Penting nggak sih menyusun anggaran belanja rumah tangga ? Tentu jawabannya penting bahkan sangat penting. Tetapi sayangnya banyak yang mengabaikan. Menganggap menyusun anggaran belanja rumah tangga tak perlu dipusingkan, membiarkan mengalir dengan begitu saja.

Keluarga sebagai organisasi yang kecil agar kondisi keuangannya selalu sehat membutuhkan penyusunan anggaran belanja, mulai dari anggaran belanja tahunan, bulanan hingga harian. Tentu tujuannya agar bisa menyesuaikan pengeluaran dengan pemasukan, menghindari terjadinya pengeluaran lebih besar dibanding pemasukan, menghindari terjadi pembelian barang-barang yang tidak penting sementara yang dibutuhkan tidak dibeli dan untuk menghindari terjadinya ketimpangan antara uang belanja, cicilan hutang serta tabungan.

Untuk itu keterampilan menyusun anggaran belanja rumah tangga perlu dipelajari, dikuasai dan dipraktekkan dalam kehidupan berumah tangga.

Mengenali Anggaran Belanja Rumah Tangga

Dr.Akram Ridha dalam bukunya Pintar mengelola keuangan keluarga sakinan menjelaskan anggaran belanja rumah tangga adalah upaya untuk menyeimbangkan atau meluruskan dua sisi timbangan antara pemasukan dan pengeluaran di antara syaratnya adalah :

  1. Harus disesuaikan dengan jangka waktu tertentu
  2. Harus diketahui surplus-nya jika memang ada, lalu menentukan bagaimana cara mengelola dan menginvestasikannya.
  3. Harus diketahui defisitnya jika memang ada, lalu mengupayakan bagaimana cara menutupnya

Menyusun anggaran belanja tentu harus dilakukan suami istri dan merupakan kesepakatan bersama. Maka perlu diadakan musyawarah atau rapat keluarga dalam penyusunan anggaran belanja rumah tangga ini.

Kenapa Harus Mempersiapkan Anggaran Belanja Rumah Tangga

Berikut adalah beberapa alasan kenapa kita harus mempersiapkan anggaran belanja rumah tangga :

  1. Memudahkan kita untuk memprediksi jumlah pemasukan dan pengeluaran
    Anggaran belanja akan membantu kita memprediksikan berapa jumlah pemasukan dan pengeluaran yang akan terjadi dalam jangka waktu tertentu.
  2. Anggaran belanja akan membantu kita untuk menutupi defisit (kekurangan)
    Anggaran belanja dapat membantu kita untuk mempelajari lebih dulu cara untuk menutupi defisit. Dengan demikian, kita bisa segera mengaturnya sedemikian rupa sesuai kondisi-kondisi yang memungkinkan. Jika menemui kesulitan, maka kita bisa melakukan evaluasi untuk menekan pos-pos pengeluaran, atau paling tidak menangguhkannya.
  3. Membantu kita cara efektif mengelola dana surplus
    Dengan memiliki anggaran belanja maka akan membantu kita untuk mempelajari cara-cara mengembangkan atau menginvestasikan dana surplus.
  4. Anggaran belanja akan membantu kita memperkirakan berapa pemasukan dan pengeluaran
    Anggaran belanja dapat membantu kita untuk bermusyawarah dalam memperkirakan berapa jumlah pemasukan yang didapat dan yang harus dikeluarkan, serta bagaimana cara mengelola penghasilan.
  5. Membantu anggota keluarga untuk memperhitungkan pemasukan, pengeluaran dan pengaturannya secara efektif
    Anggaran belanja dapat membantu anggota keluarga memperhitungkan secara matang pemasukan, berikut pengaturannya agar bisa berkembang secara efektif. Juga memperhitungkan pengeluaran berikut pengaturannya agar tidak terjadi kebocoran.
  6. Membantu anak-anak agar bisa mengatur keuangan sejak dini
    Anggaran belanja dapat melatih dan membiasakan anak-anak bagaimana cara mengatur keuangan dan ekonomi rumah tangga, sebagai persiapan jika kelak mereka berkeluarga.
  7. Menciptakan kestabilan ekonomi rumah tangga
    Anggaran belanja dapat membantu menciptakan kestabilan ekonomi rumah tangga. Juga membantu mewujudkan rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warrahmah. Sebab kondisi ekonomi stabil, keuangan sehat tentu akan membuat kualitas hubungan suami istri juga meningkat menjadi lebih baik.

