Satu hal penting yang tak bisa dipisahkan dalam proses pernikahan adalah walimatul ‘ursy atau sering disingkat walimah. Walimah secara syariat adalah sunnah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah Saw. Walimah dihadirkan sebagai bentuk pemberitahuan pada masyarakat, bentuk syukur pada Allah Swt, sebagai amal sosial dan sebagai jalan untuk mensyiarkan  pada khalayak ramai seperti apa semestinya walimatul ‘ursy yang sesuai dengan syariat.

Walimah diantara syariat dan adat

“Buatlah sebuah perayaan, adakah walimah an meskipun hanya dengan memotong seekor kambing.” (HR Bukhari dan Muslim)

Rasulullah Saw. menganjurkan pada kita untuk mengadakan walimah dalam setiap pernikahan meskipun itu sangat sederhana sekali, walau hanya memotong seekor kambing. Tetapi perlu dipahami walimah hukumnya sunnah, kalau memungkinkan mengadakannya walau sesederhana mungkin, adakanlah. Akan tetapi jika benar-benar tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya maka tidak apa-apa hanya sampai akad pernikahan saja.

Walimah adalah sunnah Rasullullah Saw, melakukannya tentu menjalankan sunnah insyaAllah akan bernilai ibadah dan berbuah pahala kebaikan. Agar walimah yang diselenggarakan benar-benar bernilai ibadah maka perlu diperhatikan bagi penyelenggaranya untuk memastikan agar walimah yang dilaksanakan sesuai dengan syariat dan tidak bertentangan dengan syariat yang telah digariskan.

Tak bisa dipungkiri walimah atau dalam masyarakat kita lebih dikenal dengan pesta pernikahan akan bersinggungan dengan adat, kebiasaan daerah setempat dalam menyelenggarakan walimah. Setiap daerah memiliki cara penyelenggaraan walimah yang berbeda dengan daerah lainnya. Sayangnya tak sedikit penyelenggaraan walimah bertentangan dengan syariat Islam . Misalnya mengadakan walimah yang terlalu wah sehingga menjadi mubazir, memasukkan ritual-ritual yang mengandung kemusyrikan dalam penyelenggaraan walimah, menampilkan biduan wanita yang membuka aurat, adanya perjudian dalam walimah, percampur baur laki-laki dan perempuan hingga larut malam dan banyak lagi yang lainnya.

Memang untuk menyamakan persepsi pemahaman antara anak dengan orang tua dan keluarga besar tentang penyelenggaraan walimah yang syar’i ini bukanlah hal yang mudah. Tapi sudah menjadi kewajiban bagi anak menyampaikan pada orang tua dan keluarga besarnya agar menyelanggarakan walimah yang syar’i. Tujuannya tentu bukan hanya untuk terlihat wah dan mewah saja tapi untuk menggapai kebarakahan dari walimah yang diselenggarakan.

Agar komunikasi dengan orang tua dan keluarga besar tentu akan lebih baik hal ini dikomunikasikan jauh-jauh hari oleh anak pada orang tuanya. Sampaikan pada orang tua pentingnya menyelenggarakan walimah yang tidak menyalahi aturan syariat Islam. Disini jugalah pentingnya kita perlu memiliki bekal keilmuan seputar pernikahan termasuk tentang walimah.

Satu hal lagi yang perlu diperhatikan oleh setiap mempelai yang akan menikah adalah untuk tidak melakukan foto preewedding atau sesi foto sebelum pernikahan, dimana dalam sesi foto ini calon mempelai berpose dengan saling berpegangan, berangkulan, saling berpandangan serta adegan mesra dan romantis lainnya. Biasanya ini dipaketkan dengan penyelenggaraan pesta pernikahan. Sebelum melakukan ijab kabul, sebelum ada akad nikah maka status hubungan antara laki-laki dan wanita tetaplah bukan mahramnya. Dimana berlaku padanya aturan syariat yang membatasi pergaulan antara laki-laki dan perempuan seperti tidak boleh berdua-duaan, bersentuhan tangan dan lain sebagainya.

Adab – adab walimah sesuai sunnah

Berikut adalah ada-adab walimah sesuai sunnah yang dikutip  dari buku Barakallahulaka Bahagianya Merayakan Cinta karya Ustadz Salim A. Fillah dengan beberapa tambahan dari kami.

