Tanggung jawab utama penafkahan

“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf. Seorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.”
(QS. Al Baqarah : 233)

Saat ijab kabul terucap, para saksi mengucapkan kata sah dan buku nikah ditanda tangani. Maka semenjak saat itu semua tanggung jawab atas anak perempuan yang pada awalnya berada pada ayahnya pindah pada laki-laki yang menikahinya. Termasuk juga penafkahan, sejak saat itulah laki-laki yang menikahinya bertanggung jawab untuk memberikan nafkah baik lahir maupun batin baginya. Menyiapkan segala kebutuhan mulai dari sandang, pangan, papan dan juga menjamin rasa nyaman serta ketenangan terhadap wanita yang dinikahinya.

“Dari Mu’awiyah al Qusyairi Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah hak isteri salah seorang dari kami yang menjadi kewajiban suaminya?” Beliau menjawab,”Engkau memberi makan kepadanya, jika engkau makan. Engkau memberi pakaian kepadanya, jika engkau berpakaian. Janganlah engkau pukul wajahnya, janganlah engkau memburukkannya, dan janganlah engkau meninggalkannya kecuali di dalam rumah”.
(HR Abu Dawud, no. 2142)

Setiap laki-laki yang akan menikah semestinya sudah menyadari dan mengerti hal ini jauh-jauh hari sebelum menikah. Kesiapan seorang laki-laki untuk menikah semestinya juga harus disertai dengan kesiapan untuk memberikan nafkah dan mengerti segala hal tentang tanggung jawab yang harus dijalankannya.

Selain itu wanita yang menjadi istrinya juga harus menyadari hal ini, bahwa tanggung jawab utama untuk memberikan nafkah ada pada suami. Sementara para istri juga memiliki peran yang cukup penting yaitu menjadi istri yang melayani serta menyiapkan segala kebutuhan suami serta menjadi ibu bagi anak-anaknya nanti. Dalam lingkup yang lebih luas, idealnya keluarga besar masing-masing pasanganpun memahami hal ini, yaitu tentang tanggung jawab utama seorang laki-laki memberikan nafkah sementara wanita cukup di rumah sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya. Menjadi ibu rumah tangga.

Sebab, jika tidak ada saling memahami tentang hal ini tentu pada akhirnya suami dan istri sama-sama sibuk berlomba mencari nafkah dan mengejar karir. Sehingga istri abai akan peran yang sesungguhnya. Atau hal sebaliknya terjadi saat suami malas bekerja, memilih ongkang kaki di rumah dan menyerahkan tanggung jawab untuk mencari nafkah pada istrinya. Istrinyalah yang akhirnya menjadi tulang punggung keluarga, tentu hal ini miris sekali bukan ?

Seorang suami juga tidak boleh pelit pada istrinya, seorang suami harus memberikan nafkah yang mencukupi kebutuhan istrinya. Tidak ada hitung-hitungan pada istri. Jangan sampai karena kurangnya nafkah yang diberikan membuat istri harus terpaksa harus ikut bekerja. Disisi lain, seorang istri pun juga harus ridho akan nafkah yang diberikan oleh suami terlebih lagi jika istri sudah mengetahui suaminya memang sanggup memberikan nafkah segitu. Disinilah terkadang dibutuhkan keahlian seorang wanita sebagai ibu rumah tangga, pandai dalam mengelola uang. Tidak boros saat uang banyak, dan tidak kekurangan saat nafkah yang diberikan suami kurang. Selalu merasa cukup.

Saat kita harus bekerja bersama

Saat kita harus bekerja bersama, suami bekerja istri juga bekerja. Hingga saat ini kami belum menemukan adanya larangan dari para ulama untuk para istri bekerja, bahkan untuk pekerjaan tertentu seorang istri malah wajib untuk bekerja misalnya untuk pekerjaan yang tidak dapat digantikan oleh pihak laki-laki sebutlah dokter bersalin, bidan yang membantu persalinan, guru taman kanak-kanak dan lain sebagainya. Jika memang pekerjaannya seperti itu tentu dibolehkan.

