Hal istimewa yang Allah karuniakan kepada setiap wanita adalah haid (menstruasi). Secara ilmiah haid adalah perubahan fisiologis dalam tubuh wanita yang terjadi secara berkala dan dipengaruhi oleh hormon reproduksi baik FSH-Estrogen atau LH-Progesteron. Periode ini penting dalam hal reproduksi. Pada manusia, hal ini biasanya terjadi setiap bulan antara usia remaja sampai menopause. Pada wanita siklus menstruasi rata-rata terjadi sekitar 28 hari, walaupun hal ini berlaku umum, tetapi tidak semua wanita memiliki siklus menstruasi yang sama, kadang-kadang siklus terjadi setiap 21 hari hingga 30 hari. Biasanya, menstruasi rata-rata terjadi 5 hari, kadang-kadang menstruasi juga dapat terjadi sekitar 2 hari sampai 7 hari paling lama 15 hari. Jika darah keluar lebih dari 15 hari maka itu termasuk darah penyakit. Umumnya darah yang hilang akibat menstruasi adalah 10mL hingga 80mL per hari tetapi biasanya dengan rata-rata 35mL per harinya.

Sementara secara Islam haid adalah gerbang awal masuknya seorang anak perempuan pada fase baligh. Fase baligh juga merupakan fase penting dalam kehidupan setiap anak perempuan, maka dibutuhkan peran serta dampingan dari orangtua untuk memberikan pemahaman tentang apa, bagaimana dan harus seperti apa menghadapi masa-masa menstruasi ini.

Islam sendiri memberikan perhatian khusus terhadap fase mensturasi ini. Permasalahan menstruasi dibahas dalam Al-qur’an dan juga oleh para ulama fikih. Diantaranya adalah firman Allah Swt dalam surah Al-Baqarah ayat 222 :

“Dan mereka bertanya kepadamu (wahai Muhammad) tentang haidh. Katakanlah : “Haidh itu suatu kotoran.” Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri”

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa sahabat yang bertanya tentang haid dalam ayat diatas justru merupakan seorang pria, yaitu Tsabit bin Dahdah Ra atau Usaid bin Hudhair Ra bersama Abbad bin Bisyr Ra menurut keterangan beberapa riwayat.

Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa latar belakang para sahabat tersebut menanyakan perihal haid adalah karena mereka ingin tahu apa saja yang harus mereka lakukan ketika isteri mereka sedang haid. Sebab, berdasarkan kebiasaan kebanyakan orang arab waktu itu, mereka mengucilkan sang istri apabila sedang datang bulan, termasuk tidak mau makan dan minum bersama mereka. Bahkan, ada sebagian mereka mengeluarkan isteri dari rumah, kecuali bila telah selesai haid, persis seperti yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan ditiru oleh sebagian Masyarakat Madinah kala itu. Dengan turunnya ayat ini, maka Allah Swt menjelaskan bahwa sang istri harus tetap diperlakukan seperti biasa sesuai hak dan kewajibannya, satu-satunya hal yang tidak boleh dilakukan adalah dengan istri pada masa haid tersebut.

Sementara dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan, mengutip hadits dalam Shahih Muslim dari Anas bin Malik R.a. beliau bercerita : Salah satu kebiasaan orang-orang Yahudi di Madinah, yaitu apabila istri mereka sedang haid, mereka mengucilkan istri-istri mereka. Tidak diberi makan di dalam rumah dan tidak dibolehkan tidur bersama. Maka para sahabat menanyakan tentang hal ini kepada Rasulullah Saw, lalu kemudian turunlah surah Al-baqarah ayat 222 sebagaimana telah dikutipkan diatas. Inilah salah satu dari bentuk Islam memulikan wanita yang sedang haidh, kalau di masa-masa sebelumnya seorang wanita haidh adalah aib, memalukan serta dikucilakan. Dan hadirnya Islam memuliakan wanita yang Haidh, tetap dihormati, dihargai hanya saja dilarang bersetubuh dengan wanita sedang haidh. Selain ini larangan dari Allah Swt, secara ilmu kesehatan pun menyetubuhi wanita yang sedang Haidh akan menyebabkan munculnya beberapa kerusakan.

