Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’”

(HR. Bukhari )

Wanita luar biasa itu, yang telah mengandung kita selama sembulan bulan penuh lelah serta kepayahan, berjuang mempertaruhkan harapan hidupnya saat melahirkan kita ke dunia, menyusui kita siang dan malam tak kenal waktu jeda, merawat kita dengan penuh kasih dan sayang, mengorbankan waktunya, memberikan semua kebahagiaan dan kesenangannya untuk kita buah hatinya.

Pun, setelah kita beranjak dewasa kita tetap menjadi buah pikirnya, membuat hatinya gelisah, membuat dirinya tak tenang di saat kita tak bersama dengannya. Cemas berimpit dengan do’anya selalu mengalur pada kita anaknya, begitulah cinta seorang ibu pada anaknya, tak akan terbalas. Maka pantaslah saat Rasulullah ditanya kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali oleh sahabat, beliau menjawab ibu. Tidak cukup hanya satu kali, tapi beruntun hingga tiga kali, ibumu…ibumu…ibumu.

Jika kita ingin mengerti seperti apa sejatinya makna cinta di dunia ini maka lihatlah bagaimana cinta seorang ibu pada anaknya…

Jika kita ingin tau seperti apa sebenarnya pengorbanan di dunia ini maka lihatlah bagaimana pengorbanan seorang ibu pada anaknya…

Jika kita ingin menyaksikan seperti apa itu do’a yang begitu tulus dan ikhlas maka lihatlah bagaimana seorang ibu mendoakan anaknya..

Dan, jika kita ingin merasai bagaimana tenang dan bahagianya hidup di dunia ini jadi anak yang memberi ketenangan dan kebahagiaan pada ibunya..

Kalau sayang seorang ibu pada anaknya tak perlu kita pertanyakan lagi, maka kali ini mari kita sama-sama meng-evaluasi diri sudahkah kita benar-benar menyayangi ibu kita atau kita masih menjadi anak yang selalu membuat risau serta tak tenang hati ibu kita.

1. Karena ibu hanya ingin hatinya tenang maka berilah ketenangan padanya

Sudahkah kita menjadi anak yang menjadi sumber ketenangan bagi ibu kita ? Atau masih sering membuat hati ibu kita tak tenang dan gelisah. Kalau misalkan kita tanya pada ibu kita “apa sih yang pengen benar-benar ibu inginkan? ” maka secara lansung maupun tak lansung seorang ibu hanya ingin ketenangan. Ya, ia hanya ingin merasa tenang sesederhana itu. Akan tetapi perlu dipahami wujud nyata dalam memberi ketenangan pada ibu kita berbeda-beda, nah inilah tugas utama kita sebagai anak untuk menemukannya.

Ada ibu yang merasa tenang saat anaknya selalu berada di sampingnya, ada ibu yang merasa tenang saat hidup anaknya bahagia punya penghasilan yang cukup, ada juga ibu yang merasa tenang saat anaknya sudah menikah, ada ibu yang merasakan ketenangan saat selalu bisa berkomunikasi dengan ibunya di setiap waktu dan kesempatan. Nah, sebagai bukti sayangmu pada ibumu, jadilah anak yang bisa memberi ketenangan pada ibumu. Kalau belum tau hal apa yang bisa membuat dirinya tenang, cobalah tanya dengan penuh ketulusan padanya “Apa yang benar-benar ibu inginkan dari saya ?” jika bertanya dengan tulus, dan dalam kondisi yang juga tepat biasanya ibu akan menjawab apa yang benar-benar beliau inginkan, dan kebanyakan hal ini membuat kita sebagai anak terkejut, karena ternyata yang benar-benar ibu kita inginkan terkadang jauh dari prediksikita. Nggak percaya? silakan di coba sendiri.

2. Selalu mengerjakan dengan segera apa yang disuruh dan diperintahkah oleh ibu kita

“Entar ya ma, besok ya, mau istirahat dulu sebentar ah” . Bagi yang masih tinggal bersama dengan ibunya tentu akan sering menemui hal-hal seperti ini. Tampaknya sangat sepele, di saat kita begitu capek tiba-tiba ibu menyuruh kita mengangkat jemuran misalnya. Tanpa disadari kitapun menyanggahnya dengan alasan yang menurut kita masuk akal sekali. Tapi sadarkah kita, terkadang hal yang sepele ini bisa membuat hati ibu kita sedih, dan ternyata dengan hal sepele ini di saat kita menyegerakan melakukannya bisa menjadi sumber ketenangan dan kebahagiaan bagi ibu kita. Yuk perhatikan lagi hal-hal sederhana ini, karena terkadang untuk membahagiakan ibu kita sangat sederhana.

3. Jangan pernah mengatakan “ah” pada ibu kita, apalagi membentaknya

Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’(Al-Israa’ : 23-24).

Yang ketiga adalah jangan pernah sekali-kali mengatakan “ah” padanya apalagi sampai membentaknya. Jika memang ada kekhilafan kita akan hal ini pada ibu kita. Segeralah minta maaf padanya, dan berjanjilah untuk tidak mengulanginya lagi. Allah dan Rasul memperintahkan kita untuk memuliakan ibu kita, karena memang beliau dimuliakan.

4. Buatlah ibu kita selalu tertawa bahagia

“Seseorang datang kepada Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Aku akan berbai’at kepadamu untuk berhijrah, dan aku tinggalkan kedua orang tuaku dalam keadaan menangis.” Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kembalilah kepada kedua orang tuamu dan buatlah keduanya tertawa sebagaimana engkau telah membuat keduanya menangis.” (HR. Abu Dawud )

Jika dahulu semasa kecil ibu selalu membersamai kita sepanjang waktu, bahkan untuk pergi ke kamar mandi saja sulit baginya meninggalkan kita dikala kita menangis. Maka sudah sewajarlah kita sebagai anak memberikan waktu kita untuk membersamai ibu, berjalan ketempat yang dia sukai, mengantarkan ia bersilaturahim ke rumah kerabatnya atau sekadar berjalan-jalan di pagi maupun sore hari yang akan membuat dirinya menjadi bahagia, tersenyum bahkan tertawa. Mari mulai saat ini kita membahagiakan ibu kita, kita berikan sikap terbaik padanya dalam bentuk ketaatan.

Selama itu tidak melanggar perintah syariat Islam maka wajiblah bagi kita untuk selalu patuh dan taat padanya. Apapun pelayanan yang akan kita berikan pada ibu kita takkan sanggup membayar semua pengorbanan dan kasih sayangnya pada kita, dan memang tak perlu juga untuk kita bayar karena ibu kita melakukannya dengan tulus serta penuh keikhlasan. Akan tetapi sebagai anak yang berbakti kita memiliki kewajiban untuk taat padanya, memberikan pelayanan terbaik padanya semaksimal dan semampu kita.

Sumber foto : www.slideshare.net

Artikel Menarik Lainnya







comments