Pernikahan yang bahagia selalu dipenuhi oleh bunga-bunga cinta tentu menjadi impian setiap pasangan. Pernikahan yang setiap aktivitas menumbuhkan cinta, setiap tatapan melekatkan sayang dan setiap kebersamaan menghadirkan kerinduan. Mungkinkah ? Tentu saja.

Rasulullah Saw memberikan contoh teladan bagi kita bagaimana menjadikan berbagai aktivitas kehidupan berumah tangga menjadi jalan untuk menjalin keakraban dengan pasangan sehingga pada akhirnya cinta selalu bersemi dalam setiap waktu. Romantisme dan kemesraan Rasulullah dalam berbagai aktivitas berikut patut kita jadikan teladan.

Cinta bersemi saat dandan bersama

Rasulullah Saw bersabda :

“Nabi menjulurkan kepalanya padaku ketika aku sedang haid padahal ketika itu beliau sedang beritikaf. Beliau meletakkan kepalanya dipangkuanu lalu kukeramasi kepalanya dan kusisir rambutnya, padahal aku sedang haid.” (H.r. Abdurrazaq)

Begitulah Rasulullah Saw memberikan teladan untuk kita, meminta ‘Aisyah menyisir rambut beliau ini menjadi aktivitas yang istimewa, menunjukkan kemesraan dan menampakkan keromantisan. Sederhana memang kelihatannya, tapi karena penuh cinta menjadi suatu yang istimewa.

Dalam hadits lain disebutkan juga :

“Sesungguhnya Nabi Muhammad Saw apabila meminyaki badannya, beliau memulai dari bagian auratnya dan beliau mengolesinya dengan nurah (sejenis serbuk pewangi). Kemudian istri beliau meminyaki bagian lain di sekujur tubuh beliau” (H.r Ibnu Majah)

Di hadits lain diceritakan tentang Rasulullah Saw minta pendapat tentang pakaian yang akan dipakainya.

“Nabi Saw pernah diberi hadiah mantel hitam, lalu beliau pakai mantel itu seraya berkata, “Bagaimana menurut pendapatmu pakaian ini wahai Aisyah?” Aku menjawab, “Alangkah bagusnya engkau dengan pakain itu, Ya rasulullah. Warna hitamnya serasi dengan putih kulitmu dan kulit putihmu serasi dengan warna hitamnya.” (H.r Ibnu Asakir)

Hal ini layak kita teladani untuk dilakukan kepada pasangan kita, menjadikan aktivitas berdandan menjadi suatu yang istimewa dan jalan sederhana untuk membuat cinta semakin bersemi.

Cinta bersemi saat saling memberi perhatian

Bagi seorang istri perhatian dari pasangan adalah energi yang menumbuhkan semangat dan keceriaan dalam dirinya, begitu juga bagi seorang laki-laki perhatian dari pasangan menjadi kekuatannya bahkan mampu membuat rasa lelahnya sirna.

Maka saling memberi perhatian adalah kebutuhan masing-masing pasangan, banyak cara yang bisa dilakukan untuk memberi perhatian pada pasangan. Semisalnya menanyakan kabarnya dengan penuh ketulusan, menatap matanya dan mendengarkan dengan penuh khusyuk saat pasangan berbicara, memegang tangannya dan juga mendekapnya.

Rasulullah Saw sendiri pernah suatu ketika membutuhkan perhatian dari Aisyah r.a istrinya. Saat itu Rasulullah Saw begitu merasakan beratnya beban dakwah yang beliau tanggung. Aisyah menceritakan beliau pernah mengenggam erat tangan Aisyah lalu berkisah tentang penentangan kaumnnya.

Disinilah terkadang masing-masing pasangan harus memiliki kepekaan yang tinggi, tau dan mengerti kapan pasangannya membutuhkan perhatian. Sehingga setiap momen ini menjadi momen berharga berseminya cinta.

Cinta bersemi saat istri haid

Tentu kita sama-sama menyadari saat haid adalah di mana kondisi seorang istri tidak stabil, perasa, sensitif. Selain itu secara secara fisik wanita yang sedang mengalami haid juga mudah lesu, lemah, mudah capek, pegal, mual, nyeri di bagian perut hingga pinggang.