  1. Kewajiban walimah
    Rasulullah Saw pernah bersabda, “Untuk satu pengantin (sepasang pengantin ) harus diadakan walimah” (HR. Ahmad)
  2. Pengertian Walimah
    Rasulullah Saw bersabda :
    “Rahasiakanlah pinangan dan umumkanlah pernikahan!” (HR. Ibnu Hibban). Sementara dalam riwayat lain disampaikan dari Anas in Malik r.a., ia berkata, “Tatkala Rasulullah Saw menikahi seorang perempuan, beliau mengutus saya agar mengundang orang-orang yang menghadiri jamuan makan” (HR.Bukhari)
  3. Tempat walimah
    Rasulullah Saw bersabda
    “Umumkanlah pernikahan ini. Adakanlah di dalam masjid. Dan meriahkanlah dengan pukulan rebana” (HR Ahmad & Tirmidzi)
    Sementara dalam riwayat lain disebutkan
    “Ketika Abu Usaid as-Sa’idi menikah, dia mengundang Nabi Saw dan para sahabat ke rumahnya” (HR.Bukhari) .
    Dari penjelasan ini tentu dapat kita ambil kesimpulan penyelenggaran walimah boleh dilakukan di masjid maupun di rumah. Jika seandainya rumahnya tidak bisa memenuhi tamu dan jamuan yang hadir tentu dibolehkan untuk memakai tempat lain seperti gedung dan sejenisnya sebagai tempat penyelenggaran walimah
  4. Waktu Walimah
    Dari Anas bin Malik r.a ia berkata,
    “Di kala Nabi Saw menikahi shafiyyah binti Huyyai, beliau menjadikan pembebesan diri Shaffiyyah sebagai mahar. Beliau mengadakan walimah selama tiga hari”
    (Hr. Abu Ya’la)
    Ini adalah selang waktu berkunjung kepada mempelai untuk mendoakan. Termasuk juga berkunjung ke kediaman mereka.
  5. Hidangan Walimah
    Dari Anas bin Malik r,a ia berkata.
    “Suatu ketika ia (Abdurrahman bin Auf) datang kepada Rasulullah mengenakan pakaian yang penuh dengan noda-noda minyak wangi za’faran-dalam riwayat lain : minyak wangi khaluq. Rasulullah bertanya padanya, “Ada apa denganmu?” Abdurrahman menjawab, “Ya Rasulullah, saya telah menikah dengan wanita Anshar.” Rasulullah bertanya, “Apa maharnya?” Ia menjawab “Emas satu nawat.” Beliau bersabda, “Semoga Allah membarakahi pernikahanmu. Adakanlah walimah meski hanya dengan seekor kambing.” (Hr.Bukhari)
    Dalam riwayat lain dari Anas bin Malik r.a ia berkata,
    “Tidaklah aku saksikan bagaimana Rasulullah menyelenggarakan walimah untuk istri beliau seperti yang aku saksikan saat beliau menikahi Zainab. Beliau menyembelih seekor kambing” Anas berkata, “Beliau menjamu para tamu dengan roti dan daging sampai tidak habis (Hr.Bukhari).
  6. Bolehnya hidangan walimah tanpa daging
    Dari Anas bin Malik r.a., ia berkata,
    “…Dalam walimah tersebut tidak terhidang roti ataupun daging. Saya hanya disuruh oleh beliau Saw untuk mengambil alas makan dari lembaran kulit yang disamak rapi, lalu saya hamparkan. Kemudian saya meletakkan kurma, keju, dan minyak samin di atas alas makan itu. Lalu para tamu makan hingga mereka kenyang.
    (Hr. Bukhari dan Muslim)
  7. Orang-orang kaya ikut menyumbang dalam penyelenggaraan walimah
    Anas bin Malik r.a berkata,
    “Maka pada pagi harinya Rasulullah telah resmi menjadi pengantin. Kemudian beliau bersabda, “Barangsiapa mempunyai sesuatu untuk disumbangkan, maka hendaklah disumbangkan.” Beliau mengamparkan alas makan dari lembaran kulit yang telah disamak rapi. Ada orang yang menyumbang keju, ada yang menyumbang kurma, ada yang menyumbang minyak samin. Mereka bersama-sama membuat hais (makanan lezat campuran kurma, keju, dan minyak samin).” (Hr.Bukhari)
  8. Yang diundang menghadiri walimah adalah orang-orang shaleh
    Rasulullah Saw bersabda
    “Usahakanlah makananmu hanya dimakan oleh orang-orang yang bertakwa”
    (Hr.Abu Dawud dan Tirmidzi)

Itulah beberapa adab-adab walimah yang sesuai dengan sunnah.Perlu diketahui, dipelajari dan dipahami oleh setiap muslim atau muslimah agar bisa menyelenggarakan walimah yang sesuai dengan sunnah.

Undangan yang membawa keberkahan

Saat menyelenggarakan walimatul ‘ursy tentu anda akan mengundang tamu-tamu untuk menghadiri perayaan pernikahan anda. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum menyebarkan undangan kepada para tamu diantaranya adalah.