Selanjutnya seorang istri bekerja untuk membantu suami dalam mencari nafkah, jika nafkah yang dihasilkan oleh suami tidak mencukupi kebutuhan pokok keluarga. Misalnya kebutuhan pokok keluarga dalam 1 bulan Rp.5.000.000,- sementara suami setelah bekerja secara maksimal hanya bisa menghasilkan hingga Rp.2.000.000,-. Maka untuk membantu agar kebutuhan ini terpenuhi istri boleh membantu suami dengan ikut bekerja.

Hal lain yang sering terjadi adalah saat istri bekerja untuk memenuhi aktualisasi diri. Contohnya istri sangat mencintai bidang tertentu, itu menjadi passion hidupnya, ia memiliki cita-cita yang besar, ia ingin mengejar karirnya sehingga hal ini mengharuskan dia bekerja.

Untuk hal pertama dan kedua tentu menurut kami sah-sah saja dilakukan selama itu diridhoi oleh suami, pekerjaan yang dilakukan tidak membayakan istri, tidak membuat istri bercampur baur dengan yang bukan mahramnya, dan pekerjaan yang dilakukan tidak melalaikan tugas utamanya dalam melayani suami dan anak-anak.

Sementara untuk yang ketiga, pekerjaannya tidak terlalu dibutuhkan sebagaimana halnya yang pertama dan secara ekonomi tidak juga dalam kondisi mendesak. Bekerja baginya hanya untuk aktualisasi diri. Nah, untuk yang mengalami hal ini saran kami mari merenung kembali. Disini tentu kita tentu tidak akan bicara hukum secara syariat karena hukumnya jelas dibolehkan.

Namun yang perlu direnungkan adalah apakah dengan bekerja di luar bahkan sampai meninggalkan anak di rumah itu membuat anda merasa nyaman berpisah dengan anak. Terlebih lagi jika anak anda dititipkan pada orang lain yang pengasuhan dan perawatannya tentu tak akan sebaik saat dirawat oleh ibunya. Anak adalah anugerah dari Allah Swt yang harus disyukuri, ia adalah amanah yang harus dijaga. Maka untuk itulah Allah membagi peran para orang tua dalam menjaganya. Sang ayah berperan mencarikan nafkah termasuk juga mendidiknya dan ibu merawat anak mulai dari memberikan ASI dan mengajarkan berbagai macam ilmu padanya.

Mengejar cita-cita itu perlu, meraih karir tertinggi disuatu bidang yang disukai tentu menjadi kenikmatan tersendiri tapi yakinlah membersamai anak dari kecil hingga dia tumbuh dewasa jauh lebih nikmat dari itu semua. Anak butuh ibunya, ia butuh ASI, belaian kasih sayang dan kebersamaan. Jangan sampai anda mengabaikannya, karena waktunya hanya sebentar. Sementara untuk mengejar karir, anda bisa lakukan saat anak telah mulai beranjak remaja dan sudah mandiri. Tak ada kata terlambat untuk itu.

Saat harus membiayai orang tua dan saudara lainnya

Hal penting lain dalam penafkahan adalah saat harus membiayai kebutuhan orang tua. Memenuhi kebutuhan orang tua adalah kewajiban bagi anak-anaknya baik yang sudah menikah maupun belum. Terlebih lagi jika orang tua sudah lanjut usia dan tidak bisa mencari nafkah menjadi kewajiban bagi anaknyalah untuk merawat dan memenuhi segala keperluan orang tua.

Bagi anak perempuan jika sudah menikah dan masih memiliki orang tua harus dibantu maka sebelum memberikan bantuan pada orang tua tentu atas ridho suaminya. Sementara bagi anak-anak laki-laki sudah menjadi kewajiban baginya untuk membantu memenuhi kebutuhan orang tuanya. Tapi perlu diperhatikan, seorang laki-laki membantu orang tuanya setelah kebutuhan diri sendiri dan keluarganya terpenuhi sebagaimana hadits Rasulullah Saw :

“Jika Allah ta’ala memberikan kepada salah seorang di antara kalian kebaikan – nikmat atau rezeki, maka hendaknya dia memulai dengan dirinya dahulu dan keluarganya”
(HR. Muslim)

Para ahli fiqih telah menegaskan hal ini, sebagaimana diutarakan oleh penyusun kitab Kasyful Kina’, dia berkata, seseorang yang tidak punya kelebihan dari nafkah untuk mencukupi semua yang wajib ditanggung oleh dirinya, maka yang pertama dia mulai adalah menafkahi dirinya sendiri.

