Episode terindah dalam kehidupan seseorang setelah pernikahan adalah saat menyambut buah hati. Kehamilan adalah saat yang dinanti, menjalaninya menjadi kenikmatan tersendiri dan masa kelahiran adalah saat-saat yang dirindui.

Sebagai episode penting dalam setiap fase kehidupan manusia maka sudah semestinya kita mempersiapkan dan menanti kelahiran sesuai dengan tuntunan Islam.

Mensyukuri kehadiran anak sebagai hadiah terindah dari Allah Swt

Imam Muslim dalam Shahih Muslim dari Abi Hassan. Ia berkata, “Dua anakku yang lelaki meninggal dunia.” Kemudian aku bertanya kepada Abu Hurairah. “Apakah kamu pernah mendengar sebuah hadits dari Rasulullah Saw yang jika aku menceritakannya, jiwaku menjadi lega untuk menghadap kematian?” tanyaku kepadanya. Abu Hurairah pun mengiyakannya seraya mengutip sebuah hadits,

“Anak-anak kecil mereka adalah perahu-perahu kecil di surga. Salah seorang dari mereka menemui ayahnya – untuk mengambil ujung pakaiannya atau tangannya seperti halnya aku mengambil ujung pakaianmu ini. Anak itu tidak melepaskannya hingga Allah memasukkan dirinya dan orang tuanya ke surga”

Anak adalah hadiah terindah dari Allah Swt untuk orang tuanya, ia menjadi sebab kebahagiaan di dunia serta juga menjadi sumber kebahagiaan di akhirat kelak. Untuk itulah setiap orang tua harus mensyukuri kehadiran anak. Menjaga amanah dari Allah Swt ini dengan cara menyambut kelahirannya, merawat serta mendidiknya dengan cara-cara yang Allah ridhoi.

Setiap orang tua juga juga perlu menerima kelahiran anaknya dengan penuh keikhlasan serta kesyukuran. Tidak mengeluhkan anak yang lahir apakah laki-laki atau perempuan serta juga menerima bagaimana pun keadaan sang anak saat lahir.

Anak adalah perhiasan

Allah Swt berfirman dalam surah Ali ‘Imran ayat 14 :

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”

Dalam ayat lain Allah juga berfirman :

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan”
(Q.s.al-Kahfi : 46)

Anak adalah perhiasan yang bisa menjadi sumber kebahagiaan bagi orang tuanya di dunia maupun akhirat akan tetapi juga bisa menjadi sebab tergelincirnya sang orang tua ke jurang neraka. Tentu hal ini terjadi jika orang tua terlalu mencintai anak dan tidak mendidiknya dengan baik sehingga tumbuh menjadi anak yang ingkar pada Allah dan Rasul-Nya.

Memberi kabar gembira dan memberi ucapan selamat atas kelahiran anak

“Alhamdulillah telah lahir putra kami dengan berat 3,2 kg tadi pagi di R.S xxxxx”

Di era digital seperti saat ini sering kita mendapat postingan dengan tulisan seperti diatas. Orang tua mengabarkan kelahiran sang buah hati kepada teman-temannya. Kelahiran anak adalah sebuah kabar gembira, orang tua bahkan keluarga besar tentu berbahagia dengan kelahiran anaknya. Sebagai muslim kita dianjurkan untuk memberi kabar kepada yang lain jika memperoleh kabar gembira berupa kelahiran anak dan menjadi keutamaan bagi muslim dan muslimah yang lain memberi ucapan selamat.

Allah Swt berfirman dalam surah Hud ayat 69-74 mengisahkan kisah nabi Ibrahim As,

“Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (Malaikat-malaikat) telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan; “Salaman” (Selamat). Ibrahim menjawab; “Salaman” (Selamatlah), maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang. Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang ane perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata; “Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth.”

Dan isterinya berdiri (di balik tirai) lalu dia tersenyum. Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan dari Ishaq (akan lahir puteranya) Ya’qub . Isterirnya berkata; “Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula? Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh. Para malaikat itu berkata; “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah maha Terpuji lagi Maha Pemurah. Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang kepadanya, dia pun bersoal jawab dengan-dengan (malaikat-malaikat) Kami tentang kaum Luth.