Pada kondisi seperti ini sebenarnya istri butuh perlakuan khusus dari suaminya, bagaimana Rasulullah memperlakukan istrinya ketika haid ? Mari kita coba telusuri kisahnya melalui beberapa hadits berikut.

Dari Aisyah, bahwa Nabi SAW biasa mencium istri-istrinya setelah wudhu, kemudian beliau shalat tanpa mengulagi whudunya. (H.r. Abdurrazaq)

Dari Hafshah binti Umar, sesungguhnya Rasulullah biasa mencium istrinya sekalipun saat puasa” (H.r. Ahmad)

Aisyah berkata,”Aku beritahukan kepada-Mu apa yang pernah diperbuat oleh Rasulullah SAW. Pada suatu malam beliau masuk kerumah lalu ketempat sujud beliau. Beliau tak berpaling tak berpaling sedikitpun hingga aku tertidur. Ketika merasa kedinginan beliau bersabda, “Dekatkanlah dirimu kepadaku.” Maka aku berkata, “Sesungguhnya aku sedang haid.” Beliau bersabda,”Walaupun kamu sedang haid, bukalah kedua pahamu.” Aku lalu membukakan kedua pahaku sementara beliau meletakkan pipi dan dadanya di atas pahaku. Akupun menelengkungkan diri kepada beliau maka hangatlah beliau dan tidur.” (H.r. Abu Dawud)

Itulah cara Rasulullah memuliakan perempuan dan tentu juga untuk menjadi teladan bagi setiap laki-laki muslim agar mempelakukan istri-istrinya dengan penuh kasih sayang ketika haid sekalipun. Menjadikan kondisi haid momen istimewa yang tak terlupakan karena dimana di saat itu bertumbuhnya kasih sayang.

Cinta bersemi di dalam rumah

Rumah tempat utama dibangunnya rumah tangga, tentu sudah semestinya menjadikan tempat berat untuk ditinggal dan sangat dirindukan saat berada di luar. Tapi pada kenyataannya tak banyak yang merasakan, sebab yang dirasakan rumah menjadi nerakanya dunia. Merasa muak saat di rumah, tak ada kenyamanan, tak ada ketenangan sehingga keluar rumah menjadi suatu kebahagiaan tersendiri bagi penghuninya.

Tentu anda tidak menginginkan rumah anda seperti itu bukan ? Untuk itulah semestinya kita berusaha bagaimana menjadikan setiap ruang dan sudut di dalam rumah kita menjadi tempat bertumbuhnya cinta. Untuk hal ini, lagi-lagi Rasulullah Saw telah memberikan contoh dan teladannya pada kita.

