Imam Malik bin Anas, tentu kita semua sudah tak asing lagi dengan nama ini. Salah satu Imam Mazhab yang sekaligus juga guru besarnya seorang Imam Mazhab yang ternama, Imam Syafi’i. Imam Malik tak hanya seorang ulama yang memiliki keagungan akhlaknya namun ia juga memiliki otak dan pikiran yang cerdas. Dan, ternyata di balik semua kilauan mutiara pribadi seorang Imam Malik ada seorang wanita yang tangguh, baik imannya, baik pula amalnya serta bijak dan cerdas  pemikirannya, ‘Aliyah binti Syariek Ibnu ‘Aisyah namanya. Dialah ibunda Imam Malik bin Anas.

Ada satu nasihat berharga dari seorang wanita mulia ini pada anaknya, sebuah nasihat yang akan menjadi mata air keberkahan setiap langkah dan perjuangan anaknya dalam membersamai ilmu hingga kita semua tau ilmunya begitu barakah, tak hanya yang ia pelajari tapi termasuk juga yang ia ajari untuk murid-muridnya. Nasihat berharga ini, jika ditilik lebih dalam lagi ternyata sebuah nasihat yang sangat berharga sampai hari ini meskipun berbelas abad berlalu, sebuah nasihat yang sering diabaikan dan terlupakan oleh para orang tua dalam mendidik anaknya, sebuah nasihat yang akan memberikan pada kita sebuah tuntunan bagaimana para ulama-ulama besar ditumbuh suburkan keilmuannya.

Tercatatlah dalam sejarah kehidupannya, suatu hari Imam Malik pernah bertanya kepada ibundanya, “Bolehkah aku pergi menuntut ilmu ? “

“Kemarilah….pakai pakaian santri dulu,” kata ibunya. Lalu si ibu membelikan sejumlah gamis baru berwarna putih untuk puteranya, dan memakaikan sorban dikepalanya, lalu menyisipkan sepundi uang Dirham ke saku puteranya. Kemudian si Ibu berkata, “Sekarang pergilah ke majelisnya Rabi’ah, dan pelajari bagaimana adabnya sebelum kau ambil ilmunya,” nasihat ibu.

***

Belajar tentang Adab

Adab, adalah hal penting dan sering kali terabaikan dalam kehidupan kita sehari-hari, adab yang secara bahasa dimaknai sebagai tata aturan yang mengatur berbagai aktivitas kehidupan seperti berhubungan dengan guru, orang tua, teman sebaya, pergaulan masyarakat dan lainnya berdasarkan pada aturan Islam. Nah, pada bahasan kali ini kita akan membahas satu adab yang sering terabaikan dalam sebuah aktivitas penting yaitu menuntut ilmu. Kebanyakan institusi pendidikan hari ini hanya dijadikan sebagai tempat transfer teori, hafalan serta berbagai macam rumus-rumus pelajaran. Guru memberikan teorinya dan murid menghafalkannya yang mana pada akhirnya kesuksesannya akan ditentukan oleh selembar kertas ujian di akhir tahun. Sehingga pendidikan kita pada hari ini hanya berfokus pada bagaimana seorang murid bisa dan sukses ujian di setiap semester dan akhir tahun pelajaran. Seorang murid akan mendapatkan label sukses ketika di lembar ujiannya tertera angka-angka yang tinggi, dan juga nama baik sekolah akan terangkat dengan banyaknya nilai-nilai tinggi dilembar ujian murid-muridnya.

Ketika sebuah institusi pendidikan dimana setiap hubungan antara guru, murid dan orang tua murid hanya berfokus pada satu orientasi nilai akhir, maka akan sangat jarang sekali kita saksikan hubungan baik antara murid dan guru yang saling menyayangi dan menghormati satu sama lain, kita akan jarang menemukan guru dan murid yang saling mendoakan, namun yang sering kita temukan adalah guru yang semena-mena pada muridnya, guru yang ngajak murid berantam begitu juga hubungan antara guru dan orang tua murid yang pada akhirnya tak ubah menjadi sebuah hubungan dagang, guru “menjual” ilmu-ilmu dengan harga tertentu dan para orang tua “membeli” nya dengan harga tertentu. Setelah memasukkan anak ke sebuah lembaga pendidikan para orang tua seolah berlepas diri dari tanggung jawab pada anaknya, pokoknya tinggal terima beres “kan sudah bayar” mungkin begitu kilahnya.

Di sinilah adab itu terlupakan, dan ‘Aliyah mengajarkan pada kita semua para orang tua, para guru dan juga calon orang tua pentingnya pembelajaran tentang adab sehingga saat ia mengantarkan anaknya belajar pada seorang ulama besar dimasa itu ia minta anaknya belajar adab terlebih dahulu bukan belajar yang lain seperti menghafal kitab-kitab dan semisalnya. Adab, akan menjadi ikatan kemesraan antara guru dan murid. Saat guru tau bagaimana adab mengajarkan suatu ilmu dan muridpun mengerti bagaimana adab mempelajari ilmu maka akan muncul suatu hubungan yang baik, saling mencintai, saling menyayangi dan menghormati antara guru dan murid, pada titik ini orientasi pembelajaran bukan lagi hanya tentang nilai-nilai akan tetapi jauh lebih besar dari itu yaitu tentang kebermanfaatan dan kebarakahan ilmu yang diajarkan.

Saat ada adab dalam setiap pembelajaran maka proses pembelajaran tak hanya sekadar transfer teori pembelajaran semata namun juga transfer energi, transfer akhlak, transfer nilai-nilai kebaikan dari sang guru. Pembelajaran tak hanya lagi hanya sebatas pada teori-teori dan hafalan akan tetapi adalah proses meneladani, murid meneladani kebaikan-kebaikan gurunya begitu pula para guru memberi keteladanan yang baik pada murid-muridnya.

Itulah nasihat berharga dari ‘Aliyah ibundanya Imam Malik, yang ternyata nasihat sederhana pada putranya untuk belajar adab menjadi salah satu kunci kesuksesan putranya Imam Malik dalam menuntut ilmu serta juga mengajarkan ilmu tersebut. Semoga menjadi nasihat berharga juga untuk kita semua, para ibunda, para ayahanda dan calon ayah dan ibunda.

Artikel Menarik Lainnya







comments