Dalam ayat lain Allah Swt juga berfirman :

“Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.”
(Ash-Shaffat : 101)

Sementara dalam surah Maryam ayat 7 Allah Swt juga berfirman :

“Hai Zakariya, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.”

Hal ini ditegaskan juga dalam surah Ali Imran ayat 39,

“Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya) ; “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya.”

Ketika Rasulullah Saw dilahirkan, Tsuwaibah memberikan kabar gembira kepada paman Nabi, yaitu Abu Lahab, yang juga sebagai tuannya. “Pada malam ini, Abdullah mempunyai seorang putra,” kata Tsuwaibah ceria. Abu Lahab pun merangkulnya tanda bahagia atas kelahiran itu. Allah tidak akan menyia-nyiakan perasaan gembira itu dari Abu Lahab. Setelah ia mati (dalam keadaan musyrik), Allah memberinya air minum dalam sebuah lubang yang berasal dari pangkal ibu jari Nabi sebagaimana diriwayatkan di shahih Al-Bukhari dan Edisi Fath Al-Bari.

Sementara Abu Bakar bin Al-Mundzir dalam kitabnya Al-Ausath berkata, ““Kami meriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri. Katanya, ada seorang pria datang kepadanya. Pria itu bersama seorang ayah yang dikarunia anak laki-laki. Ia berkata, “Selamat bagimu atas lahirnya seorang penunggang kuda.” Bagaimana kamu tahu bahwa ia (nantinya) sebagai penunggang kuda (mungkin) sebagai penggiring himar?” tanya Al-Hasan. “Jadi, bagaimana redaksi yang harus kami ucapkan padanya?” Tanya pria itu. “Katakanlah,” jawab Al-Hasan,

“Anda telah diberkahi dengan kelahiran seorang anak, bersyukurlah kepada Dzat yang memberikannya (Allah), sampai ia dewasa dan berbakti kepada Anda.” Wallahu A’lam.

Kewajiban orang tua atas kelahiran anaknya

Berikut adalah beberapa sunnah dan anjuran saat kelahiran anak.

1.  Mengumandangkan Adzan dan Iqamat di Telinga Bayi yang Baru Lahir

Memang secara dalil banyak pendapat Ulama bahwa hadits-hadist yang menyebutkan untuk mengumandangkan Adzan di Telinga bayi saat lahir adalah dhaif atau tidak shahih.

Namun Ibnul Qayyim Al Jauziyah dalam kitabnya yang berjudul Tuhfatu Al-Maudud fii ahkamil maulud (Kado menyambut si buah hati) menyebutkan hikmah dari mengumandangkan adzan dan iqamat saat bayi lahir adalah suoaya ucapan yang pertama kali didengar oleh seorang manusia adalah kalimat-kalimat adzan. Kalimat-kalimat tersebut meliputi kegagahan dan keagungan Allah. Di dalamnya terdapat kalimat syahadah (persaksian) yang merupakan ikrar pertama bagi seseorang yang masuk Islam.

Lebih jauh Ibnul Qayyim Al Jauziyah menjelaskan hal ini sebagaimana talqin (pengajaran) yang mempunyai nilai syi’ar Islam di saat ia memasuki ‘kampung’ dunia. Begitu pula talqin dengan mengucapkan kalimat tauhid (La ilaha illa Allah) di saat ia keluar darinya. Tidak diragukan lagi bahwa dampak dari kalimat-kalimat adzan tersebut akan sampai padanya dan membekas di hatinya, meskipun saat itu ia tidak merasakannya. Hikmah lainnya, dengan dikumandangkan adzan, bahwa setan akan lari tunggang langgang sebab mendengar kalimat adzan. Sebelumnya, setan terus mengintai anak itu hingga ia dilahirkan. Ketika lahir itulah, hendaknya diperdengarkan atas setan yang ada dalam diri anak tersebut sesuatu yang membuatnya lemah tak berdaya pada saat pertama kali ia berhubungan dengannya.

2. Mentahnik anak dengan kurma

Tahnik adalah proses menyuapkan kurma yang telah dikunyah ke dalam mulut bayi. Dalam shahih Bukhari dan Muslim diriwayatkan dari hadits Abu Burdah, dari Abu Musa, ia berkata, “Anakku lahir. Kemudian aku membawanya kehadapan Nabi Saw. Beliau pun memberinya nama Ibrahim. Lalu beliau memamah kurma untuk makanannya.”