  1. Saat di ruang tidur
    Dikisahkan dalam sebuah hadits kalau Rasulullah Saw menjaga kemesraan bersama istri-istrinya dengan menyiapkan selimut khusus sebagaimana diriwayatkan oleh al-Khathib
    “Rasulullah Saw mempunyai selimut yang dicelup dengan wars dan za’faran (minyak wangi). Beliau gilirkan selimut tersebut pada para istrinya sesuai malam gilir beliau pada mereka”
    Kita tentu juga bisa meneladani hal ini, menjadikan setiap sudut di ruang tidur kita menjadi tempat yang dirindukan, tempat hadirnya kebersamaan dan tumbuhnya kemesraan. Banyak hal bisa dilakukan seperti menjaga kebersihan ruang tidur, menyiapkan minyak wangi, menyediakan camilan kecil, dan berbagai hal lainnya.
  2. Saat di ruang makan
    Dari Aisyah ia berkata
    “Ketika sedang haid, aku minum, kemudian mug-nya aku berikan pada Nabi Saw. Beliau pun meminum pada bagian mug di mana tadinya aku meletakkan bibir. Demikian juga ketika di waktu haid aku menggigit sepotong daging, lalu sisa gigitan itu aku berikan pada beliau..Beliau tak segan menggigitnya pada bagian yang tadinya aku gigit” (H.r Nasa’i)
    Itulah salah contoh bagaimana membangun kemesraan di ruang makan, selain itu tentu masih ada beberapa hal yang bisa anda lakukan untuk membuat cinta turut bersemi di meja makan seperti tidak mencela makanan yang di masak istri, memuji masakannya serta menyelingi dengan obrolan sederhana penuh makna.
  3. Saat di kamar mandi
    Rasulullah Saw menjalin ikatan cinta di kamar mandi dengan mandi berdua satu bejana sebagaimana dikisahkan oleh Aisyah :
    “Aku mandi bersama Rasulullah dari satu bejana. Rasulullah mendahuluiku sampai aku berkata, “Tinggalkan untukku, tinggalkan untukku!” Waktu itu keduanya berjanabat. (H.r.Muslim)
    Dalam riwayat lain Ummu salamah berkisah :
    “Aku biasa mandi bersama dengan Nabi Saw dari satu bejana. Kami biasa bersama-sama memasukkan tangan kami (ke dalam bejana).” (H.r.Abdurrazaq dan Ibnu Abi Syaibah)
    Untuk membangun kemesraan, meningkatkan kualitas hubungan dengan pasangan anda tak salah untuk mencoba ini. Selain bermanfaat untuk kualitas hubungan, aktivitas ini tentu akan berbuah pahala kebaikan sebab menjalankan sunnah Rasulullah Saw.
  4. Saat di ruang keluarga
    Nabi Saw biasa memijit hidung Aisyah jika ia marah. Beliau berkata, “Hai Aisy, bacalah doa, ‘Ya Allah, Rabbnya Muhammad, ampunilah dosa-dosaku, hilangkanlah kekerasan hatiku, dan lindungilah aku dari fitnah yang menyesatkan.” (H.r.Ibnu Sunni)
    Sementara dalam hadits lain diriwayatkan
    “Aisy, aku tahu kalau engkau sedang suka padaku,” Rasul berbisik suatu ketika. “Dan aku tahu, kapan saatnya engkau sedang marah padaku.”
    “Dari mana engkau mengetahuinya?”
    “Kalau engkau sedang suka kepadaku,” jawab beliau, “engkau akan berkata dalam sumpahmu, ‘Laa…wa Rabbi Muhammad, Tidak demi Rabb Muhammad.’ Tetapi jika engkau sedang marah padaku, engkau akan mengatakan, ‘Laa…wa Rabbi Ibrahim.”
    “Betul demi Allah! Betul ya Rasulullah. Aku tidak meninggalkanmu, hanya aku tidak menyebut namamu.” (H.r.Muslim)
    Ruang keluarga adalah ruang tempat mencurahkan perasaan-perasaan pada pasangan, dan sebaliknya juga tempat untuk saling mendengarkan berbagai curahan hati dari pasangan kita. Begitulah Rasulullah Saw mencontohkan untuk kita.

Cinta bersemi saat memberi saling hadiah

Rasulullah Saw bersabda

“Salinglah memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai.” (H.r.Abu Dawud)

Memberi hadiah adalah salah satu cara untuk membuat semakin akrab dan dekat dengan pasangan. Banyak momen-momen istimewa yang bisa digunakan untuk memberi hadiah seperti saat hari lahir pasangan, hari jadi pernikahan atau di waktu yang tak terduga untuk memberikan kejutan pada pasangan.

Suami berusahalah untuk mencari tahu apa kira-kira barang yang diinginkan atau disukai istri. Diam-diam belilah dan jadikan hadiah spesial baginya. Bagi istri memberikan hadiah pada suami selain berupa barang juga bisa menyajikan masakan spesial kesukaannya.

Cinta bersemi saat Olahraga

Aktivitas olahraga juga bisa anda gunakan sebagai sarana untuk membuat cinta makin bersemi dengan pasangan. Rasulullah Saw pun pernah melakukan lomba lari dengan Aisyah. Nah, kita tentu bisa menjadikan aktivitas olahraga menjadi lebih istimewa bersama pasangan kita.

Cinta bersemi saat hiburan

Dari Aisyah r.a

“Terkadang akulah yang bertanya kepada Nabi, dan kadang-kadang beliaulah yang bertanya padaku, “Apakah engkau suka menontonnya?” (Aisyah r.a)

Sementara dihadits lain diriwayatkan :

Dari Aisyah, “Sesungguhnya orang-orang Habsyi mengadakan permainan untuk Rasulullah Saw, lalu beliau memanggilku. Aku pun melihat tontonan itu dari atas bahu beliau sampai puas.” (H.R.Ahmad)

Begitulah Rasulullah Saw membangun kedekatan hubungan dengan istrinya saat menikmati suatu hiburan. Masih kisah romantis Rasulullah Saw dalam riwayat lain dikisahkan :

“Pada hari raya, orang-orang Habasyah bermain sangkur dan perisai dari kulit. Terkadang akulah yang bertanya kepada Nabi, dan kadang-kadang beliaulah yang bertanya padaku, “Apakah engkau suka menontonnya?”