  1. Menyesuaikan jumlah undangan dengan kemampuan penyelenggara walimatul ‘ursy Sebelum menyebar undangan ada baiknya pihak penyelenggara melihat kapasitas dan kemampuan dalam mengadakan walimatul ‘ursy. Jangan sampai terlalu memaksakan diri untuk mengadakan resepsi yang besar dengan undangan yang sangat banyak akan tetapi tidak sebanding dengan kemampuan ekonomi yang dimiliki. Banyak kasus terjadi dalam masyarakat kita untuk menyelenggarakan resepsi pernikahan sampai menjual barang berharga dan berhutang kesana kemari bahkan pada renteinir atau bahkan sampai menunda pernikahan lantaran dana yang dimiliki belum mencukupi untuk mengadakan pesta besar. Sesuaikan dengan kemampuan, tak perlu dipaksakan apalagi sampai mengabaikan kewajiban. Walimatul ‘ursy memang penting tapi hukumnya sunnah bukan wajib. Jika memang anggaran dana yang dimiliki tak mencukupi bisa mengadakan resepsi dengan undangan kerabat-kerabat terdekat saja.
  2. Mengundang orang-orang shaleh
    Rasulullah Saw bersabda
    “Jangan bersahabat kecuali dengan orang-orang beriman dan jangan makan makananmu kecuali orang-orang bertakwa” (Hr. Tirmidzi).
    Dalam hadist ini Rasulullah Saw mengingatkan kita untuk mengundang kerabat diutamakan orang-orang shaleh. Salah satu alasannya tentu agar mendapatkan do’a dari mereka. Tapi bukan berarti dilarang mengundang kerabata atau sahabat yang mungkin tidak seiman.
  3. Mengundang yang orang dari berbagai status ekonomi
    Rasululullah Saw bersabda
    “Makanan paling buruk adalah makanan dalam walimah di mana orang-orang kaya yang diundang makan , sedangkan si miskin tidak (HR.Muslim, Baihaqi, dan lain-lain) . Imam An-Nawawi dalam Syarah Muslim menjelaskan bahwa hadits di atas berupa berita tentang apa yang akan terjadi pada manusia setelah beliau tiada, di mana terdapat perhatian besar terhadap orang-orang kaya dalam berbagai acara, pengkhususan undangan, hidangan makanan, tempat duduk dan mengutamakan pelayanan terhadap mereka, sebagaimana yang sering dalam pelaksanaan walimah. Sementara Ibnu Mas’ud juga berkomentar tentang hal ini, “Jika undangan itu dikhususkan untuk orang-orang kaya, sementara orang-orang fakir tidak diundang maka tidak ada keharusan untuk memenuhi undangan tersebut.” Pada intinya tidak perlu membeda-bedakan tamu, setiap tamu yang diundang sama dan berikanlah mereka pelayanan yang juga sama. InsyaAllah ini lebih barakah.

Memilih tempat dan tata rias selama walimah

Di bagian adab-adab walimah sesuai sunnah diatas sempat juga kita singgung tempat mengadakan walimah. Rasulullah Saw menganjurkan walimatul ‘ursy diadakan di masjid atau rumah mempelai. Namun karena hal tertentu seperti rumah yang tidak mencukupi kapasitas jumlah tamu undangan maka walimatul ‘ursy bisa diadakan di tempat lain.

Banyak tempat bisa dimanfaatkan untuk menyelenggarakan walimah seperti gedung, aula, halaman sekolah, gedung serba guna dan lain sebagainya. Saat memilih tempat penyelenggaraan walimah perlu diperhatikan beberapa hal diantaranya adalah

  1. Kapasitas ruangan yang sebanding dengan jumlah undangan
  2. Tempat yang dipakai memiliki sarana ibadah yang baik atau dekat dengan tempat ibadah. Ini penting bagi tamu undangan yang ingin melaksanakan ibadah shalat
  3. Memiliki kamar mandi atau WC yang memadai
  4. Jika tempatnya di lapangan terbuka pastikan memiliki tenda yang cukup untuk berlindung jika tiba-tiba hujan turun saat pelaksanaan walimah
  5. Memungkinkan untuk membuat terpisah tempat tamu undangan laki-laki, perempuan dan yang membawa keluarga. Tujuan utamanya tentu agar tidak terjadi percampur bauran antara laki-laki dan perempuan

Selain memilih tempat, memilih tata rias serta pakaian yang dipakai selama walimatul ‘ursy juga perlu diperhartikan. Beberapa hal penting terkait tata rias dan penampilan diantaranya adalah :

  1. Memastikan pakaian yang dipakai mempelai laki-laki maupun wanita menutup aurat. Jika itu adalah pakaian daerah maka usahakan agar seluruh aurat tetap tertutup
  2. Memilih pakaian serta make up yang tidak menganggu ketika jam shalat tiba. Jangan sampai saat walimatul ‘ursy kedua mempelai melewatkan waktu shalatnya hanya karena sulitnya mengganti pakaian atau make up yang ribet.
  3. Memastikan kosmetik yang dipakai adalah halal
  4. Memilih perias wanita untuk merias wanita

