Pertanyaan :

Assalamualaikum, mau tanya saya sudah melangsungkan pertunangan, sudah ada ikatan di antara kita, namun kita mendapatkan masalah, yg menjadikah hubungan ini tidak sehat, calon saya sudah mengembalikan ke orang tua saya, namun saya berniat untuk menjaga dan memperbaiki hubungan demi orang tua saya karna sudah ada ikatan, tetapi saya pun ragu untuk melanjutkan hubungan ini, saya bingung, apa yang harus saya lakukan agar bisa mengambil keputusan agar tdak ada yg tersakiti oleh langkah saya nanti?
Judul Pertanyaan: Pertahanin hubungan atau tidak?

-Mf-

Jawaban :

alaikumussalaam warahmatullah wabarakatuh

sebelumnya, apa saja hal yang membuat Anda dan calon bersepakat untuk menikah? apakah ada kesesuaian visi, atau tujuan bersama yang ingin dicapai? 

Jika ya, sejauh mana Anda berdua menganggap itu penting dan layak untuk diperjuangkan?
Apakah kendala atau masalah yang ada sangat prinsip dan besar sehingga dapat membatalkan niat dan rencana?
kira-kira, masalah tersebut bisa diatasi (baca: mau diatasi) atau tidak? 🙂
 
Jika Anda dan dia ragu, dan ada hal-hal yang Anda khawatirkan berpotensi menjadi masalah sangat besar di kemudian hari saat berumah tangga, boleh kok berpikir ulang dan mempertimbangkan lagi. Asal dari adat kebiasaan itu mubah kecuali bila ada dalil yang menunjukkan keharamannya, maka pertunangan secara hukum asal adalah mubah. karena ia hanya sebagai kebiasaan, maka pertunangan tidak memiliki dasar hukum khusus seperti halnya lamaran atau akad pernikahan. Karena tak memiliki dasar khusus, maka tidak boleh seseorang menjadikan pertunangan ini sebagai ikatan. Karena ikatan itu hanya berlaku dengan akad pernikahan, dan itu hukum baku yang tak dapat diubah. Maka bila seseorang melakukan pertunangan atau “menunangkan” putrinya dengan pria tertentu misalnya, sifatnya tidak boleh dijadikan perjanjian yang mengikat. Keduanya hanya boleh diibaratkan sebagai “janji keinginan” untuk saling menikahi. (selengkapnya baca di https://konsultasisyariah.com/3659-membatalkan-tunangan-seorang-ikhwan.html).

Jadi boleh-boleh saja membatalkan. Namun karena semua dilakukan dengan musyawarah, maka diskusikanlah dan lakukan musyawarah lagi dengan pihak-pihak terkait (calon, orangtua, orangtua calon atau keluarga yang terlibat). Jangan hanya karena malu atau tidak enak dengan orangtua atau keluarga, kita jadi kurang  jernih membuat keputusan, karena Anda dan pasangan lah yang akan menjalani kehidupan berumah tangga kelak. menghormati keluarga tentu saja boleh dipertimbangkan, tapi pastikan hal-hal lain yang lebih esensi juga menjadi perhatian.

Jangan lupa libatkan Allah, lakukan sholat istikharah untuk memohon petunjuk terbaik dari-Nya.

wallaahu a’lam.  semoga dimudahkan ya Mba 🙂

gambar dari : https://www.bhmpics.com/view-green_road-wide.html

Indra Fathiana

Indra Fathiana

Lulusan Fak. Psikologi UI ini sangat mencintai dunia keluarga, disamping minat lainnya pada dunia pendidikan dan bisnis. Selain fokus mendidik kedua putrinya di rumah, ia aktif menjadi pengurus komunitas ibu muslimah “Mommee”, terlibat dalam program remaja “Sahabatku” bersama sejawat, menyelenggarakan social entrepreneurship project untuk pemuda, serta menulis artikel di sela-sela kesibukannya. Baginya, sukses terbesar seorang wanita adalah saat Allah dan pasangan ridho kepadanya, melahirkan generasi yang gemilang, serta menjadi manfaat bagi semesta.

Kirim Pertanyaan

Kamu memiliki masalah, unek-unek atau sekedar pertanyaan seputar kemuslimahan? Kirim pertanyaan kamu ke rubrik konsultasi Elmina dan Insyaallah kami akan berusaha menjawab pertanyaan kamu. Pertanyaan yang dikirim sebaiknya ditulis dengan bahasa yang jelas, ringkas, dan sopan. Tim redaksi akan menyortir terlebih dahulu pertanyaan yang masuk sebelum ditampilkan di rubrik konsultasi.

Form Konsultasi

3 + 10 =

Artikel Menarik Lainnya







comments