Aku menjawab, “Ya”

Beliau lalu menempatkan aku di belakangnya dan pipiku menempel pada pipi beliau. Beliau bersabda, “Karena kalianlah aku menonton wahai Bani Arfidah.” Hingga apabila merasa bosan, beliau bertanya, “Cukup?” Aku menjawab, “Ya” Maka beliau bersabda, “Pergilah!”
(H.r Bukhari dan Muslim)

Nah, saat ini tentu anda juga bisa meneladani Rasulullah Saw. Meluangkan waktu berkualitas untuk menikmati suatu hiburan bersama. Bukan hanya tentang apa hiburannya, tapi tentang dengan siapa menikmatinya. Tapi perlu diperhatikan juga agar memilih hiburan yang tidak bertentangan dengan kaidah syar’i seperti berisi aktivitas keburukan, mengumbar aurat serta berbagai aktivitas maksiat lainnya.

Cinta bersemi saat diatas kendaraan

Kali ini kita ungkap kisah bulan madu Rasulullah dengan Shafiyah binti Huyai. Kafilah kemenangan baru saja berangkat meninggalkan Khaibar, kampung halaman Shafiyah, lalu kisah itu pun tercipta.

“Kemudian kami melanjutkan perjalanan pulang ke Madinah, Kulihat beliau menggelar mantel di atas punggung unta, lalu beliau meletakkan lutut disana dan Shafiyah meletakkan lututnya di atas lutut beliau.” (H.R. Bukhari)

Di riwayat lain dikisahkan

“Saya tak pernah menyaksikan seorang pun yang akhlaknya lebih baik dari Rasulullah. Suatu malam beliau memboncengkan saya di bagian belakang untanya. Saya mulai mengantuk lalu rasulullah mencubit saya dengan tangannya seraya bersabda lagi, “Wahai Shafiyah, aku minta maaf kepadamu atas perlakuanku kepada kaummu karena mereka telah mengatakan aku begini dan begitu.”
(H.R Ibnu Asakir dan Abu Nu’aim)

Saat berkendara cobalah untuk bersikap romantis dengan pasangan, perlakukan pasanganmu dengan cara yang spesial, tentu disesuaikan dengan jenis kendaraan yang sedang dinaiki.

Cinta bersemi saat dalam perjalanan

Perjalanan adalah salah satu sarana terbaik untuk membangun kehangatan dengan pasangan, terlebih lagi bagi pasangan baru, ini bisa sebagai cara untuk lebih mengenal satu sama lain serta lebih mengakrabkan.

Banyak aktivitas berharga bisa dilakukan saat diperjalan seperti saling mendengarkan suara hati, saling memberikan masukan, canda-canda yang membahagiakan dan tentu juga dekapan hangat yang menguatkan hubungan.

Jika memungkinkan alangkah baiknya masing-masing keluarga memiliki jadwal melakukan perjalanan rutin. Apakah itu mingguan, bulanan atau tahunan.

So, berjalanlah jadikan sebagai momen berharga bagi anda dan pasangan.

Cinta bersemi dalam rasa cemburu

Tentang cemburu ada kisah menarik dari Rasulullah Saw.

“Kalau aku melihat seorang laki-laki bersama istriku..” kata Sa’ad bin Ubadah berandai-andai, “tentu akan kupukul dengan pedang hingga ia tak bisa mengeluarkan suara lagi!”

Ketika kata-kata ini disampaikan pada Nabi Muhammad Saw beliau justru bersabda, “Apakah kalian heran dengan kata-kata sa’ad. Demi Allah, aku lebih cemburu daripada dia, dan Allah lebih cemburu daripadaku!” (H.R Bukhari dan Muslim)

Cemburu itu tandanya cinta, bahkan perlu dikhawatirkan jika dalam satu hubungan tak ada kecemburuan. Aisyah r.a pun bertabur kisah tentang kecemburuannya kepada istri-istri Rasulullah Saw yang lain. Pernah suatu ketika Aisyah membanting piring berisi makanan lantaran perasaan cemburunya pada Shafiyyah yang menyiapkan makanan untuk Rasulullah Saw.

