menghafalnya dan mengamalkannya. Karena ini bukan hanya untuk diri kita saja, tapi juga untuk kebaikan anak-anak kita kelak.

Anak adalah titipan dari Allah Swt.

Hikmah dari adanya ketertarikan laki-laki pada wanita atau sebaliknya yang disyariatkan dalam pernikahan adalah agar memelihara keturunan. Tentu agar terlahir generasi berkualitas baik ketaatan maupun kecerdasannya, generasi yang akan meneruskan risalah suci agama ini.

Allah Swt. berfirman :

“Dan sungguh, Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka istri dan keturunan…”(QS. Ar-Ra’d:38)

Disinilah pentingnya kesiapan seseorang untuk menikah harus diiringi dengan kesiapan untuk menjadi orang tua. Karena Rasulullah Saw menyukai umatnya dalam jumlah yang banyak. Jadi tak ada lagi keraguan bagi para ayah-ibu maupun calon ayah-ibu untuk tidak memiliki keturunan.

Anak adalah titipan dari Allah Swt, yang Allah titipkan hanya bagi orang-orang yang terpilih. Artinya tak semua orang akan mendapatkan titipan ini. Tentu anda bisa lihat dan saksikan di sekeliling anda, berapa banyak pasangan yang sudah menikah dalam jangka waktu yang cukup lama tapi belum Allah anugerahkan anak untuk mereka. Apakah Allah tidak sayang pada mereka ? Tentu ini bukan perkara sayang atau tidak, tapi ini tentang bagaimana Allah menguji hamba-Nya. Ada yang Allah uji dengan memiliki anak dan ada juga yang Allah uji dengan tidak memiliki anak. Sama-sama ujian, dan pastinya tentu akan sama-sama akan dipertanggung jawabkan.

Bagi yang Allah anugerahkan anak, tentu tak sampai hanya pada sekedar “punya anak” tapi juga akan diminta pertanggung jawaban bagaimana ia merawat,menjaga dan mendidik anaknya.

Anak titipan dari Allah Swt harus dijaga tak hanya memastikan kehidupannya berhasil di dunia namun juga terjaga dari api neraka inilah peran orang tua yang utama.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa ang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Qs. At-Tahrim [66]:6)

Inilah visi utama setiap keluarga muslim, ini bukan berarti terlalu fokus pada akhirat dan mengabaikan dunia. Tapi memastikan setiap aktivitas anak keturunan kita di dunia bernilai kebaikan yang semakin mendekatkan pada surga-Nya dan menjauhkan dari api neraka-Nya.

Menjadi orang tua mungkin tak semudah yang dibayangkan, tapi yakinlah dibalik setiap perjuangan menghadirkan generasi sholeh dan sholeha akan lahir kenikmatan tersendiri, pahitnya perjuangan di dunia akan terbayar oleh manisnya surga-Nya. InsyaAllah.

Menyiapkan anak menjadi generasi sholeh dan sholeha

Banyak anak banyak rezeki pepatah orang tua kita dahulu, ini memang benar memiliki banyak anak tak akan mengurangi rezeki kita atau membuat orang tuanya menjadi miskin. Tapi yang lebih penting dari sekedar kecukupan rezeki tentu adalah kesiapan diri kita mendidik anak-anak ini menjadi anak yang shaleh dan shaleha. Sehingga kita melahirkan keturunan yang tak hanya banyak secara kuantitas tapi juga memiliki kualitas terbaik.

Menyiapkan generasi shaleh dan shaleha harus dimulai dari orang tuanya yang terlebih dahulu menjadi shaleh dan shaleha. Berdo’a pada Allah agar dikaruniakan anak yang shaleh dan shaleha, bahkan jika seandainya orang tua ini memiliki pengetahuan yang minim sekalipun Allah yang akan memberi petunjuk pada mereka dalam mendidik anak-anaknya. Do’a tulus ikhlas dari orang tua inilah yang akan menjadi senjata ampuh untuk merengkuh nikmat kasih sayang Allah Swt.