Al-Bukhari menambahkan, “Nabi mendoakannya agar mendapat keberkahan. Selanjutnya, beliau menyerahkannya kepadaku.” Anak itu adalah anak Abu Musa yang paling besar.

Anas bin Malik, ia berkata, “Suatu ketika, anaknya Abu Thalhah yang masih bayi mengaduh sakit. Abu Thalhah pun keluar untuk menenangkannya. Di saat Abu Thalhah kembali, ia bertanya, “Bagaimana keadaan si bayi?” Ummu Sulaim menjawab, “Ia sekarang lebih tenang dari sebelumnya.” Kemudian Ummu Sulaim menyuguhkan makan malam untuk Abu Thalhah. Setelah makan malam, Abu Thalhah pun menggauli istrinya (Ummu Sulaim). Begitu selesai, Ummu Sulaim berkata, “Semoga si bayi diberkahi.”

Pada pagi harinya, Abu Thalhah menghadap Rasulullah Saw dan menceritakan perlakuannya kepada si bayi. “Apakah kalian berhubungan badan pada malam itu?” tanya Nabi.”Ya,” jawab Abu Thalhah. Maka Nabi pun berdo’a,

“Semoga Allah memberkahi kalian berdua”

Kemudian Ummu Sulaim pun melahirkan seorang anak laki-laki. Abu Thalhah berkata kepadaku, “Bawalah anak itu menghadap Nabi Saw.” Tidak lupa ia membekali bayinya itu dengan beberapa buah kurma.

Sesampainya di sana, Nabi Saw lansung mengambil bayi itu. “Apakah ada sesuatu beserta bayi ini?” “Ya” jawab mereka, “Ada beberapa buah kurma bersamanya.” Kemudian Nabi mengambil kurma-kurma itu dan mengunyahnya. Setelah itu, beliau ambil kurma-kurma itu dari mulutnya lalu diletakkan di mulut si bayi. Selanjutnya beliau mendidik bayi itu untuk memakannya. Beliau menamakan bayi itu Abdullah. (HR.Bukhari)

Tahnik juga diyakini sebagai imun yang akan meningkatkan daya tahan tubuh si bayi. Kurma yang sangat dianjurkan untuk tahnik adalah kurma Ajwa (kurma nabi).

3. Aqiqah

Aqiqah berarti penyembelihan pada hari ketujuh dari hari lahirnya anak. Aqiqah adalah sunnah Nabi yang menjadi tanggungan orang tua atas anaknya.Tentu dengan syarat orang tua memiliki kemampuan secara ekonomi untuk Aqiqah anaknya.

Rasulullah Saw bersabda :

“Seorang anak yang baru lahir tergadai dengan Aqiqahnya, maka disembelihkan kambing untuknya pada hari tersebut, dicukur rambutnya dan diberi nama.”
(HR. An-Nasa’i).

Dalam hadits lain Ibnu Abbas menceritakan :

“Rasulullah Saw pernah mengaqiqahi Hasan dan Husain, masing-masing satu ekor domba.”
(HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, An-nasa’i dan At-Tirmidzi)

Jumhur ulama dari kalangan para sahabat, tabi’in dan orang-orang yang hidup setelah mereka menyepakati Aqiqah adalah sunnah untuk anak perempuan maupun laki-laki.

Untuk jumlah ekor kambing dalam Aqiqah Rasulullah Saw menyebutkan satu ekor kambing untuk anak perempuan dan dua ekor kambing untuk anak laki-laki sebagaimana sabda Rasulullah Saw.