Di saat lain Aisyah menceritakan pengalamanna. Ketika Rasulullah keluar, ia ikuti beliau karena cemburu. Napasnya terengah takut ketahuan menguntit, karena ternyata Rasulullah ke pekuburan Baqi’.

“Aku pulang ke rumah dengan napas sesak, maka aku masuk ke bilik. Tak lama kemudian Rasulullah menemuiku dan bertanya, “Mengapa napasmu begitu wahai Aisyah ?”

“Demi Allah, engkau datang ke rumah lalu membuka baju. Tapi sebelum kauletakkan baju, engkau mengenakannya kembali. Ini membuat aku sangat cemburu, karena aku menduga engkay pergi ke rumah istrimu yang lain…”

“Apakah engkau cemburu wahai Aisy?”

“Bagaimanakah orang seperti aku tidak cemburu terhadap orang seperti engkau?”

“Wahai Aisy, tampaknya engkau telah kedatangan syaitanmu lagi!”

“Apakah aku ini memang punya syaitan ?”

“Ya”

“Apakah syaitan itu ada pada setiap manusia ?”

“Ya”

“Juga pada engkau, Ya Rasulullah?”

“Ya, tetapi Rabbku menolongku hingga aku dapat mengalahkannya dan selamat”

Begitulah kisah cemburu Aisyah dan Rasulullah Saw sebagaimana ditulis oleh Ustadz Salim A. Fillah dalam bukunya Barakallahulaka bahagianya merayakan cinta

Masih tentang cemburu Rasulullah Saw bersabda

“Sesungguhnya ada di antara cemburu yang disukai Allah, dan adapula cemburu yang dibenci Allah, cemburu yang disukai Allah adalah cemburu yang disertai keragu-raguan. Sedangkan cemburu yang dibenci Allah adalah cemburu yang tanpa keragu-raguan lagi.”
(HR Ahmad, Abu Dawud dan Nasa’i)

Makna dari hadits ini adalah Allah menyukai cemburu berupa tuduhan dalam bentuk keraguan, yang jika tidak terbukti akan membuka komunikasi dan menumbuhkan kemesraan sebagaimana kisah Rasulullah dan Aisyah diatas.

Sementara Allah benci pada kecemburuan yang bersifat tuduhan, menjadi keyakinan kuat dalam hati hingga membuat vonis pada pasangan. Pasti begini dan pasti begitu, dan ini tidak sehat.

Cinta bersemi saat membantu pekerjaan rumah

Meskipun tugas utama seorang suami mencari nafkah dan istri di rumah mengelola rumah tangga maka tak ada salahnya sesekali suami membantu aktivitas istrinya di rumah. Tak hanya membantu meringankan beban istri, aktivitas ini tentu akan menimbulkan rasa semakin sayang pada pasangan.

Untuk hal ini Rasulullah Saw telah memberikan contohnya pada kita.

Al Aswad bertanya kepada ‘Aisyah, “Apakah yang dilakukan Nabi bila dalam rumahnya ?”

Aisyah menjawab :

“Biasanya beliau membantu urusan keluarganya, bila datang waktu shalat beliau pergi untuk shalat.” (HR.Bukhari)

Sementara riwayat lain Urwah bin Zubar keponakan ‘Aisyah juga pernah menanyakan hal yang sama kepadanya. Ia berkata,

“Wahai Ummul mukminin, apakah yang dikerjakan Rasulullah Saw tatkala bersamamu (di rumahmu)?” Aisyah menjawab, “Beliau melakukan seperti apa yang dilakukan salah seorang diantara kalian jika sedang membantu istrinya. Beliau mengesol sandalnya, menjahit bajunya dan mengangkat air di ember.” (HR. Ibnu Hibban)

Untuk para suami, jika suatu ketika berada dirumah, marilah kita contoh akhlak Rasulullah Saw, ringan tangan untuk membantu istrinya. Banyak hal bisa dilakukan oleh para suami dalam membantu istrinya sesuai dengan kondisi saat ini, seperti mengepel, membersihkan taman, mencuci, menjemur pakaian, memasak dan beragam aktivitas rumah tangga lainnya.

