Pertanyaan :

Aku sebelumnya ngga pernah yg namanya pacaran,  terus baru ini aku menjalani hubungan tapi tidak pacaran, selama 18 bulan kami dekat dan aku ngerasa sudah benar2 mencintai dia. Tapi ini rasanya seperti kami berpacaran. Namun karena kesalahanku yg sering mengabaikan, dia akhirnya mengkhianatiku. Dan skrg dia bersama wanita lain. Aku menyesal telah menyia2kan dia, aku ingin kembali dan memperbaiki semuanya agar ia tidak jatuh ke yg lain. Sungguh dia pria yg sabar sekali, rajin beribadah, penyayang, dan baik hati. Aku tipe orang yang -sekali mencintai, aku benar2 tulus mencintai- walau kadang caraku salah. Aku sangat menyesal dan sedih kini dia memilih wanita lain. Mengapa dia memilih pergi ketimbang membicarakan perihal kekuranganku yang membuatnya tak nyaman? Kemudian aku tersadar, apakah ini caranya Allah menunjukkan murkaNya kepadaku karena sudah berlebihan dalam mencintai seseorang dlm hubungan yg belum halal? Aku mencoba sabar dan ingin menunggunya hingga suatu hari nanti ia kembali sendiri tanpa ada wanita lain disisinya, sambil aku memperbaiki dan memantaskan diriku ini. Bukankah jodoh adalah cerminan dari diri kita? Apakah dengan aku berusaha untuk memperbaiki diriku dan terus berdoa kepada Allah agar aku dapat dipertemukan kembali dengannya dalam ikatan yg halal? Judul Pertanyaan: Apa mungkin bisa berjodoh?

Jawaban :

Alhamdulillah jika mbak S sudah menyadari adanya ‘ketidakberesan’ yang mungkin tidak Allah ridhoi dalam interaksi dengan pria tersebut. Semoga hidayah Allah terus melimpah pada Mbak.

 Apapun yang terjadi, kita tidak pernah tahu siapa jodoh kita di kemudian hari. Kita juga tidak tahu apakah dia yang sangat kita cintai, memang benar-benar orang terbaik di mata Allah bagi kita. 

Oleh karenanya kalau boleh menyarankan, sebaiknya mbak fokus untuk kembali kepada Allah, memperbagus ibadah, mendekatkan diri kepada-Nya, dan tidak larut dalam peristiwa yang sudah lalu. Jika mbak menunggunya agar menjadi jodoh Mbak, apakah sudah pasti dia akan jadi jodoh kelak? Saya justru khawatir potensi kekecewaan akan membesar jika memang nanti tak sesuai harapan.

 Apa yang Mbak lakukan yaitu memperbaiki dan memantaskan diri, sudah bagus sekali. Jika kita berusaha untuk dekat dengan-Nya dan berusaha menjadi lebih baik, bukan tidak mungkin Allah akan menjodohkan kembali, atau bahkan, memberi yang jauh lebih baik daripada dia. We’ll never know J

Jadi berdoalah agar Allah menenangkan hati kita dan memberikan jodoh terbaik dari sisi-Nya. 

Semoga istiqomah ya Mbak.

gbr dari https://www.google.com/url?sa=i&rct=j&q=&esrc=s&source=images&cd=&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwiD7aGj7LDSAhWEW7wKHd9FAjUQjhwIBQ&url=http%3A%2F%2Fwww.donsautobody1.com%2F365631-flower-light-quick-shopping&bvm=bv.148073327,d.dGc&psig=AFQjCNGyuJNd6xHVPdaReCAL3nUKRsVfBA&ust=1488304433167530

Indra Fathiana

Indra Fathiana

Lulusan Fak. Psikologi UI ini sangat mencintai dunia keluarga, disamping minat lainnya pada dunia pendidikan dan bisnis. Selain fokus mendidik kedua putrinya di rumah, ia aktif menjadi pengurus komunitas ibu muslimah “Mommee”, terlibat dalam program remaja “Sahabatku” bersama sejawat, menyelenggarakan social entrepreneurship project untuk pemuda, serta menulis artikel di sela-sela kesibukannya. Baginya, sukses terbesar seorang wanita adalah saat Allah dan pasangan ridho kepadanya, melahirkan generasi yang gemilang, serta menjadi manfaat bagi semesta.

Kirim Pertanyaan

Kamu memiliki masalah, unek-unek atau sekedar pertanyaan seputar kemuslimahan? Kirim pertanyaan kamu ke rubrik konsultasi Elmina dan Insyaallah kami akan berusaha menjawab pertanyaan kamu. Pertanyaan yang dikirim sebaiknya ditulis dengan bahasa yang jelas, ringkas, dan sopan. Tim redaksi akan menyortir terlebih dahulu pertanyaan yang masuk sebelum ditampilkan di rubrik konsultasi.

Form Konsultasi

15 + 7 =

Artikel Menarik Lainnya







comments