Karakteristik yang Harus Dimiliki Keluarga Agar Anggaran Belanja Rumah Tangga yang Disusunnya sukses terealisasi

Agar anggaran belanja yang disusun bersama oleh suami dan istri sukses bisa dijalankan maka masing-masing keluarga harus memiliki beberapa karakter penting. Sebab, pada kenyataannya tak sedikit juga yang sudah merencanakan dan menyusun biaya anggaran belanja rumah tangganya akan tetapi tidak terlaksana dengan baik.

Berikut adalah beberapa karakter yang harus dimiliki agar anggaran belanja rumah tangga yang telah disusun menuai kesuksesan.

  1. Musyawarah
    Suami tanggung jawab utamanya adalah mencari nafkah sementara istri membelanjakannya. Maka dibutuhkan musyawarah antara suami dan istri dalam pengaturan anggaran belanja rumah tangga. Kalau misalkan ada anggota keluarga lain maka ajaklah mereka untuk ikut berumusyawarah. Pastikan anggaran belanja yang telah disusun adalah hasil musyawarah bersama, bukan hanya keputusan sepihak.
  2. Realistis
    Dalam menyusun anggaran belanja rumah tangga harus realitsis disesuaikan dengan kemampuan dan serta keperluan. Tidak terlalu optimis berlebihan akan banyaknya penghasilan dan juga tidak terlalu pesimis takut tidak memiliki penghasilan.
  3. Keseimbangan
    Seorang istri yang pintar adalah yang dapat mengatur pengeluaran sesuai dengan pemasukan yang didapat. Bukan sebaliknya. Istri yang pintar tentu memastikan terlebih dahulu jumlah pemasukannya baru membuat anggaran belanja, menyusun apa saja yang akan dibeli.
  4. Fleksibel
    Harus fleksibel terutama saat menghadapi berbagai perubahan, seperti anak sakit sehingga membutuhkan pengeluaran tak terduga atau kemungkinan lain seperti gaji suami yang terlambat cair dan berbagai hal lainnya.

Itulah beberapa karakter penting yang perlu dimiliki oleh masing-masing keluarga agar anggaran belanja yang telah disusun bersama sukses.

Aspek – Aspek Anggaran Belanja Rumah Tangga

Anggaran belanja rumah tangga sendiri terdiri dari empat aspek. Dua aspek pokok (pendapatan dan pengeluaran) dan dua aspek pengikutnya (surplus dan defisit) .

Melalui keempat aspek inilah langkah-langkah untuk mempersiapkan anggaran belanja bisa dijalankan.

1.  Menentukan Pendapatan
Pendapatan sendiri terdiri dari 3 jenis diantaranya adalah :

  1. Pendapatan pokok
    Pendapatan pokok adalah pendapatan yang bersifat periodik atau semi periodik. Jenis pendapatan ini mempunyai sumber pokok yang bersifat permanen. Contohnya gaji bulanan bagi para pegawai atau karyawan
  2. Pendapatan penunjang
    Pendapatan penunjang adalah pendapatan yang dihasilkan oleh kepala keluarga dalam bentuk tambahan dan bersifat terduga, pendapatan ini bersifat tidak pasti.
  3. Pendapatan lain-lain
    Pendapatan lain adalah pendapatan yang tidak terduga. Contohnya adalah hadiah, warisan dan lain sebagainya.

Jangka waktu pendapatan
Pendapatan pokok jangka waktunya bisa bersifat bulanan, mingguan atau harian. Di antara bentuk paling ideal untuk dijadikan patokan adalah pendapatan yang bersifat bulanan.

2. Menentukan kondisi pendapatan dan proposi tabungan

Kondisi pendapatan dalam rumah mana pun kita akan mendapati bahwa hal itu berkisar pada salah satu lima kondisi di bawah :