Syaikh Kamil Muhammad Uwaidah dalam bukunya Fiqih Wanita mengelompokkan wanita yang menjalani masa haidh menjadi tiga kelompok, diantaranya :

  1. Wanita yang baru menjalani masa haidh. Ini adalah kelompok wanita yang baru pertama kali merasakan haidh, baru pertama kali mengeluarkan darah menstruasi. Saat itu ia memiliki kewajiban untuk meninggalkan shalat, puasa dan juga memegang kitab suci Al-quran. Rasulullah Saw bersabda “Apabila datang haidmu, maka tinggalkanlah shalat.” (Muttafaqun Alaih). Pada fase pertama kali merasakan haidh seorang anak akan mengalami sensasi yang berbeda-beda seperti perut sakit, perih, mual. Disinilah orangtua perlu menjelaskan kalau si anak telah mulai beranjak dewasa, haid adalah hal normal yang pasti akan dilewati oleh setiap wanita hingga masa menopause nanti.
  2. Wanita yang biasa menjalani masa haidh Ini berlaku pada wanita yang telah biasa menjalaninya setiap bulan. Pada hari-hari haid mereka harus meninggalkan shalat, puasa dan hubungan badan. Apabila ia melihat darah berwarna kekuning-kuningan atau berwarna keruh setelah hari-hari haidnya tersebut, maka ia tidak perlu menghitungnya sebagai darah haid. Hal ini sesuai dengan ucapan Ummu Athiyah “Kami tidak memperhitungkan sama sekali darah yang berwarna kekuning-kuningan dan yang berwarna keruh setelah lewat masa bersuci.” (HR. Al-Bukhari). Untuk wanita yang sudah biasa menjalani haid tentu sudah mulai tau dan mengenali bagaimana dan apa yang ia rasakan saat haid datang.
  3. Wanita yang mengalami Istihadah Istihadah adalah wanita yang mengeluarkan darah secara terus-menerus melebihi kebiasaan masa berlansung haid.

Imam Nawawi rahimahullah ketika menjelaskan tentang kitab haid dalam Shahih Muslim memerlukan ulasan yang cukup panjang. Setidaknya, Imam Nawawi perlu menghabiskan 300 halaman lebih dalam kitab itu. Imam Nawawi menyampaikan bahwa pengetahuan haid merupakan salah satu disiplin fikih yang wajib mendapat perhatian. Sebagaimana tulisan beliau dalam salah satu penggalan mukadimah kitab Al-Majmu’ :

“Awalnya, saya mengulas persoalan haid pada Syarh Kitab Al- Muhadzdab ini dalam satu jilid besar yang mengandung berbagai hukum penting. Namun, kemudian saya urungkan dan hanya menulisnya secara ringkas, sekedar untuk mencapai tujuan syarh yang saya anggap penting agar pembaca tidak gusar dengan pembahasannya yang terlalu panjang.”

Sementara Imam Ibnu Nujaim rahimahullah berkata, “ Pengetahuan tentang permasalahan hukum haid merupakan salah satu tugas yang paling penting karena berkaitan dengan banyak hukum dalam syariat. Selain merupakan kewajiban yang paling besar, karena ketika orang jahil tentang persoalan haid akan mengakibatkan kejahilannya terhadap hukum lain dalam syariat tersebut.”

Sebab itu, penting bagi setiap orangtua untuk mendalami keilmuan tentang haid ini. Tidak hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk putri-putrinya nanti. Orangtua harus menjelaskan tentang haid kepada putrinya, sampaikan bagaimana menghadapinya, jelaskan tentang hukum-hukumnya serta menjawab segala pertanyaan yang mungkin saja ditanyakan oleh putrinya seputar haid. Kebanyakan masyarakat menganggap membicarakan masalah haid adalah tabu, sehingga pada akhirnya orangtua membiarkan saja anaknya sendiri merasakan lalu mencari tau apa itu haid. Tentu ini adalah sebuah pemikiran yang tidak tepat, tidak ada ketabuan dalam menjelaskan hal ini pada anak, bahkan sebaiknya memang menjadi bagian dari tugas orangtua untuk menjelaskan pada anaknya.

Haid adalah gerbang memasuki kedewasaan

Haid adalah gerbang memasuki kedewasaan, saat anak sudah memasuki fase ini maka saat itulah ia menjadi seorang muslimah yang baligh dan dewasa. Secara usia kapan pertama haid terdapat perbedaan dari beberapa anak, ada yang haid pertama di usia 12-13 tahun, tetapi ada juga yang sudah haid pertama di usia 9 tahun. Rasulullah Saw mengingatkan kita para orangtua agar sudah bersiap-siap saat anak menjelang usia 9 tahun sebagaimana sabda beliau.