“Rasulullah Saw menyuruh kami mengakikahi seorang anak perempuan dengan seekor kambing, dan seorang anak laki-laki dengan dua ekor kambing.”
(HR.Ahmad)

Dalam riwayat lain diceritakan oleh Ummu Karaz Al-Ka’biyah, dia menceritakan, aku pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda :

“Bagi anak laki-laki dua ekor kambing yang berdekatan (umur dan besarnya), dan bagi anak perempuan seekor kambing”
(HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)

Untuk penyelenggaraan Aqiqah disunnahkan pada hari ketujuh dari kelahiran. Namun jika hari ketujuh belum mampu untuk melakukannya, hendaklah menyembelihnya pada hari keempat belas. Jika hari keempat belas telah berlalu, maka hendaklah menyembelihnya pada hari kedua puluh satu. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Imam Baihaqi :

“Aqiqah disembelih pada hari ketujuh, keempat belas, dan kedua puluh satu.”
(HR.Baihaqi)

Aqiqah adalah ibadah sunnah dengan banyak kemuliaan tersimpan di dalamnya. Anak adalah anugerah dari Allah Swt dan melaksanakan aqiqah adalah sebentuk rasa syukur atas anugerah dari Allah Swt. Dalam pelaksanaan Aqiqah terdapat rahasia yang sangat menakjubkan warisan dari Al-fida’ (digantinya) Ismail dengan seekor domba sehingga menjadi amalan sunnah bagi anak cucunya. Di sisi lain penyembelihan domba untuk aqiqah ini merupakan pelindung dari godaan setan setelah kelahiran anak. Dan perlu diingat, bahwa berbagai rahasia yang terkandung di dalam syari’at itu lebih agung.

Hikmah aqiqah lainnya adalah sebagai bentuk kepedulian kepada sesama serta mempererat hubungan kekerabatan serta kemasyarakatan.

Sementara bagi anak yang belum diqiqahkan oleh orang tuanya karena satu sebab ekonomi misalnya maka anak bisa mengaqiqahi dirinya sendiri. Al – Rafi’i mengatakan :

“Jika seseorang mengakhirkan aqiqah sampai usia baligh, maka gugur hukum aqiqah itu baginya.” Sedangkan Al-Qafal dan Al-Syasyi menganjurkan untuk tetap melaksanakannya, dengan landasan hadits Rasulullah Saw “Aqiqahilah untuk dirinya setelah kelahirannya” adalah tidak benar. Diriwayatkan dengan isnad Imam Baihaqi dari Abdullah bin Muharrar, dari Qatadah, dari Anas, bahwa Nabi Saw telah bersabda: “Aqiqahilah untuk dirinya setelah nubuwwah (kenabian). “Hadits ini tidak dapat dibenarkan sama sekali. Bahkan Imam Baihaqi sendiri mengatakan : “Ini merupakan hadits munkar.

4. Mencukur rambut bayi dan bersedekah sesuai berat timbangannya

Dari Ja’far bin Muhammad dari ayahnya, ia menceritakan :

“Fathimah pernah menimbang rambut Hasan, Husain, Zainab dan Ummu Kultsum lalu mengeluarkan sedekah perak seberat rambut tersebut (HR.Malik)

Rasulullah Saw pernah berkata kepada Fathimah ketika melahirkan Hasan,

“Cukurlah rambutnya dan keluarkanlah sedekah perak seberat rambutnya kepada orang-orang miskin.”
(HR.Ahmad)

Mencukur rambut adalah bagian syariat Islam dan sunnah nabi. Ini menjadi isyarat yang menunjukkan penebusan rambut tersebut dengan harta, tidak disia-siakan begitu saja, dan bahwa rambut di kepalanya yang bila dibiarkan akan mengganggunya. Agar mencukur rambut tersebut tidak dianggap sebagai suatu hal murahan oleh keluarganya maka rambut itu diseimbangkan dengan harta.

5. Memberi Nama

Memberi nama adalah salah satu hal yang menjadi kewajiban orang tua atas kelahiran anaknya. Tapi penting diperhatikan oleh setiap orang tua agar memberikan nama terbaik untuk putra-putrinya. Nama adalah do’a begitu sering kita dengar, maka baguskanlah nama buah hati kita agar menjadi do’a kebaikan baginya. Standar bagus dan baiknya nama tentu mengacu kepada bagaimana anjuran Rasulullah Saw dalam pemberian nama.

Dari Abu Ad-Darda’, Rasulullah Saw bersabda,.