  1. Pendapatan tetap dan memiliki pendapatan terduga
    Kondisi yang pertama adalah saat memiliki pendapatan tetap dan terduga, kondisi ini adalah paling baik, stabil dan aman. Jika kondisi keuangan anda seperti ini maka akan memudahkan anda menentukan anggaran belanja rumah tangga. Jika kondisi pendapatan anda seperti ini maka anda bisa menggunakan pendapatan terduga sebagai tabungan.
  2.  Pendapatan tetap, tetapi tidak memiliki pendapatan terduga
    Kondisi ini masih bagus. Tetapi kita harus menentukan kadar jumlah tabungan dari pendapatan tetap. Maka formulanya adalah :
    Pemasukan = Pendapatan tetap dikurangi jumlah tabungan
  3. Pendapatan tidak tetap, tetapi cukup sampai pertengahan bulan.
    Kondisi ini juga masih tergolong bagus, karena bisa dianggap sebagai pendapatan tetap walaupun hanya cukup untuk setengah bulan. Kondisi ini hampir menyerupai kondisi kedua. Setiap surplus dalam jangka setengah bulan bisa jadi defisit pada bulan lain. Karena kondisi bulan yang satu berbeda dengan yang lainnya. Oleh sebab itu kita harus mengumpulkan jumlah tabungan dari hasil rata-rata setengah bulan. Maka rumusannya adalah
    Pemasukan = Pendapatan rata-rata setengah bulan dikurangi jumlah tabungan
  4. Pendapatan tidak tetap dan tidak cukup untuk hidup sampai pertengahan bulan
    Kondisi ini paling memprihatinkan. Pendapatan yang tidak cukup untuk sampai pertengahan bulan bisa menyebabkan kesulitan dalam membuat anggaran belanja (budget). Untuk menyiasatinya perlu menentukan kebutuhan primer terlebih dahulu. Setelah itu, buatlah anggarannya untuk jangka waktu satu bulan. Pemasukan atau pendapatan anda dalam kondisi seperti ini adalah setengah dari kebutuhan-kebutuhan primer anda.
  5. Para pemilik pendapatan serabutan (Freelance)
    Freelance adalah para pekerja di sektor perdagangan, pemiliki usaha kecil, pemilik apotik dan lain sebagainya. Mereka adalah para pemilik modal yang dikelola sendiri. Tetapi mereka tidak dapat menentukan berapa pendapatan perbulannya, karena pendapatannya bercampur aduk dengan modal sehingga sulit ditentukan. Orang dalam kondisi ini harus pandai mengatur keuangannya, memastikan hanya boleh mengambil keuntungan saja agar modalnya tidak tergerus yang menyebabkan akhirnya usahanya bangkrut.

3. Menentukan skala prioritas
Masalah pembelanjaan anggaran rumah tangga telah diatur oleh prinsip-prinsip syariat Islam seperti berikut :

  1. Prinsip halal dan baik atau dengan kata lain tidak haram dan tidak kotor
  2. Prinsip hidup sederhana atau dengan kata lain tidak boros dan tidak terlalu irit
  3. Prinsip keseimbangan antara memprioritaskan kebutuhan primer dengan kebutuhan-kebutuhan lainnya.
  4. Menentukan pengeluaran
    Untuk menentukan pengeluaran tentu kita harus mengelompokkan pengeluaran berdasarkan waktu. Dalam kehidupan keluarga ada beberapa jenis pengeluaran diantaranya adalah :
  5. Pengeluaran yang bersifat harian contohnya untuk kebutuhan pokok seperti makan
  6. Pengeluaran yang bersifat mingguan contohnya liburan seminggu sekali
  7. Pengeluaran yang bersifat bulanan contohnya membayar listrik, iuran masyarakat, biaya bulanan anak sekolah dan sejenisnya
  8. Pengeluaran yang bersifat tahunan contohnya biaya perayaan lebaran, berkurban dan sejenisnya
  9. Pengeluaran yang bersifat berkala pengeluaran untuk ibadah umrah, merenovasi rumah dan sejenisnya
  10. Pengeluaran yang bersifat sekali seumur hidup contohnya untuk menunaikan ibadah haji, membantu biaya pernikahan anak dan sejenisnya.

Tips Belanja Hemat dan Produktif

Berikut adalah beberapa tips belanja agar kondisi keuangan tetap sehat.