Melahirkan anak yang shaleh dan shaleha adalah pekerjaan ayah dan ibunya, ayah dan ibu perlu membagi peran dengan jelas dan menjalankan sebaik-baik perannya masing-masing.

Ayah sebagai tulang punggung keluarga berperan mencarikan nafkah untuk keluarga, dan utamanya tentu nafkah yang halal. Memastikan tak ada setetes pun rezeki yang subhat masuk ke dalam lambung anaknya. Sebab apa yang dimakan dan diminum anak akan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya kelak. Selain itu ayah juga mendukung sang istri agar bisa menjalankan perannya sebagai seorang ibu sebaik mugkin.

“Tidak akan masuk Surga jasad yang diberi makan dengan yang haram.”
 (HR.Ath-Thabrani)

Suatu ketika ibunda Imam Asy syafi’i pergi ke pasar dan anaknya ditinggal di rumah. Imam Syafi’i kecil menangis kehausan, karena kasihan tetangga sebelah rumahnya yang juga sedang menyusui datang untuk memberikan susunya pada Imam Asy Syafi’i kecil. Apa yang dilakukan ibunya saat mengetahui anaknya disusui oleh tetangga sebelah rumah ? Ibunda Imam Syafi’i membalik tubuh mungil anaknya dan dikocok-kocokkan agar susu yang didapatkannya dari tetangga sebelah rumahnya keluar semua. Seperti inilah orang tuanya menjaga dan memastikan agar tak ada setetas makanan atau minuman halal masuk ke perut anaknya. Hasilnya bisa kita saksikan sendiri, anak yang begitu dijaga oleh orang tuanya ini menjadi salah satu ulama terhebat sepanjang masa.

Al-ummu madrosatul ula’, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq. Ibu adalah sekolah utama, bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik.
(Syair Arab)

Sementara peran utama seorang ibu tergambarkan dalam syair arab diatas. Itulah peran utamanya menjadi sekolah sekaligus guru bagi anak-anaknya. Untuk melahirkan generasi yang shaleh atau shaleha dibutuhkan para ibu yang memiliki kesadaran akan hal ini. Ia sadar kalau keberadaannya membersamai anak semenjak lahir melalui proses pemberian ASI adalah penting, ia sadar membersamai anaknya dari kecil, merawatnya dan mendidiknya adalah juga penting.

Jika anaknya mengenal Allah dan Rasululullah Saw, pandai mengaji, pandai membaca, pandai berhitung dan mengerti tentang mana akhlak baik dan buruk. Ia akan pastikan kalau semua hal itu karena dialah yang mengajarkannya.

Sangat menyedihkan jika saat ini kita saksikan banyak dari para ibu yang meninggalkan anaknya di rumah, pergi mengejar karir dan merengkuh kesuksesan duniawi. ASI yang semestinya menjadi hak anak diganti dengan susu formula pakai dot yang diberikan oleh asisten rumah tangga, hari – hari yang semestinya dilalui dengan penuh kehangatan bersama ibu digantikan oleh dinginnya asuhan dari tangan asisten rumah tangga. Ada 4 kewajiban penting orang tua atas anaknya yaitu :

  1. Kewajiban mengenalkannya pada Allah Swt.
  2. Kewajiban mengenalkannya pada Rasulullah Saw.
  3. Kewajiban menyiapkan dirinya menjadi seorang ayah dan ibu
  4. Kewajiban mengajarkan ilmu-ilmu untuk keberhasilan dunia padanya.

Poin terakhir bisa diwakilkan pada lembaga pendidikan dalam menjalankannya, tetapi poin 1-3 mesti orang tua sendiri yang menjalakannya. Ayah ibu sendiri yang memberikan pendidikan tersebut. Jika diwakilkan pada orang lain atau diabaikan tentu dampak buruknya bagi masa depan anak kita dan yang akan menanggung akibatnya tentu juga kita sebagai orang tua.