Hidangan dalam walimah

Pada bagian adab-adab walimah sesuai sunnah diatas juga sudah kita bahas secara ringkas tentang hidangan. Pada intinya semua makanan halal boleh dijadikan sebagai hidangan dalam walimatul ‘ursy. Untuk hidangan dalam walimah pun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya adalah :

  1. Pastikan makanan yang disajikan adalah halal dan baik. Ini adalah hal utama yang sangat perlu diperhatikan oleh penyelenggara apalagi jika menyerahkan persiapan hidangan pada pihak tertentu. Maka pastikan makanan yang tersaji halal dari segi asal, zat maupun pengolahannya. Sementara baik adalah menyajikan makanan yang sehat, bermanfaat dan tidak menimbulkan kemudharatan bagi tamu yang menikmati.
  2. Boleh mengadakan walimah tanpa daging Anjuran utamanya dalam walimah mengusahakan memotong seekor kambing, tapi apabila karena satu dan lain hal ini tidak memungkinkan maka diperbolehkan untuk melakukan walimah tanpa menyajikan daging.
  3. Menyajikan hidangan sesuai dengan perkiraan jumlah tamu yang hadir agar tidak terjadi mubazir Tak sedikit penyelenggaraan walimah berakhir dengan makanan yang berlebih, menumpuk dan akhirnya malah dibuang. Maka penyelenggara perlu memiliki perhitungan cermat dalam menyiapkan makanan sesuai dengan perkiraan jumlah tamu yang akan hadir.
  4. Menyiapkan tempat duduk saat makan bagi tamu, tujuannya agar tidak ada tamu yang makan atau minum sambil berdiri Dalam pesta pernikahan yang modern dengan mudah kita melihat para hadirin makan dan minum secara berdiri, dan ini menjadi hal biasa. Alangkah baiknya jika penyelenggara menyiapkan tempat duduk bagi para tamu yang hadir, agar mereka bisa menikmati hidangan sembari duduk. Selain mengikuti sunnah rasul tentu makan dan minum sambil duduk juga lebih bagi kesehatan.
  5. Mengantisipasi makanan berlebih dengan memberikan pada yang membutuhkan Jika pada akhirnya hidangan yang disajikan masih berlebih maka anda bisa membungkusnya dengan rapi dan membagikan pada yang membutuhkan seperti anak jalanan, pengemis, pemulung atau mungkin mengantarkannya pada panti sosial.

Menghadirkan hiburan dalam walimah

Ar-Rubayi’ binti Mu’awidh berkata, “Ketika saya kawin, Rasulullah Saw masuk dan duduk di pelaminan saya sejauh jarakmu duduk denganku (diucapkan kepada perawi hadits ini). Saya menyuruh beberapa hamba sahaya untuk menabuh rebana dan menyanyikan lagu kepahlawanan bapak-bapak kami sebagai syuhada dalam perang badar.”

“Tiba-tiba salah seorang hamba sahaya itu mengucapkan kata, “Dan diantara kita ada seorang nabi yang mengetahui apa yang akan terjadi esok.” Rasulullah Saw. menegur “Jangan kau ucapkan perkataan itu, tetapi ucapkan saja isi nyanyian tadi.”
(HR.Bukhari, Ahmad dan Baihaqi)

Dari riwayat diatas kita bisa ambil kesimpulan bahwa adanya nyanyian dan rebanaan dalam walimatul ‘ursy dan Rasulullah hadir serta ikut mendengarkannya. Mengadakan hiburan sebagai bagian dari walimatul ‘ursy dibolehkan malah juga dianjurkan untuk menghibur para tamu yang datang. Tentu juga perlu diperhatikan beberapa hal dalam mengadakan hiburan diantaranya adalah :

  1. Hiburan yang diadakan tidak mengandung maksiat Hiburan yang diadakan tidak mengandung maksiat serta tidak menyebabkan hadirnya maksiat. Hindari hiburan yang menampilkan penyanyi wanita dengan aurat terbuka, hindari hiburan yang menyebabkan terjadi goyang bersama atau dansa antar tamu, hindari hiburan mengandung unsur perjudian dan lain sebagainya
  2. Hiburan yang diadakan tidak menganggu lingkungan Jika mengadakan walimah di rumah yang dekat dengan lingkungan masyarakat perlu diperhatikan agar hiburan yang diadakan tidak menganggu istirahat serta kenyamanan masyarakat sekitar.

Sumber referensi :

  1. Buku Indahnya Menikah Tanpa Pacaran karya Agus Ariwibowo
  2. Buku Wonderful Marriage karya Ustadz Cahyadi Takariawan
  3. Buku Barakallahulaka Bahagianya merayakan cinta karya Ustadz Salim A. Fillah

 

Artikel Menarik Lainnya







comments