Cinta bersemi saat di ranjang

Allah Swt berfirman

“Isteri-isterimu adalah tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki.” (Q.S Al-Baqarah 223)

Hubungan suami istri atau hubungan intim adalah wasilah terbaik untuk menumbuhkan kecintaan pada pasangan, bahkan dalam beberapa penelitian disebutkan salah satu penentu kualitas hubungan rumah tangga adalah aktivitas di atas ranjang. Oleh karena itu manfaatkanlah momen ini dengan sebaik mungkin, jadikan aktivitas hubungan intim sebagai aktivitas istimewa yang saling membahagiakan.

Selain kenikmatan yang bersifat duniawi aktivitas hubungan intim juga menjadi aktivitas ibadah yang berbuah pahala sebagaimana sabda Rasulullah Saw.

“Dan hubungan intim diantara kalian (suami istri) adalah sedekah.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana bisa mendatangi istri dengan syahwat (jima’) bisa bernilai pahala?” Beliau berkata, “Bagaimana pendapatmu jika ada yang meletakkan syahwat tersebut pada yang haram (berzina), bukankah bernilai dosa? Maka sudah sepantasnya meletakkan syahwat tersebut pada yang halal mendatangkan pahalaa.” (HR.Muslim)

Itulah indahnya pernikahan, itulah keberkahan, itulah kenikmatan bagi mereka yang mau menjaga diri, melindungi kesucian serta menahan diri dari nafsu syahwat terlarang.

Baca juga : Panduan Berhubungan Intim Dalam Islam

Cinta bersemi dalam ungkapan kata mesra

Sebagian orang menganggap mengungkapkan cinta pada pasangan adalah suatu yang tabu. Sebab keyakinan mereka kata-kata cinta penuh kemesraan hanya untuk mereka yang masih berpacaran.

Padahal ungkapan cinta pada pasangan mampu menjadi obat kegundahan hati, memudarkan kegelisahan dan menghidupan jiwa pasangan. Maka tak perlu sungkan untuk mengungkapkan cinta pada pasangan, anda bisa menyampaikannya dengan lisan secara lansung atau melalui surat dalam bentuk puisi. InsyaAllah hal ini menjadi kebaikan bagi anda dan pasangan.

Cinta bersemi dalam kata maaf

“Seorang laki-laki datang kepada Nabi Saw, lalu ia berkata: “Wahai Rasulullah Saw, berapa kali kita memaafkan pembantu?” Lalu beliau pun diam. Kemudian orang itu mengulang perkataannya. Dan Nabi pun masih terdiam. Lalu yang ketiga kalinya beliau bersabda : “Maafkanlah dia (pembantu) setiap hari tujuh puluh kali.” (HR.Abu Dawud)

Begitulah Rasulullah mengajarkan sifat pemaaf bagi kita, untuk pembantu saja kita memaafkannya 70 kali, bagaimana dengan istri ? Tentu lebih harusnya. Saat pasangan bersalah maka ingatkanlah dengan lemah-lembut, sampaikan nasihat kebaikan dengan penuh cinta. Maafkanlah ia dengan penuh keikhlasan.

Cinta bersemi dalam kecupan (ciuman)

Ciuman adalah salah satu tanda cinta dan bentuk kasih sayang, Rasulullah Saw sendiri mencium istrinya terlebih dahulu tatkala keluar rumah untuk melaksanakan shalat.

Urwah bin Zubair meriwayatkan dari ‘Aisyah bahwasanya Nabi Saw mencium salah seorang istrinya kemudian keluar untuk sholat dan beliau tidak berwudhu lagi. Maka akupun berkata, “Siapa lagi istri Nabi Saw tersebut kalau bukan engkau” maka Aisyah pun tertawa. (HR Abu Dawud)

Pernikahan itu indah, selama kita mau untuk menemukan dimana keindahannya. Jika ada yang bertanya dimana keindahannya ? Maka sampaikanlah keindahan itu ada dalam setiap kebersamaan, ada disetiap sudut ruangan, ada dalam canda tawa, ada dalam isak tangis dan ada dalam beragam rasa yang menggelora.

Sumber referensi :

  1. Buku Seandainya aku tidak menikah dengannya karya Ustadz Syafiq basalamah
  2. Buku Barakallahulaka Bahagianya merayakan cinta karya Ustadz Salim A. Fillah

Artikel Menarik Lainnya







comments