Namun pada kondisi tertentu mungkin seorang ibu memiliki keharusan untuk bekerja membantu perekonomian suaminya, hal ini secara syariat boleh tapi mesti dipastikan aktivitas bekerja tidak menanggu aktivitas utamanya sebagai seorang ibu serta tidak merusak kemuliaannya sebagai seorang muslimah.

So, untuk melahirkan generasi sholeh dan sholeha orang tua perlu turun tangan lansung membentuk anaknya. Membersamai dan menemani anak-anaknya tumbuh menjadi generasi sholeh dan sholeha.

Menjaga kesehatan fisik dan psikis sang ibu

…Ibunya telah mengandung dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah…” (QS.Luqman : 14)

Menjadi seorang ibu bukanlah hal yang mudah, berat dan banyak ujiannya terlebih saat masa-masa mengandung, terlebih lagi itu mengandung anak pertama. Tapi, dibalik sulitnya menjadi seorang ibu ada satu hal yang perlu disyukuri karena Allah telah memilih anda sebagai perantara lahirnya generasi sholeh dan sholeha.

Agar kehamilannya berjalan dengan baik tentu dibutuhkan kesehatan fisik dan psikis dari ibu yang hamil. Seorang ibu yang hamil mesti mendapatkan nutrisi yang halal, baik dan juga cukup bagi tubuhnya. Selain itu perlu juga diperhatikan hal-hal apa saja yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi selama masa kehamilan.

Saat hamil emosi seorang ibu relatif bisa mudah berubah-rubah, kadang senang, mendadak sedih lalu kembali lagi bahagia. Ini hal yang wajar, dan seorang suami perlu memahaminya. Karena emosi seorang ibu hamil cenderung tidak stabil maka suami serta orang-orang sekitarnya perlu menjaga emosi ibu hamil. Begitu juga dengan permasalahan lain yang memungkinkan memunculkan tekanan psikis pada ibu hamil perlu dihindari.

Seorang ibu hamil mesti sehat fisiknya, sehat psikisnya, tenang pikiran dan bahagia hatinya. Sebab hal sekecil apapun yang dirasakan oleh seorang ibu hamil akan memberikan pengaruh pada kondisi janin yang ada dalam perutnya.

Do’a juga menjadi energi terbesar bagi para ibu saat mengandung, karena do’a memberikan kekuatan untuk tetap bertahan serta mengubah perjuangangan mengandung menjadi terasa lebih manis. Kita sebagai orang beriman bisa membaca do’a-do’a yang tersedia dalam Al-quran sebagaimana berikut :

“….Wahai Rabb kami, berikanlah kepada kami isteri-isteri dan keturunan yang menjadi penyejuk mata, dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Furqaan:74)

Baca juga : Inilah 5 Alasan Kenapa Ibu Hamil Harus Bahagia

Asupan-asupan yang barakah lagi menyehatkan

Agar janin dalam tubuh bayi tumbuh sehat, dan fisik sang ibu tetap fit maka dibutuhkan asupan-asupan makanan yang barakah lagi menyehatkan. Salah satu asupan yang sangat bagus untuk ibu hamil adalah kurma. Banyak pakar kesehatan yang telah menemukan khasiat dari buah kurma bagi kesehatan ibu hamil diantara dari mereka ialah :

  1. Jabbar An-Nu’aimi dan Dr.al-Amir ‘Abbas Ja’far berkata, “Kurma mengandung unsur sejenis pengikat rahim yang dapat membantu mengurangi pendarahan setelah melahirkan.”
  2. Syaikh Rabi’ al-Qutsaim berkata, “Para wanita yang bersalin tidak memiliki sesuatu yang lebih baik bagi mereka selain kurma masak.”
  3. “Amr bin Maimun berkata “Kalau seorang wanita kesulitan melahirkan, tidak ada yang lebih baik daripada kurma masak, baik yang basah maupun yang kering.”

Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah dalam bukunya Tuntunan ibu hamil juga mengutip pendapat para dokter yang mengakui bahwa kurma sangat baik untuk wanita hamil, melahirkan, nifas, dan menyusui. Dalam kurma terdapat hormon yang mirip dengan hormon oksitosin, yakin hormon yang dihasilkan neurohipofisa, bekerja untuk meransang kontraksi otot polos dinding rahim selama coitos dan melahirkan. Ini akan sangat membantu kelancaran proses kelahiran. Hormon oksitosin akan menyatu dengan reseptornya melalui kontraksi otot yang teratur secara bertahap sehingga menyebabkan perluasan leher rahim yang dari situlah terjadi proses kelahiran. Setelah persalinan pun hormon ini juga bermanfaat untuk mengeringkan rahim dan meningkatkan kontraksi otot-ototnya yang terajut satu sama lain seperti jaring.

Selain kurma asupan lain yang juga memiliki khasiat bagus bagi kesehatan janin dan ibu hamil adalah minyak zaitan, berbagai jenis kacang-kacangan, minuman berkalsium tinggi, air kelapa dan lain sebagainya.

Saat realita tak sesuai harapan

Lahir dengan sehat, normal tanpa cacat serta proses kelahiran pun berjalan normal tentu menjadi harapan kita semua. Namun pada kenyataannya kita tak bisa pungkiri jika realita yang terjadi tak sesuai dengan harapan. Boleh jadi bayi yang ditunggu-tunggu lahir tepat waktu malah keguguran, premature atau juga terlahir dalam kondisi cacat.

Jika hal ini menimpa diri kita maka tak ada yang perlu disesali, disalahkan, tak penting juga untuk merasa kecewa apalagi sampai menyatakan tuhan tidak adil. Terimalah dengan ikhlas dan lapang dada, yakinilah setiap hal yang terjadi adalah takdir dari Allah Swt. Dan tentu itu menjaid ketetapan terbaik bagi diri kita saat itu. Jika kita mengeluh, atau menyalahkan saat ditimpa musibah seperti ini tentu akan menggoyahkan keimanan kita dan menjauhkan kita dari Allah Swt.

Untuk itu kita perlu lagi mengingat makna barakah dalam pernikahan, barakah tak berarti selalu indah dan membahagiakan. Tapi kebarakahan adalah saat menjadikan segala kondisi yang menimpa kita menjadi suatu yang indah, bernilai kebaikan dan mendekatkan kita pada Allah Swt.

Untuk menguatkan diri kita saat ditimpa musibah Rasulullah Saw berwasiat :

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. Dan pada masing-masingnya ada kebaikan. Gemarlah atas segala yang bermanfaat bagimu. Mintalah pertolongan pada Allah. Janganlah engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah maka janganlah engkau berkata, “Seandainya demikian, dan demikian”. Akan tetapi katakanlah, Allah telah mentakdirkannya, dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi.” Karena kata seandainya akan membukakan perbuatan-perbuatan syaitan.”
(HR.Muslim)

Dalam hadits lain Rasulullah Saw mengingatkan kita agar memuji Allah dan mengucapkan Alhamdulillahi’alaa kulli haaliin sebagaimana disebutkan dalam hadits :

“Adalah Nabi, apabila melihat sesuatu yang menyenangkan, beliau mengucapkan, “Segala puji bagi Allah yang dengan kenikmatan-Nya, sempurnalah kebaikan-kebaikan”. Dan apabila melihat sesuatu yang tidak disukai, beliau mengucapkan, ‘Segala puji bagi Allah atas setiap keadaan’
(HR.Ibnu Majah)

Jika anak yang terlahir cacat maka rawatlah ia dengan penuh kasih sayang dan cinta. Dia adalah titipan dari Allah Swt. Itu adalah ketetapan dari Allah, terima dengan penuh keikhlasan dan lapang dada.

