Sering terjadi pertengkaran antara laki-laki dengan perempuan berawal dari salah paham, yang mana salah paham ini tentu bermula dari pola komunikasi yang tidak tepat. Laki-laki berkomunikasi pada perempuan dengan pola komunikasi sebagaimana laki-laki ingin diperlakukan, begitu juga sebaliknya seorang perempuan melakukan komunikasi dengan laki-laki sebagai pola komunikasi yang ingin didapatkannya.

Dalam hubungan rumah tangga tentu hal ini sangat sering kali terjadi. Sebagai contoh pola komunikasi laki-laki adalah sederhana, pendek, dan selalu to the point sementara perempuan memiliki pola komunikasi menjelaskan segala sesuatu dengan detail dan rinci. Kesalahpahaman yang sering terjadi adalah saat istri menganggap suaminya cuek karena sedikit bicara dan suami menganggap istrinya cerewet karena kebanyakan bicara. Saat masing-masing pasangan tidak memahami hal ini tentu yang akan terjadi adalah cekcok serta keributan dalam rumah tangga. Padahal masalah ini akan selesai saat masing-masing saling memahami, laki-laki memahami kalau wanita berbicara rata-rata 20.000 kata perhari maka kebutuhan utamanya adalah didengarkan sementara wanita semestinya mengetahui bahwa laki-laki dalam sehari hanya berbicara rata-rata 7000 kata makanya laki-laki lebih to the point dalam pola komunikasinya.

John gray, adalah seorang pakar komunikasi laki dan perempuan yang populer dengan karyanya “Pria dari mars wanita dari venus” . Dalam tulisannya john gray banyak membagikan tip untuk berkomunikasi antara laki-laki dengan perempuan, didasari dengan pemikiran bahwa laki-laki dan perempuan itu berbeda, tidak hanya terletak pada fisiknya namun juga terletak pada cara berpikir, cara memahami, cara mengambil kesimpulan atau keputusan dan cara berkomunikasi.

Salah satu tip terbaik dari john gray adalah tip komunikasi istri kepada suami yang lebih familiar dengan sebutan 4-P.

1. Pause (Berhenti)

Wanita memang cenderung lebih ceplas-ceplos dalam mengungkapkan perasaannya, lebih bersemangat dalam menumpahkan kata-katanya. Namun perlu diperhatikan juga ada saat-saatnya wanita untuk berhenti sejenak, menahan diri untuk tidak berkata-kata. Belajar memahami dan mengerti kondisi suami serta belajar memilih kapan waktu yang tepat untuk berbicara.

2. Prepare ( Mempersiapkan)

Belajar untuk mempersiapkan apa yang akan disampaikan pada suami, kenali hal-hal yang disukai dan tidak disukainya dalam sebuah pembicaraan. Jangan sampai saat berbicara suami merasa tersinggung disebabkan oleh istri yang sengaja maupun tidak mengucapkan hal yang tidak disukainya. Selain apa yang akan disampaikan hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah waktu untuk berbicara dengan suami, jangan terlalu asyik untuk berbicara sendiri dan menjadikan suami hanya pendengar yang baik namun berilah suami waktu untuk mengemukakan pendapatnya dan hargai atau berikan respon positive terhadap hal-hal menarik yang diungkapkan oleh suami.

Selain itu semua, hal lain yang juga perlu dipersiapkan adalah penampilan dan juga suasana saat melakukan pembicaraan.

3. Postpone (Tundalah)

Suamimu adalah manusia ia bukan malaikat, sebagai manusia tentu memiliki berbagai kekurangan baik itu kekurangan dalam hal komunikasi dengan istrinya atau kekurangan dalam berbagai hal lainnya. Ketika istri memiliki keinginan namun keinginan tersebut berbenturan dengan kemampuan suaminya maka saat inilah istri untuk bersabar dengan menunda untuk tidak membicarakan hal tersebut pada suaminya.

Pada intinya seorang istri mencoba memahami dan mengenali tentang suaminya sehingga pada akhirnya mampu melihat waktu serta kondisi yang tepat untuk menyampaikan sesuatu serta mampu menunda sejenak keinginan untuk mengungkapkan sesuatu lantaran melihat kondisinya belum tepat.

4. Persist (Tekun) 

Sejatinya setiap alur kehidupan ini termasuk juga berbagai dinamika dalam rumah tangga adalah media pembelajaran, media pembelajaran untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik serta juga untuk saling mengenal satu sama lain dengan pasangan sehingga semakin mengenal tentu akan semakin mudah untuk bisa saling memahami dan saling mengerti. Kunci dalam menjalani proses pembelajaran ini adalah ketekunan, tidak ada cara instan untuk membangun kualitas hubungan suami istri yang berkualitas, belajar dan teruslah berbenah.

Setiap pasangan tentu berharap terjalin komunikasi yang baik dan menyenangkan dengan pasangannya karena komunikasi yang baik dan menyenangkan dalam rumah tangga akan menjadi hal penting terwujudnya impian rumah tangga yang sakinah, mawadah dan warahmah.

Sumber foto : www.ummi-online.com

Artikel Menarik Lainnya







comments