  1. Membeli barang yang benar-benar dibutuhkan
    Pada dasarnya seseorang berbelanja dipengaruhi oleh dua hal, yang pertama adalah karena kebutuhan dan yang kedua karena keinginan. Yang menjadikan seseorang sulit untuk mengontrol pengeluarannya adalah saat mengikuti keinginannya. Membeli barang-barang yang mereka inginkan, padahal sebenarnya belum dibutuhkan. Nah, agar keuangan anda sehat maka bijaklah dalam membeli suatu barang, pastikan barang yang anda beli adalah yang benar-benar dibutuhkan.
  2. Kalau bisa makan di rumah, usahakan makan di rumah
    Saat ini makan di luar sudah menjadi trend tersendiri, kalau sesekali sekedar mengisi liburan tentu tak masalah. Akan tetapi jika dilakukan keseringan tentu hal ini tidak baik untuk kondisi keuangan sekaligus juga tidak baik untuk kesehatan. Banyak penelitian makanan fastfood bukanlah makanan yang sehat.
  3. Menetapkan jadwal belanja
    Tentukan jadwal belanja rutin anda apakah sebulan sekali atau seminggu sekali. Hindari belanja di luar jadwal-jadwal yang telah ditentukan.
  4. Berpikir kreatif untuk mengatasi suatu masalah
    Membeli adalah solusi paling mudah untuk mengatasi setiap masalah. Jika setiap masalah yang dihadapi selalu diatasi dengan membeli tentu ini menjadi bahaya. Untuk itu cobalah berpikir kreatif cari solusi lain sebelum membeli, kalau bisa jadikan membeli sebagai solusi terakhir.
  5. Belajar untuk menangguhkan
    Ketika ingin membeli kebutuhan yang sifatnya sebagai pelengkap, maka tangguhkanlah sampai minggu depan atau ketika waktunya datang. Coba, tahan lagi hingga minggu berikutnya.
  6. Makan satu piring untuk dua orang
    Jika sebelumnya makan satu piring untuk satu orang cobalah untuk makan satu piring untuk dua orang. Uang yang biasanya anda belikan makanan untuk empat orang, sekarang coba belikan untuk enam orang. Mengurangi jumlah makan ini akan menghemat pengeluaran untuk biaya pokok membeli makanan. Selain hemat, ini pun termasuk dalam sunnah nabi sebagaimana sabda beliau :
    “Makanan yang sedianya untuk satu orang sebenarnya cukup untuk dua orang, dan makanan yang sedianya untuk dua orang sebenarnya cukup untuk empat orang”
  7. Tidak menjadi budak dari brand dan model
    Brand , trend dan model adalah berhala yang oleh sebagian orang harus diikuti. Membeli barang berdasarkan brand dan trend bukan berdasarkan manfaat dan kebutuhannya tentu akan meningkatkan pengeluaran berlipat-lipat. Padahal sebenarnya banyak barang dengan kualitas yang sama bahkan lebih baik meskipun tidak terkenal.
  8. Membaca do’a saat berbelanja di pasar
    Berikut adalah do’a yang bisa anda baca saat memasuki tempat perbelanjaan.
    “Ya, Allah, aku memohon kepada-Mu atas kebaikan pasar ini dan kebaikan yang ada di dalamnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang ada di dalamnya” dan do’a lainnya.
    “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari transaksi jual-beli yang merugikan, sumpah palsu, tindakan menipu, dan tertipu”

Tidak mengabaikan pengeluaran kecil dan sederhana

Terkadang kita sering mengabaikan pengeluaran kecil dan sederhana padahal jika dihitung-hitung dalam jumlah waktu tertentu akhirnya terlihat besar juga. Banyak hal yang menyebabkan pengeluaran kecil dan sederhana diantaranya adalah :

  1. Jajan makanan dan minuman ringan
  2. Surat kabar harian dan mingguan
  3. Pemakaian paket internet
  4. Jalan-jalan untuk sesuatu yang tidak perlu

Untuk menjaga agar keuangan tetap sehat sebisa mungkin hindarilah pengeluaran kecil dan sederhana yang tidak begitu penting.

Bijak dalam berhutang

Rasulullah Saw bersabda

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari segala kesulitan dan kesedihan. Aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan malas. Aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan bakhil. Aku berlindung kepadamu-Mu dari jeratan utang dan tekanan orang-orang yang berkuasa.”
(H.r Abu Dawud)

Dalam hadits lain Rasulullah menyampaikan hutang sebanding dengan kekafiran karena sebab Rasulullah Saw berdo’a

“Aku berlindung kepada Allah dari kekafiran dan utang.” Lalu, tiba-tiba ada seorang laki-laki bertanya, “Wahai rasulullah, adakah utang itu sebanding dengan kekafiran?” Rasulullah menjawab “Benar”
(H.r. An-Nasa’i)

Kalau ada sesuatu yang dibolehkan namun mesti sangat dihindari itulah hutang. Hutang mesti sangat dihindari oleh setiap rumah tangga. Terlebih lagi utang untuk belanja dan hutang yang menyebabkan terjadinya transaksi riba.

