Apa sih tolak ukur atau parameter siap atau tidaknya seorang laki-laki menikah? tentu ini menjadi pertanyaan banyak muslimah. Jika ada seorang laki-laki yang menyatakan keseriusannya untuk menikahi bahkan dia telah menemui orang tuamu, lalu apa yang menjadi tolak ukur sebagai pertimbangan apakah akan menolak atau menerimanya?

Kalau kita menilik pada sebuah sabda Rasulullah SAW tentang tolak ukur seseorang laki-laki untuk menikah maka akan kita dapati ternyata tolak ukurnya sangat sederhana yaitu “mampu” sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim berikut :

“Wahai segenap pemuda, barangsiapa yang telah mampu menikah, maka hendaklah ia menikah karena menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih dapat memelihara kemaluan”

Sebagian ulama menafsirkan kata mampu diatas dengan kemampuan untuk jima’ (hubungan suami istri) , namun jika kita maknai secara lebih luas tentu juga mampu secara mental untuk menjadi kepala rumah tangga, menjadi suami bagi istrinya dan ayah untuk anak-anaknya dan tentu mampu secara finansial juga.

Sebenarnya dengan beraninya seorang laki-laki datang menemui orang tua laki-laki (wali) dari seorang muslimah sudah memperlihatkan tolak ukur kesiapannya untuk menikahi seorang muslimah. Karena hanya “sedikit” laki-laki yang berani terus terang dan menyatakan kesiapannya mengambil tanggung jawab dunia akhirat seorang anak gadis dari ayahnya, inilah laki-laki yang bernyali. Sebab diluar sana hanya berani untuk katakan cinta, ngajak pacaran dan jalan malam mingguan, ketika diajak serius muncullah berbagai alasan.

Kemapanan secara finansial, inilah yang juga penting dijadikan sebagai tolak ukur selanjutnya. Banyak yang tergelincir disini, tak sedikit laki-laki akhirnya mundur teratur tersebab alasan belum siap secara finansial, dan entah berapa banyak juga pernikahan yang tergagalkan hanya gara-gara tidak ada “kesepakatan” finansial dari kedua pihak keluarga. Dan sayangnya, ternyata yang dianggap masalah finansial adalah ketidakmampuan seorang laki-laki untuk membiayai “wah”nya pesta pernikahan.

Padahal Rasulullah SAW menegaskan jauh-jauh hari kepada para wanita dan tentu juga walinya :

“Apabila seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya datang kepada kalian untuk meminang wanita kalian, maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut dengan wanita kalian. Bila kalian tidak melakukannya niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.” [HR. At-Tirmidzi]

Fitnah di muka bumi, itulah sebab jika seorang wanita menolak laki-laki yang baik agamanya datang hendak menikahinya. Dan, memang seperti itu realitanya semakin banyak wanita yang sendiri semakin banyak juga fitnah dimuka bumi. Apalagi jika wanita yang tidak dinikahkan tadi memilih untuk berpacaran atau berbagai aktivitas yang menimbulkan maksiat lainnya.

Siap secara finansial dan mampu secara ekonomi bukan tidak penting, bahkan itu sangat penting. Akan tetapi kita harus memahami kalau parameter seorang laki-laki siap secara finansial untuk menikah bukan dilihat dari seberapa bagus pekerjaannya? tidak juga dilihat dari seberapa besar gaji atau tabungannya ? akan tetapi dapat dilihat dari seberapa besar komitmennya untuk menafkahi keluarganya kelak dengan rezeki yang halal. Ada laki-laki kaya dan banyak uangnya namun jika tidak memiliki komitmen untuk menafkahi istrinya tentu akan tertelantar juga nantinya, namun tak sedikit juga laki-laki yang memiliki penghasilan yang biasa-biasa saja namun disaat ia berkomitmen akan menafkahi keluarganya nanti, apapun cara dan ikhtiarnya akan dilakukannya selama itu halal dan baik.

Sumber foto : diarypernikahan.com

Artikel Menarik Lainnya







comments