“Sesungguhnya kamu sekalian akan dipanggil pada Hari Kiamat dengan nama-nama kalian dan nama-nama ayah kalian. Maka bagus-baguskanlah nama-nama kalian
(HR. Abu Dawud)

Sementara dalam riwayat yang disampaikan Ibnu Umar, Rasulullah Saw juga bersabda,

“Nama-nama yang paling dicintai oleh Allah adalah ; Abdullah dan Abdurrahman.”
(HR.Muslim)

Riwayat dari Jabir, ia berkata, “Seorang pria di antara kami dikarunia seorang putera. Ia pun memberinya nama Al-Qasim. Lalu kami menegurnya, “Kami tidak akan memanggilmu dengan nama Abu Al-Qasim.” Hal ini aku laporkan kepada Nabi Saw. Beliau pun bersabda.

“Berilah anakmu nama Abdurrahman”
(Muttafaq Alaih)

Pendapat ulama jumhur menyepakati nama yang paling Allah sukai adalah Abdullah dan Abdurrahman. Menurut Sa’id bin Al-Musayyib, nama yang paling Allah sukai adalah nama para nabi. Hadits shahih menunjukkan bahwa nama-nama yang paling disukai oleh Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman.

Selain nama yang Allah sukai kita juga perlu mengetahui nama-nama yang Allah tidak sukai sehingga menjadi makruh bahkan haram bagi kita memberikan nama-nama ini kepada sang buah hati.

Terkait nama-nama yang makruh dan haram, Abu Muhammad bin Hazm berkata, “Mereka sepakat bahwa setiap nama sembahan selain Allah hukumnya haram seperti memberi anak dengan nama hamba batu, hamba ka’bah, hamba hubal dan yang serupa dengan itu.

Nama-nama lain yang diharamkan, diantaranya memberi nama dengan ; Malik Al-Muluk (Penguasanya para penguasa), Sulthan As-Salathin (Rajanya para raja). Rasulullah Saw bersabda,

“Nama yang paling hina di sisi Allah adalah seseorang yang kamu berinama; Malik Al Amlak” (Abu Hurairah)

Nama-nama diharamkan dan dibenci karena memberi nama yang sebenarnya hanya pantas diberikan pada Allah Swt.

Selain nama yang haram juga ada nama yang makruh diberikan pada anak-anak kita. Di antara nama-nama yang dimakruhkan adalah sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya, dari Samurah bin Jundub, ia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda.

“Kamu jangan menamai anakmu dengan (nama) Yasar (mudah), Rabah (Untung), Najah (sukses), atau Aflah (bahagia). Karena (jika) kamu bertanya, apakah ia ada di sana ? Dan ternyata ia tidak ada, maka jawabannya tidak.
(HR.Muslim)

Selain itu kita sebagai orang tua juga dilarang untuk memberikan nama anak dengan nama-nama setan, nama para malaikat, nama Allah, nama-nama Alquran dan surahnya.

Itulah nama-nama yang dianjurkan, diharamkan serta dimakruhkan oleh Allah dan Rasulnya. Nah agar keberkahan dan amalan sunnahnya kita dapatkan tentu kita perlu mengikuti tata aturan ini sebagai acuan dalam pemberian nama untuk putra dan putri kita. Sebagai pilihan dalam memberi nama pada anak kita bisa menggunakan nama nabi, nama para sahabat, tabi’in, ulama, tokoh-tokoh muslim atau nama-nama yang mengandung makna kebaikan dan tidak menyalahi tuntunan yang ada.

Siapa yang paling berhak memberikan nama untuk anaknya ? Bijaknya tentu memberikan nama pada anak hasil dari musyawarah ayah dan ibunya. Akan tetapi jika terdapat perselisihan diantara keduanya maka ayahlah yang paling berhak memberikan nama pada anaknya. Banyak hadits dan ayat yang menjadi landasannya. Sebagaimana halnya nama seorang anak dipanggil dengan nama ayahnya, bukan nama ibunya. Dikatakan, Fulan bin Fulan. Allah Swt berfirman,

“Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka ; itulah yang lebih adil di sisi Allah.”
(Al-Ahzab : 5)

Seorang anak dalam Islam mengikuti nasab (keturunan) ayahnya. Penamaan merupakan identifikasi terhadap nasab dan mansub (orang yang dinasabi)