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar Ra dan Asiyah Ra. Rasulullah Saw bersabda, “Apabila seorang wanita telah memasuki usia 9 tahun, maka ia telah sempurna sebagai wanita.” (Hr.At-Tirmidzi)

Imam Al-Baihaqi secara ringkas menjelaskan hadits di atas bahwa yang dimaksud oleh Rasulullah Saw dengan usia 9 tahun adalah saat mengalami menstruasi. Secara biologis haid juga pertanda sistem reproduksi di rahim telah sempurna dan matang.

Nilai-nilai pembelajaran di masa menstruasi

Target utama dari pendidikan cara nabi (parenting nabawiyah) untuk anak perempuan adalah melahirkan seorang Muslimah yang berkarakter dan berkepribadian Islam seutuhnya. Paling tidak ada 10 karakter utama dalam diri anak yang harus ditanamkan oleh orangtua pada anaknya. Adapun dari 10 karakter tersebut adalah :

  1. Salimul ‘aqidah (Memiliki akidah yang benar)
  2. Shahihul ‘ibadah (Mengetahui cara ibadah yang benar)
  3. Matinul khulq (Memiliki akhlak terpuji)
  4. Mutsaqqaful fikr (Memiliki wawasan yang luas)
  5. Qawiyyul jism (Memiliki tubuh yang sehat dan kuat)
  6. Nafi’ li ghairi (Bermanfaat bagi orang lain)
  7. Harish ‘ala waqtihi (Mampu memanfaatkan waktu)
  8. Mujahid li nafsihi (Bersungguh-sungguh dan disiplin)
  9. Qadir ‘alal kasb (Mampu mandiri dan berdikari)
  10. Munazhzham fi syu’unihi (Rapi dan teratur)

Pembelajaran tentang haid adalah bagian dari proses untuk mencapai target pembentukan 10 karakter diatas dalam pribadi seorang muslimah. Anak perempuan yang tumbuh menjadi seorang muslimah yang berkarakter (setidaknya memiliki 10 karakter diatas) akan menjadi kebahagiaan bagi orangtuanya, ia akan menjadi hiasan bagi suaminya nanti, bagi madrasah peradaban bagi anak-anaknya dan menjadi tiang yang akan membangun kekokohan bangsa kita bahkan dunia muslim pada umumnya.

Menstruasi adalah alarm bagi orangtua untuk segera mengenalkan anaknya pada  syariat dan hak-hak Allah Swt. Termasuk juga hak-hak orangtua dan hak-hak orang lain. Pendidikan tentang menjaga diri, membatasi pergaulan dengan lawan jenis, menjaga lisan dan hal-hal penting lainnya. Ali bin Abi Thalib mengingatkan kita kalau seorang wanita yang tumbuh dengan kurangnya pendidikan agama yang didapat akan membuat dia menjadi wanita liar dan menjadi bencana bagi keluarga.

Ali bin Abi Thalib Ra mengatakan, “Jika wanita dibiarkan melakukan apa yang mereka inginkan, mereka akan mendatangkan kebinasaan; mereka akan merusak harta benda; mereka mudah melupakan kebaikan dan selalu mengingat-ngingat keburukan; mereka akan sibuk menyebar gosip dan leluasa melakukan kesewenangan (H.r. Muslim).

Untuk itu nilai-nilai ketakwaan, ketaatan dan akhlak perlu diajarkan pada anak sejak dini, khususnya pada fase menstruasi. Berikut adalah 5 nilai pembelajaran yang perlu diajarkan pada anak di fase haid.

1. Fisiologi Haid dan Dampak Hukum

Saat menjalani haid khususnya haid pertama anak perempuan kita akan mengalami berbagai perubahan fisiologi. Memahami tentang fisiologi haid penting dilakukan untuk membantu orangtua memahami apa yang terjadi pada putri mereka di fase haid serta mengantisipasi apabila sang putri memiliki kelainan pada organ reproduksi.

Sebab hal ini penting Rasulullah Saw dalam suatu kesempatan pernah menjelaskan tentang bentuk darah haid. Sebagaimana sabda beliau :

“Kalau darah haid itu, warnanya hitam dan sudah dikenali (oleh wanita).”
(H.r.An-Nasa’i)

Para psikolog pun menganjurkan agar seorang ibu sebaiknya aktif mendiskusikan tentang haid pertama kepada putri mereka menjelang mereka haid. Tentu ini bertujuan agar nanti anak tidak merasa kaget, takut bahkan sampai trauma saat mengalami haid pertama. Para orangtua perlu meyakinkan pada putrinya kalau haid adalah hal biasa, normal dan dialami oleh setiap wanita.Orangtua juga perlu menjelaskan bahwa haid pertama biasanya diketahui dari noda darah yang ada pada pakaian dalam atau ketika pergi ke kamar mandi. Pada umumnya, darah haid mula keluar berwarna hitam. Kemudian berubah menjadi merah. Lalu antara merah dan kuning. Setelah kuning, akhirnya menjadi keruh, yakni antara putih dan hitam. Terakhir putih bersih tanda haid telah selesai.