Utang akan membuat kehidupan di dunia menjadi resah, gelisah dan tak tenang. Apalagi jika berhutang pada institusi keuangan maka siap-siaplah untuk berhadapan dengan debt collector yang menakutkan, bersiap juga dengan resiko disitanya barang berharga anda. Belum lagi di akhirat, lagi-lagi Rasulullah Saw mengingatkan kita untuk perkara yang satu ini.

“Napas seorang mukmin tergantung kepada utang yang dimilikinya.” (H.r.Ahmad)

Dalam hadits yang lain disebutkan, dari Samurah bin Jundab, dia berkata, “Suatu ketika Rasulullah Saw mengerjakan shalat subuh. Setelah itu beliau bertanya, ‘Apakah di sini ada seseorang (yang telah meninggal dunia) dari bani fulan?’ Para jamaah menjawab, ‘Benar.’ Lalu, Nabi bersabda, ‘Sesungguhnya salah satu teman kalian itu tertahan di pintu surga karena jeratan utang yang dimilikinya (Saat di dunia).” (H.R.Ahmad)

Muhammad bin Jahsy pun pernah meriwayatkan hadis dari Rasulullah Saw, dia berkata, “Suatu hari, aku sedang duduk di samping Rasulullah Saw. Tiba-tiba beliau mengangkat kepalanya ke langit, lalu beliau meletakkan telapak tangannya ke dahi seraya bersabda, ‘Mahasuci Allah yang telah menurunkan kedahsyatan-Nya’. Atas ucapan Nabi tersebut, kami terdiam bercampur kaget. Keesokan harinya, aku bertanya mengenai kata-kata yang keluar dari mulut beliau kemarin, ‘Kedahsyatan apa yang telah diturunkan oleh Allah ? Nabi Saw menjawab, ‘Demi Zat yang diriku berada dalam genggaman-Nya, seandainya saja ada seseorang yang mati di jalan Allah, kemudian ia dibangkitkan kembali, kemudian mati lagi, dan ia masih memiliki tanggungan utang, maka ia tidak akan masuk surga, sehingga ia melunasi utangnya terlebih dahulu.” (H.R. An-Nasa’i)

Dari Abdullah bin Al-ash bahwasanya Rasulullah Saw telah bersabda, “Setiap dosa orang yang mati syahid akan diampuni, kecuali (perkara) utang.” (H.R Muslim)

Sungguh mengerikan sekali bukan, begitulah dahsyatnya keburukan berhutang. Terlilit utang sering kali juga menjadi penyebab utama hancurnya rumah tangga. Oleh karena itu mari kita sama-sama saling mengingatkan untuk menghindari berbagai jenis hutang.

Seseorang melakukan hutang biasanya karena keinginan yang terlalu besar untuk memiliki sesuatu tetapi belum mencukupi cukup uang untuk membelinya sehingga akhirnya memilih jalan berhutang atau kredit untuk pemenuhan keinginan tersebut. Apalagi saat ini dimana-mana bertebaran berbagai jenis penawaran hutang baik yang harian, mingguan, bulanan hingga tahunan. Untuk mendapatkannya pun tidak terlalu sulit, hanya membutuhkan fotocopy surat-surat tertentu uang bisa segera cair. Jika anda memilih sistem berhutang sekaligus riba seperti ini tentu akan mendapatkan dua keburukan sekaligus, keburukan karena berhutan ditambah lagi keburukan riba yang telah jelas-jelas Allah larang.

Merasa cukup dengan apa yang dimiliki, mensyukuri apa yang didapati adalah cara untuk menjauhkan diri dari berhutang. Hindari hidup karena gengsi, ingin dilihat orang keren, hebat dan sejenisnya. Untuk apa anda tinggal di rumah mewah tapi setiap bulan anda pusing memikirkan cicilannya, apa gunanya anda naik kendaraan bagus tapi setiap waktu hati anda khawatir tak punya dana untuk melunasinya dan untuk apa memiliki ini itu, terlihat kaya, terlihat gaya tapi semuanya hasil dari hutang. Bersyukur dengan apa yang ada, merasa cukup dengan pemberian Allah Swt, jauhi berhutang InsyaAllah hidup anda akan terasa tenang.

Sumber referensi :

Materi tulisan diatas disarikan dari buku karya Dr. Akram Ridha berjudul “Pintar Mengelola Keuangan Keluarga Sakinah”

Artikel Menarik Lainnya







comments