Aku Ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

(Sapardi Djoko Damono)

Mencintaimu dengan sederhana

Dalam membangun mahligai rumah tangga dibutuhkan cinta, cinta yang sederhana. Seperti apa cinta yang sederhana itu ? Puisi Aku Ingin karya Sapardi Djoko Damono diatas cukuplah untuk menjawabnya.

Tak ada pernikahan yang sempurna, begitu juga dengan cinta, tak ada yang sempurna. Tapi yang ada adalah pernikahan yang terus dijaga dan cinta yang terus disemaikan. Saat pernikahan anda terasa berantakan, terasa serba kacau dan bahkan terbersit sebuah kata dalam hati “Cukup sampai disini saja”. Maka cobalah kembali renungkan, sudahkan anda mencintai pasangan anda dengan sederhana ? Ataukah masih mencintai dengan cara yang rumit ?

Cinta itu sederhana, maka mencintalah dengan sederhana. Cinta yang sederhana tentu tak meminta balasan, cinta yang sederhana juga takkan mudah menyalahkan dan cinta yang sederhana takkan berbuah penyesalan.

Membersamaimu dengan sepenuh cinta

“Saya tidak sanggup lagi hidup bersamanya, saya menyesal telah menikah dengannya, saya tak mencintai dia sama sekali dan hari ini saya ingin segera berpisah dengannya. Untuk selamanya”. Ujar seorang seorang wanita dalam isak tangis pada ibunya.

“Nak..” jawab ibunya penuh kasih sayang. “Jika hari ini kamu bersama dengannya, itu ada campur tangan Allah. Allah yang memilihkan laki-laki itu untuk dirimu dan Allah jugalah yang memilihkanmu untuk laki-laki tersebut”  Jelas ibunya. Ibunya pun melanjutkan pembicaraan. “Cinta itu dibangun nak, jika hari ini kamu belum atau tidak mencintainya maka mulailah untuk mencintainya..Selama laki-laki itu masih baik padamu, selama dia menjalankan kewajibannya dengan benar maka teruslah bersamai dia…”

Bukan karena harta yang kurang, tidak karena tempat tinggal yang kurang nyaman  membuat rumah tangga goyah. Tapi tidak adanya pertemuan rasa, tidak munculnya cinta bisa juga menjadi petaka. Padahal dalam agama kita menikah bukan karena cinta dan untuk cinta saja. Tapi pernikahan adalah ibadah, ibadah sebagai bukti cinta pada Allah SWT. Jika memang permasalahan rumah tangga anda tentang persoalan cinta, tetap bersama sepenuh cinta. Cinta pada Allah SWT.

Menerimamu ‘apa adanya’

Saat belum menikah kita memiliki kesempatan untuk mengenali pasangan kita lebih dekat dan sedetail mungkin meskipun ini agak mustahil dilakukan. Saat seorang wanita menyebutkan mahar yang harus diberikan oleh calon suami padanya dan ketika pihak laki-laki menyanggupi mahar yang diminta. Maka semenjak itulah masing-masing pihak sudah menerima pasangan secara apa adanya.

Hingga semuanya dikuatkan oleh genggaman erat suami pada tangan calon mertuanya, mengucapkan sebait kata ijab kabul dan para saksikan yang menyaksikan pun kompak mengatakan “SAH”. Maka sejak itulah masing-masing pihak harus siap untuk menerima pasangannya secara ‘apa adanya’. Sengaja ‘apa adanya’ pakai kutip, karena bersyarat. Syaratnya adalah selama pasangan tidak melakukan tindakan yang mengingkari Allah dan Rasulnya.

Jadi selama pasangan kita masih dalam batas wajar, maka saat itulah kita harus menerima pasangan dengan ‘apa adanya’ Jika memang pasangan memiliki kekurangan berusaha mengingatkan untuk diperbaiki, ikhlas dan sabar menemani pasangan berproses menjadi lebih baik.

Saat pernikahan terasa semakin kacau mungkin cara mencintaimu yang teralu rumit, boleh jadi kamu belum mencoba membangun cinta yang indah dengannya dan mungkin juga kamu belum bisa menerimanya apa adanya. 

Artikel Menarik Lainnya







comments