Anak juga perlu tahu bahwa reaksi tubuh saat fase haid berbeda-beda ada yang perutnya sakit, mules, sakit di pinggul, dan ada juga yang tidak merasakan sakit. Ada yang keluar di dahului dengan lendir kuning kecoklatan, dan ada pula yang lansung keluar berupa darah kental.

Fase haid biasanya di dahului atau diiringi oleh perubahan-perubahan krusial pada seorang anak perempuan, diantaranya adalah :

  1. Perubahan fisik dan fisiologis (fungsi organ) Pada masa pertama kali menstruasi anak perempuan mungkin merasa tegang atau emosional, merasa nyeri (kram) yang berlansung beberapa jam atau lebih di bagian perut, punggung dan kaki. Rasa nyeri juga akan dirasakannya di bagian dadanya (payudara) terasa lembek dan wajah berjerawat.
  2. Perubahan psikis Emosinya meningkat, tidak mood, mudah tersinggung, dan perasaan kurang nyaman.
  3. Perubahan sosial Menarik diri dari lingkungan sosial dan semacamnya.

Berbagai perubahan serta gejala yang dirasakan sebelum haid seperti diatas disebut sebagai Premenstrual Syndrome (PMS) atau sindrom pra-haid, yaitu sekumpulan gejala normal tidak menyenangkan yang terjadi dan terkait dengan siklus menstruasi wanita.

Berdasarkan sebuah penelitian, sebanyak 85% wanita akan mengalami gejala-gejala khas yang berkaitan dengan periode haid mereka, sementara dalam jumlah yang lebih sedikit yakni 2% – 10% akan mengalami gejala yang sangat parah. Namun, tak perlu terlalu dikhawatirkan karena berbagai gejala yang dialami sebelum haid bersifat periodik dan akan hilang dengan sendirinya setelah masa haid tiba.

2. Kewajiban melaksanakan syariat agama

Sebagaimana telah kita bahas diatas, haid adalah pintu seorang putri untuk menuju fase kedewasaan. Akil baligh. Maka saat telah mengalami haid pertama maka menjalankan ibadah berupa hal-hal yang Allah wajibkan menjadi wajib baginya, begitu juga untuk meninggalkan hal-hal yang Allah Swt telah perintahkan untuk ditinggalkan. Beberapa diantara kewajiban seorang muslimah yang mesti disegerakan setelah haid pertama diantaranya adalah menjalankan ibadah wajib, menutup aurat dengan hijab syar’i dan juga menjaga diri dari berbagai pergaulan dengan yang bukan mahramnya.

3. Nilai sosial

Pengalaman haid pertama adalah awal memasuki usia remaja. Usia ketika seorang anak perempuan mengenal dunia luar. Ade Wulan dalam bukunya yang berjudul Dia yang kupanggil ibu menuliskan kalau ini adalah fase “coba-coba” bagi seorang anak. Anak lebih suka mencoba sendiri dibandingkan bertanya pada orangtuanya. Mereka akan mencoba hal baru yang mengundang rasa penasaran baginya.

Untuk itulah orangtua perlu memberikan pendampingan dengan bijak pada anak di fase ini. Memberikan pendampingan yang bijak adalah tidak terlalu mengekang anak dan juga tidak terlalu memberi kebebasan pada anak. Berbagai jenis pendidikan yang telah diberikan pada anak sejak fase sebelumnya akan memberi pengaruh kuat di fase ini. Sebagai contoh anak yang sudah terbiasa shalat serta berjilbab syar’i sejak usia 4 tahun tentu dengan mudah akan segera melakukannya di usia – usia ini. Sebab, kesadaran tentang ketaatan itu telah dibangun sejak dini.

Pada fase ini anak sedang mencari jati dirinya, anak nekat mencoba hal-hal baru yang dianggapnya seru. Dia butuh sahabat yang mampu menjadi pendampingnya, yang mampu mendengarkan suara hatinya dan juga memberikan pendapat-pendapat terbaik baginya. Jika dia mendapatkan itu semua di keluarga, maka keluargalah tempat terbaik baginya untuk mencurahkan segala perasaan dan kegundahan.