Begitu pula saat anak yang dinanti-nanti keguguran dan lahir prematur,Ustadz Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah menyebutkan janin dikatakan mengalami keguguran ketika usianya berumur belum genap dari empat bulan sebab ia belum ditiupkan ruh, dan untuk janin yang keguguran boleh dikuburkan di mana saja, tak perlu dishalatkan dimandikan karena dianggap sebagai potongan daging. Namun jika diatas empat bulan dan kurang dari sembilan bulan disebut lahir prematur dan statusnya telah menjadi manusia, dimana berlaku untuknya ketentuan pengurusan mayit; yakni dimandikan, dishalatkan dan diberi nama. Hal ini didasarkan pada wasiat Rasulullah Saw.

“Sesungguhnya penciptaan seseorang dari kalian dikumpulkan dalam perut ibunya selama empat puluh hari berupa air mani, kemudian empat puluh hari berupa ‘alaqah (yakni gumpalang darah), kemudian empat puluh hari juga berupa mudghah (sekepal daging). Kemudian setelah itu diutuslah Malaikat kepadanya untuk meniupkan ruh kepadanya.” (HR.Muslim)

Berhubungan intim saat hamil

Selama masa kehamilan berhubungan suami istri tetap diperbolehkan, namun perlu diperhatikan di masa-masa awal kehamilan intensitas dalam berhubungan lebih baik dikurangi, karena terlalu sering berhubungan intim di masa awal kehamilan malah membahayakan bagi janin. Selain itu saat kondisi fisik istri menurun semestinya berhubungan intim tidak dipaksakan.

Amalan selama ibu hamil

Saat bayi masih berupa janin dalam kandungan adalah waktu tepat untuk menyiapkan anak menjadi generasi yang shaleh dan shaleha. Menjalankan amalan kebaikan adalah salah satu ikhtiar yang bisa dilakukan untuk mencetak generasi shaleh dan shaleha.

Amalan-amalan yang bisa dilakukan oleh ibu hamil diantaranya adalah :

  1. Banyak berdo’a kepada Allah agar dikaruniakan anak yang shaleh atau shaleha. Do’a adalah senjata orang beriman, ia adalah sesederhana dan sebaik-baiknya amalan. Tak hanya do’a suami istri, kalau memungkinkan minta juga dido’akan pada orang tua, pada ustadz atau ustadzah agar dikaruniakan anak yang shaleh atau shaleha
  2. Melaksanakan ibadah wajib dengan sebaik-baiknya pelaksanaan. Maksudnya jika sebelumnya  shalat sering telat, shalatnya kilat, kurang dzikir dan do’a. Nah ketika hamil jadikan itu sebagai momentum perbaikan diri dan peningkatan ibadah.
  3. Mendirikan ibadah sunnah. Dirikan shalat malam, shalat dhuha, shalat sunnah rawatib, shalat sunnah taubat dan lain sebagainya. Karena ketaatan seorang ibu pada Allah ketika hamil akan ikut menumbuhkan ketaatan pada janin yang dikandungnya.
  4. Memperbanyak membaca dan mendengarkan Al-qur’an. Melihat beberapa pengalaman ibu-ibu yang melahirkan anak penghafal Al-quran sejak usia dini ternyata memiliki kebiasaan membaca Al-qur’an lebih banyak ketika biasa, dan secara rutin mendengarkan ayat suci Al-qur’an pada bayi. Dan ini tentu jauh lebih baik dibanding mendengarkan lantunan musik seperti sering dikampanyekan oleh barat.
  5. Memperbanyak dzikir dan istigfar, ini juga berfungsi untuk menstabilkan emosi ibu hamil agar tetap tenang.

Itulah beberapa amalan-amalan yang bisa dilakukan oleh setiap ibu hamil, selain ini anda bisa menjalankan amalan lain tapi pastikan amalan tersebut tidak bertentangan dengan Al-qur’an dan assunahnya.

 

Artikel Menarik Lainnya







comments