Pasangan muda, khususnya yang baru melansungkan pernikahan tentu akan menghadapi persoalan ini yaitu dilema untuk memilih “ngutang” rumah atau ngontrak rumah. Karena tak bisa dipungkiri sudah menjadi budaya dalam kehidupan kita -khususnya masyarakat indonesia- yang menjadikan rumah sebagai kebutuhan primer yang mesti dimiliki.

Maka tak jarang jika anak baru saja selesai melansungkan pernikahan akan mendapat pertanyaan “kapan beli rumah”? “kapan kredit (ngutang) rumah ?” atau mungkin motivasi senada seperti “semoga segera punya rumah”, “nabung ya agar bisa buat DP kredit rumah” ada juga yang setengah memaksa “Kamu harus targetkan tahun depan mesti bisa kredit rumah”. Namun untuk beberapa keluarga ada juga yang menjadikan punya rumah sebagai syarat wajib untuk bisa menikahi anaknya.

Hal ini tentu baik dan tujuan orang tua kita tentu sangat baik, mereka berharap anaknya memiliki kehidupan yang nyaman setelah pernikahan, karena punya rumah sendiri tentu lebih nyaman dari pada ngontrak. Akan tetapi bagi pasangan muda khususnya yang masih dalam fase berjuang, merintis usaha ataupun karir sehingga otomatis penghasilanpun belum cukup untuk membeli rumah secara tunai tentu harus bisa mempertimbangkan matang-matang sebelum memutuskan untuk ngutang rumah.

Alasan pertama adalah alasan secara syar’i, setiap rumah yang dikredit biasanya dibantu oleh pihak bank sehingga akan ada unsur riba dalam transaksi kredit rumah ini, meskipun sebagai solusinya memakai bank syariah namun perlu dilakukan pemahaman yang lebih mendalam lagi karena tak sedikit juga berbagai institusi perbankan yang mengatasnamakan syariah namun masih ternodai oleh unsur riba. Dan, alasan kedua adalah tentang kemampuan untuk membayar cicilan, kalau seandainya memiliki penghasilan tetap sebutlah 3 – 4 kali lipat dari UMR tentu untuk membayar cicilan setiap bulan tidak akan terlalu berat, namun jika penghasilan hanya pas-pasan apalagi tidak tetap jika dipaksakan tetap ngutang rumah tentu akan menjadi beban.

Memiliki rumah tentu lebih nyaman daripada ngontrak, namun jika rumahnya ngutang dengan transaksi riba ditambah lagi penghasilan setiap bulan masih pas-pasan tentu akan memberatkan. Yang pada akhirnya akan berdampak pada kelanggengan dalam rumah tangga, jika kasusnya seperti ini tentu ngontrak jauh lebih menenangkan.

Bagi pasangan yang baru menikah perlu lebih bijak sebelum mengambil keputusan untuk ngutang rumah, perlu menimbang lebih mendalam secara hukum syar’inya terutama yang terkait dengan unsur riba. Dan juga dilihat kemampuan untuk membayar cicilan yang waktunya tidak singkat, beberapa rumah yang dikreditkan memiliki jangka waktu kredit 10 – 15 tahun tergantung dengan besaran DP (Down Payment ) atau uang muka.

Hal penting yang perlu juga diketahui adalah saat seseorang melakukan kredit rumah itu bukan berarti rumah yang ditempati menjadi miliknya sebelum rumah itu dibayar lunas karena surat-surat kepemilikan rumah dipegang oleh pihak bank . Rumah tersebut sewak-waktu bisa saja berpindah tangan disita oleh pihak bank saat terjadi keterlambatan dalam membayar cicilannya.

Ngontrak atau ngutang ? Pilihlah mana yang lebih menenangkan hati, menentramkan jiwa serta membuahkan keberkahan. Kebahagiaan rumah tangga tak ditentukan oleh status rumah yang dimiliki namun ada pada tingkat ketaatan dan ketakwaan pada Allah SWT. Rumah ngutang bukan berarti menjadi lebih mulia dari yang masih ngontrak, dan jika ada tuntutan dari orang tua ataupun mertua untuk segera kredit rumah maka bicarakanlah baik-baik sampaikan terutama tentang bahaya riba dan juga tentang kemampuan untuk membayar cicilannya setiap bulan.

Sumber foto : wartakota.tribunnews.com

Artikel Menarik Lainnya







comments