Akan tetapi jika si anak tidak mendapatkan hal itu dari keluarga maka dia akan mencarinya di luar. Apakah itu pada teman-temannya atau pada pacarnya. Inilah awal dari kenakalan remaja. Saat dia kehilangan pegangan di keluarganya sendiri.

Masa ini adalah masa pembentukan kepribadian anak, agar yang terbentuk adalah kepribadian terbaik. Kepribadian yang qur’ani tentu dibutuhkan peran aktif dari orangtua. Terkait hal ini Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menyampaikan betapa pentingnya peran orantua dalam membentuk kepribadian anak di masa remaja.

“Kebanyakan anak-anak menjadi rusak perangai mereka akibat perilaku orangtua yang kerap mengabaikan mereka. Banyak orangtua yang tidak mengajarkan tentang kewajiban agama kepada putra dan putri mereka, begitu juga tentang sunnah. Ketika mereka dilalaikan di waktu remaja, dan orangtua tidak memberikan manfaat ketika anaknya masih kecil, niscaya anak itu juga tidak akan memberi manfaat kepada orangtuanya ketika mereka tua renta.”

Ibnu Qayyim juga mengingatkan jangan sampai orangtua menyesal di kemudian hari dengan berkata, “Duhai anakku, mengapa engkau durhaka kepadaku?” Pertanyaan yang lantas dijawab sang anak, “Engkau ‘durhaka’ kepadaku ketika aku masih kecil, makanya aku pun durhaka kepadamu ketika engkau tua renta.”

Untuk itulah orangtua, baik ayah maupun ibu perlu mendidik dan mendampingi anaknya semenjak dini. Tidak hanya berfokus pada kebutuhan materi anak tetapi juga memperhatikan kebutuhan lainnya.

4. Nilai mental

Nilai pembelajaran lainnya yang perlu diajarkan pada anak di fase haid adalah pembentukan mentalnya. Ada tiga nilai-nilai yang mesti ditumbuhkan untuk membentuk mental yang baik dalam diri putri kita, diantaranya adalah :

  1. Menjaga kehormatan diri (‘Iffah) Secara bahasa ‘iffah berarti menahan diri dari sesuatu yang buruk dan tidak pantas. Al-Kharraz menyebutkan bahwa iffah adalah meninggalkan segala jenis syahwat dan menjaga kemaluan dari yang tidak pantas. Bagi seorang perempuan ‘iffah tercermin dari sikapnya menutup aurat, cara berbicara, cara berpenampilan serta bergaul dengan lawan jenisnya.
  2. Membiasakan kesederhanaan Salah satu naluri alami yang ada dalam diri setiap perempuan adalah berbelanja. Membeli banyak pakaian baru sesuai trendnya, membeli banyak perhiasaan. Bermewah-mewah adalah salah satu ekpresi membahagiakan bagi sebagian wanita. Untuk itu orangtua perlu mendidik anaknya untuk menjadi pribadi yang sederhana. Bisa membedakan mana yang menjadi kebutuhan serta mana yang hanya keinginan. Terkait hal ini ulama berpesan “Janganlah seorang ayah membiasakan anaknya dengan kesenangan. Membuatnya cinta pada perhiasan dan kemewahan sehingga ketika besar, ia selalu terobsesi untuk mengejarnya hingga ia binasa selamanya.
  3. Melatih diri untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab Rasulullah Saw bersabda, “Dan wanita adalah pemimpin dalam rumah suaminya (rumah tangganya), dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (H.r.Al-Bukhari) . Orangtua harus mendidik putrinya untuk menjadi seorang muslimah yang bertanggungjawab atas setiap tanggungannya.

5. Nilai intelektual

Tentu setiap orangtua menginginkan putrinya tumbuh menjadi anak yang juga cerdas dan pintar secara intelektual. Memiliki wawasan yang luas, berbagai macam keahlian serta bijak dalam bertutur kata. Untuk menenamkan berbagai nilai-nilai intelektual dalam diri anak, orangtua bisa mengajarkannya berbagai keahlian seperti keahlian memasak, menjahit, merawat anak, membersihkan rumah, berbagai kursus bahasa dan lain sebagainya. Tak ketinggalan juga putri kita juga perlu dibekali kemampuan untuk membaca ayat suci Al-qur’an. Wawasan tentang sirah nabawiyah dan lain sebagianya.

Referensi :

  1. Buku Doa dan amalan istimewa ketika datang bulan
  2. Buku Fiqh Wanita
  3. Buku Prophetic Parenting for Girls

Artikel Menarik Lainnya







comments