Jika setelah itu ada kelebihan untuk orang lain, maka dia dahulukan istrinya. Karena nafkah untuk istri adalah kewajiban berdasarkan saling timbal balik atau al-mu’awadoh, yakni istri memberikan pelayanan kepada suaminya, oleh karena itu pelayanan dari istri ini wajib diimbali dengan nafkah. Dan nafkah yang wajib karena al-mu’awadoh lebih didahulukan dari nafkah yang diberikan karena menolong atau al-muwasah.

Begitu jika harus membiayai anggota keluarga lainnya apakah itu adik, keponakan dan seterusnya. Secara hukum membantu mereka termasuk menolong, tentu dilakukan setelah kewajiban terpenuhi. Saat biaya pokok keluarga telah terpenuhi, biaya orang tua jika dibutuhkan juga sudah terpenuhi, masih ada rezeki maka bantulah saudara-saudara terdekat dengan kita, karena itulah sedekah terbaik.

Memaknai rezeki

“Menikah bukanlah membagi dua hasil kerja kita. Tetapi menikah adalah seorang laki-laki yang memiliki pekerjaan ditambah dengan wanita yang ‘pekerjaannya’ adalah mengurusi sang suami dalam berbagai cara tertentu”
(Benjamin Franklin)

Setiap kita sudah Allah tentukan rezekinya, dan Allah tentu memberikan rezeki sesuai dengan kebutuhan kita. Saat masih sendiri seorang wanita mungkin rezekinya dari orang tuanya atau dari hasil bekerja sendiri. Bagi laki-laki saat sendiri rezekinya dari hasil bekerja dan untuk kebutuhan. Setelah menikah saat tanggungan rezeki istri pindah pada suami dan istri memilih untuk menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga apakah akan membuat rezeki dari istri hilang ? Atau suami jadi tidak sanggup membiayainya ?

Jika dihitung dari kacamata manusia dan hitungan matematika tentu tak akan mencukupi. Tapi saat kita memiliki keyakinan yang kuat Allah akan mencukupi, maka InsyaAllah akan Allah yang akan cukupkan. Karena Allah lebih tau tentang kebutuhan kita.

Tugas kita sebagai manusia tentu dengan berusaha semaksimal mungkin, berdo’a pada Allah Swt dan berserah diri padanya. Banyak sudah yang merasakan, pada saat belum menikah seorang laki-laki untuk hidup sendiri saja kesusahan, tapi setelah menikah ternyata Allah beri dia kecukupan atas rezeki untuk keluarganya.

“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
(Qs. an-Nur [24]: 32)

Selama kita memiliki keyakinan yang kuat, yakinlah Allah selalu punya cara yang indah dalam memberikan rezeki bagi mereka yang sudah menikah. Ada yang sudah menikah akhirnya dapat pekerjaan tetap padahal sebelum menikah masih bekerja serabutan, ada yang sudah menikah gajinya naik, ada yang sudah menikah penjualannya meningkat, ada yang sudah menikah dapat proyek dan lain sebagainya.

Selain itu dengan menikah, dan menyadari tanggungannya bertambah maka seorang laki-laki menjadi lebih berkomitmen dalam mencari nafkah. Lebih giat dalam berusaha, lebih kreatif dalam berpikir, dan tentunya lebih khusyu juga dalam meminta pada Allah dalam do’a-do’anya.

Selain jumlahnya, seorang suami dan istri dalam keluarga juga harus memastikan keberkahan rezeki yang mereka gunakan. Harta yang berkah tentu akan membawa ketenangan bagi keluarga yang menikmatinya serta akan menjadikan kebaikan bertambah-tambah. Maka penting bagi seorang suami untuk mencari nafkah dengan cara-cara yang Allah ridhoi, tidak menzhalimi orang lain dan membawa makanan halal saat pulang ke rumah.

Daftar Referensi :

  1. Fimadani.com
  2. Muslimah.or.id
  3. almanhaj.or.id

Artikel Menarik Lainnya







comments