Menghkhitan anak

Ibnul Qayyim al Jauziyah menjelaskan khitan bagi laki-laki adalah “batas” yang melingkar di ujung kemaluan, yang apabila “batas” itu sudah tidak ada, maka akan menyebabkan adanya 300 lebih konsekuensi hukum, bahkan sebagian ulama ada yang mengumpulkan sampai 392 konsekuensi hukum. Sementara bagi perempuan khitan adalah sebuah kulit yang yang terdapat di atas kemaluannya menyerupai jengger ayam. Apabila “hasyafah” (kulit) tersebut sudah tidak ada pada kemaluannya, maka potongan kulit laki-laki akan sejajar dengan potongan kulit perempuan. Dan apabila keduanya sudah sejajar, maka keduanya bisa bertemu. Kesimpulannya adalah khitan merupakan sebuah tempat, yaitu tempat sisa kulit yang telah dipotong.

Syariat khitan berawal sejak zaman nabi Ibrahim As, dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah Rasulullah Saw bersabda,

“Nabi Ibrahim As berkhitan pada usia delapan puluh tahun di Qadum”
(HR.Bukhari)

Rasulullah Saw sendiri menyebutkan khitan adalah bagian dari fitrah manusia sebagaimana beliau bersabda,

“Fitrah itu ada lima; Khitan, mencukur rambut kemaluan, mencukur kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak..”

Rasulullah menjadikan khitan sebagai bagian pokok dari fithrah karena sesungguhnya fithrah itu adalah ajaran yang lurus (Al-Hanafiyyah) yaitu millah (ajaran) Nabi Ibrahim As. Fithrah ini telah Allah perintahkan kepada Nabi Ibrahim (untuk dilaksanakan) serta merupakan salah satu kalimat (perintah dan larangan) yang dengannya Allah menguji Nabi Ibrahim (Lihat Surat Al-Baqarah : 124).

Tujuan pokok dari fithrah itu ada dua macam, yang pertama membersihkan jiwa dan mensucikan hati, dan yang kedua mensucikan badan. Tiap-tiap dari dua hal diatas saling mendukung dan saling menguatkan. Dan yang merupakan pokok dari fithrah badan adalah khitan.

Sebagian besar ulama menyepakati hukum khitan adalah wajib dengan dalil bagian dari perintah Allah Swt untuk mengikuti Nabi Ibrahim

“Kemudian kami wahyukan kepadamu (Muhammad)”Ikutilah agama Ibrahim yang lurus”
(An-Nahl : 123)

Untuk waktu pelaksanaan khitan inilah pendapat beberapa ulama

  • Ibnu Abbas mengatakan, “Orang-orang tidak mengkhitan anak sebelum berakal.” Al-Maimuni berkata, “Saya pernah mendengar Imam Ahmad berkata, ‘Dahulu Al-Hasan Al-Bashri memakruhkan khitan anak pada hari ketujuhnya.”
  • Hambal mengatakan, “Abu Abdullah (Imam Ahmad) berkata, “Tiada masalah bila si anak dikhitan pada hari ketujuh dari kelahirannya’. Al-Hasan menilai makrih hal ini hanya untuk menghindarkan diri dari tasyabuh dengan orang-orang Yahudi, tetapi sebenarnya tidak menjadi masalah.”
  • Makhul mengatakan, “Ibrahim mengkhitan anaknya, Ishaq, saat berusia tujuh hari, dan mengkhitan Ismail pada usia 13 tahun.Demikianlah seperti yang disebutkan oleh Al-Khallal.”
  • Ibnu Taimiyyah berkata, “Khitan Ishaq menjadi tuntunan yang diikuti di kalangan keturunannya dan khitan Ismail juga menjadi tuntunan yang diikuti di kalangan keturunannya. Akan tetapi, berkaitan dengan khitan Nabi masih diperselisihkan mengenai waktunya kapan hal itu terjadi

Di Indonesia sendiri pelaksanaan khitan lebih umum dilakukan ketika anak berusia 7-12 tahun namun karena kemajuan teknologi seperti sunat laser ada juga yang melaksanakan khitan pada saat anaknya lahir atau di bawah 5 tahun.

Sumber referensi

  1. Buku Islamic Parenting
  2. Buku fiqh wanita
  3. Buku Kado Menyambut si Buah hati

 

 

Artikel Menarik Lainnya







comments